BERITA UTAMA

Alumnus UGM Imanuel Gurik Terbitkan Buku Papua dan Tanggung Jawab Negara Awal 2026

210
×

Alumnus UGM Imanuel Gurik Terbitkan Buku Papua dan Tanggung Jawab Negara Awal 2026

Share this article
Buku Papua dan Tanggung Jawab Negara karya Intelektual muda Papua Dr Imanuel Gurik SE M.Ec.Dev yang terbit awal tahun 2026.

Karubaga, fajarpapua.com – Intelektual muda Papua Dr Imanuel Gurik SE M.Ec.Dev menerbitkan buku berjudul Papua dan Tanggung Jawab Negara pada pekan pertama tahun 2026. Buku ini dipersembahkan bagi masyarakat Tanah Papua sebagai sumbangan pemikiran dalam mencermati dinamika sosial kemasyarakatan dan pembangunan di Bumi Cenderawasih.

“Saya mengucap syukur kepada Tuhan, buku ini bisa terbit di awal tahun 2026. Sejak lama saya merencanakan penerbitan karya perdana ini ditengah kesibukan sebagai abdi negara dan pelayan masyarakat di Kabupaten Tolikara, Provinsi Papua Pegunungan,” ujar Imanuel Gurik di Karubaga, Kabupaten Tolikara, Senin (5/1).

iklan

Menurut Imanuel, buku ini lahir bukan sekadar refleksi atas dinamika kehidupan sosial kemasyarakatan dan pembangunan di Tanah Papua. Pemerintah pusat dan daerah bersama masyarakat telah menaruh perhatian terhadap kemajuan Papua melalui kebijakan pro-growth, pro-poor, pro-job, dan pro-environment.

Namun, buku ini juga menjadi upaya membasuh sekaligus menyegarkan memori perjalanan hidup penulis sejak masa kecil di sebuah lembah kecil di pegunungan Papua hingga menempuh pendidikan dasar dan perguruan tinggi. Papua bukan sekadar ruang diskursus pembangunan dengan capaian negara, tetapi juga menyimpan persoalan mendasar yang belum terselesaikan dan perlu terus dibicarakan serta dicarikan jalan keluar.

“Sejak kecil bermukim di kampung halaman di pegunungan Papua, alam bukan hanya menyuguhkan pemandangan mempesona, tetapi sekaligus menjadi sekolah kehidupan,” kata Imanuel, Magister Ekonomi lulusan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Ia mengatakan, topografi alam Papua dengan sungai deras, tanah subur, hutan rimbun, dan udara sejuk menjadi saksi perjalanan hidupnya sebagai anak kampung tanpa alas kaki yang menyimpan mimpi besar untuk kelak menjadi berkat bagi sesama dan daerah. Pendidikan disebutnya sebagai jalan suci bagi generasi muda Papua meraih masa depan gemilang.

“Dari orang tua, keluarga, dan masyarakat saya belajar doa sebagai kekuatan, kebersamaan sebagai nafas hidup, serta kerja keras sebagai jalan bertahan. Semua itu membentuk cara pandang saya terhadap Papua, tanah leluhur, untuk dipahami secara utuh dan diabdi tanpa kenal lelah,” katanya.

Imanuel menilai Papua adalah sebuah paradoks. Alamnya indah dan kaya raya, budaya serta tradisi terawat oleh berbagai suku di kampung-kampung. Namun, dibalik itu tersimpan kisah panjang tentang perjuangan, luka, dan harapan.

“Sejarah Papua bukan hanya catatan politik, tetapi kisah manusia. Injil membawa perubahan, masyarakat bergulat dengan identitas, perjuangan mempertahankan martabat manusia berlangsung, dan negara hadir atau abai dalam mengelola tanggung jawabnya. Inilah alasan penting terbitnya buku ini,” ujar doktor lulusan Universitas Cenderawasih Jayapura itu.

Ia menambahkan, julukan Papua sebagai surga kecil yang jatuh ke bumi bukan ungkapan kosong. Dari Teluk Cenderawasih hingga puncak Jayawijaya, Papua menyimpan kekayaan emas, tembaga, minyak, gas, hutan, laut, serta tanah subur.
“Paradoks itu nyata. Kekayaan melimpah, tetapi banyak warga masih hidup dalam kemiskinan. Potensi pertanian, perkebunan, dan perikanan belum sepenuhnya dikelola untuk kepentingan masyarakat asli. Pertanyaan mendasar terus muncul, apakah negara sungguh menunaikan tanggung jawabnya kepada Papua. Dalam buku ini hal itu diungkap jelas,” katanya.

Imanuel menyampaikan terima kasih kepada Guru Besar Uncen Prof Dr Hasan Basri Umar SE MS yang menulis pengantar buku. Apresiasi juga disampaikan kepada Amiruddin al Rahab Wakil Ketua Komnas HAM RI periode 2020–2022 yang menulis prolog, Dr Don Bosco Doho MM yang menulis epilog, serta Ansel Deri jurnalis Odiyaiwuu.com yang menjadi editor.

“Catatan Bapak Profesor Hasan dan para sahabat menegaskan urusan Papua bukan tanggung jawab satu pihak, melainkan tanggung jawab kita semua,” ujar Imanuel.

Imanuel Gurik lahir di Kanggime, Tolikara, 19 Oktober 1974. Ia menempuh pendidikan SD YPPGI Kanggime hingga 1988, SMP Negeri Karubaga 1991, dan SME Yapis Wamena 1994. Pendidikan S1 diselesaikan di STIE Ottow & Geissler Jayapura tahun 2000, S2 Ekonomi Pembangunan di UGM Yogyakarta lulus 2009, dan S3 Ilmu Ekonomi di Uncen Jayapura tahun 2025.

Sejak mahasiswa, ia aktif berorganisasi dan menduduki sejumlah jabatan, diantaranya Ketua Asrama Wilayah Toli Jayapura, Ketua BPP WAPPOS Papua, Sekjen BPP IPMPT Irian Jaya, serta berbagai posisi di KONI dan partai politik tingkat daerah.

Dalam birokrasi, Imanuel meniti karier sebagai CPNS Pemkab Tolikara sejak 2003. Ia pernah menjabat sejumlah posisi strategis, mulai dari Bappeda, Perindagkop, Dinas Pertambangan dan Energi, DPMPTSP, hingga Kepala Bappeda Tolikara. Sejak 2025, ia menjabat Asisten II Sekretariat Daerah Tolikara. (*)

Response (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *