Timika, fajarpapua.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Mimika diminta mulai menyusun langkah antisipasi masuknya super flu yang terdeteksi mewabah di Indonesia sejak Agustus 2025.
Influenza A subclade K yang dikenal luas sebagai super flu yang merupakan varian baru influenza disebut lebih agresif, mudah menular, serta menimbulkan gejala yang lebih berat, terutama pada kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan orang dengan penyakit komorbid.
Hingga akhir Desember 2025, Kementerian Kesehatan mencatat sebanyak 62 kasus influenza A subclade K yang tersebar di delapan provinsi di Indonesia. Jumlah kasus terbanyak ditemukan di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat. Sebagian besar kasus terjadi pada perempuan dan kelompok usia anak.
Secara global, peningkatan kasus influenza A (H3N2) mulai terpantau di Amerika Serikat sejak akhir September 2025, seiring masuknya musim dingin. Subclade K pertama kali terdeteksi oleh Center for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat pada Agustus 2025 dan dilaporkan telah menyebar di lebih dari 80 negara.
CDC Amerika Serikat mencatat hingga 20 Desember 2025, sedikitnya 7,5 juta orang terinfeksi influenza. Dari jumlah itu, sekitar 81.000 pasien menjalani perawatan di rumah sakit dan lebih dari 3.100 orang dilaporkan meninggal dunia. Sejumlah negara bagian dengan prevalensi influenza sangat tinggi diantaranya Colorado, Louisiana, New Jersey, New York, dan South Carolina.
Di kawasan Asia, influenza A subclade K terdeteksi di China, Korea Selatan, Jepang, Singapura, dan Thailand sejak Juli 2025. Meski menjadi varian dominan, tren kasus di negara-negara tersebut menunjukkan penurunan dalam dua bulan terakhir.
Di Indonesia, berdasarkan hasil pemeriksaan whole genome sequencing (WGS) hingga akhir Desember 2025, dari 843 spesimen positif influenza, sebanyak 348 sampel diperiksa. Seluruh varian yang terdeteksi merupakan varian yang dikenal dan bersirkulasi secara global, termasuk subclade K.
Dokter spesialis paru RS Persahabatan, Agus Dwi Susanto, meragukan jumlah kasus yang tercatat secara resmi. Ia menilai angka 62 kasus kemungkinan belum mencerminkan kondisi sebenarnya di lapangan.
“Kalau sudah terdeteksi sejak Agustus, mestinya jumlahnya lebih dari itu. Dari ratusan sampel saja sudah ditemukan puluhan kasus. Padahal kasus influenza selama Agustus sampai Desember bisa ribuan,” ujarnya.
Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Tjandra Yoga Aditama, juga menyampaikan pandangan serupa. Ia menilai perlu perluasan surveilans genomik dan pemantauan gejala klinis di fasilitas kesehatan.
“Di negara seperti Thailand, Malaysia, dan Jepang terjadi peningkatan kasus tinggi. Pola global itu semestinya juga terlihat di Indonesia. Surveilans genomik dan surveilans gejala perlu diperluas,” katanya.
Terkait gejala, Agus menjelaskan super flu memiliki tingkat keparahan lebih tinggi dibandingkan flu musiman. Gejala yang perlu diwaspadai diantaranya demam tinggi hingga 39–41 derajat Celcius, nyeri otot hebat, lemas berat, sakit kepala, sakit tenggorokan, dan batuk kering.
“Kalau flu biasa demamnya 37 sampai 38,5 derajat. Subclade K bisa sampai 41 derajat. Keluhannya lebih berat dari flu yang biasa dialami masyarakat,” ujarnya.
Meski demikian, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), risiko kematian akibat influenza A subclade K tidak berbeda signifikan dengan influenza musiman. Risiko kematian tetap lebih tinggi pada kelompok rentan dan pada kasus yang mengalami komplikasi.
Agus menegaskan influenza subclade K pada umumnya dapat disembuhkan. Masyarakat diminta segera berkonsultasi ke tenaga medis jika mengalami gejala berat, cukup istirahat, serta menjaga asupan nutrisi dan cairan. Pada kelompok berisiko dengan penyakit dasar, perawatan di rumah sakit dapat diperlukan untuk mencegah komplikasi.
Untuk pencegahan, vaksin influenza tetap dianjurkan. Tjandra Yoga Aditama menjelaskan vaksin yang tersedia saat ini dikembangkan berdasarkan subvarian H3N2 lama, bukan subclade K. Namun, sejumlah penelitian menunjukkan vaksin tersebut masih memiliki efektivitas mencegah penularan, meski tidak setinggi terhadap H3N2 sebelumnya.
“Efektivitasnya pada anak sekitar 70 persen dan pada orang dewasa sekitar 40 persen. Karena itu yang tersedia, tetap bisa dimanfaatkan,” ujarnya.
Upaya pencegahan lain meliputi menjaga kebersihan lingkungan, rutin mencuci tangan, memakai masker saat berada di keramaian atau kontak dengan orang sakit, serta membatasi aktivitas di luar rumah ketika sedang sakit.
Direktur Penyakit Menular Kementerian Kesehatan, Prima Yosephine, menyampaikan pemantauan terhadap influenza A subclade K terus diperkuat melalui surveilans, pelaporan, dan kesiapsiagaan nasional. Pemantauan dilakukan terhadap penyakit menyerupai influenza dan infeksi saluran pernapasan akut berat di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan.
Juru Bicara Kementerian Kesehatan, Aji Muhawarman, menambahkan Kemenkes memiliki Public Health Emergency Operation Center yang menjalankan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons terhadap penyakit berpotensi wabah. Hasil surveilans dari daerah dilaporkan secara berjenjang dan berkala ke pusat untuk mengantisipasi potensi lonjakan kasus.
Meski penyebarannya cepat dan agresif, para ahli menilai kondisi saat ini belum mengarah pada pandemi, selama tidak terjadi mutasi lanjutan yang mengubah karakter virus secara signifikan.(red)

