BERITA UTAMAMIMIKA

HUT ke-87 Injil Masuk Pedalaman Papua, Ribuan Jemaat KINGMI Amungsa Ikuti Ibadah di Mile 32 Mimika

16
×

HUT ke-87 Injil Masuk Pedalaman Papua, Ribuan Jemaat KINGMI Amungsa Ikuti Ibadah di Mile 32 Mimika

Share this article
Suasana Ibadah HUT ke-87 Injil Masuk Pedalaman Papua.

Timika, fajarpapua.com – Gereja Kemah Injil (KINGMI) di Tanah Papua setiap 13 Januari memperingati Hari Pekabaran Injil masuk pedalaman Papua.

Tahun ini, peringatan HUT ke-87 dilaksanakan secara serentak di seluruh wilayah pelayanan KINGMI, termasuk di wilayah Koordinator Amungsa yang dipusatkan di Gereja KINGMI Mile 32 Kabupaten Mimika, Papua Tengah.

Ribuan umat dari sembilan klasis dan jemaat di wilayah Koordinator Amungsa memadati gereja untuk mengikuti ibadah syukur yang dipimpin Pendeta Marthen Mauri.
Ibadah peringatan HUT Injil Masuk Pedalaman Papua ke-87 mengusung tema “Roh Tuhan Yesus Telah Mengurapi Aku” yang diambil dari Injil Lukas 4:18–19, dengan subtema “Injil Hadir Menyelamatkan Umat-Nya ditengah Papua dalam Ketidaknyamanan, Allah Tetap Hadir” berdasarkan Roma 1:16–17.

Pendeta Deteyanus Abugau menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung sehingga ibadah berlangsung dengan baik dan penuh hikmat.

“Melalui peringatan hari ulang tahun Injil ini, umat kembali diingatkan dan didorong untuk terus memberitakan Injil. Kami berharap semangat pekabaran Injil terus hidup dan diwariskan dari generasi ke generasi,” ujar Pdt Deteyanus.

Ia mengatakan, Injil telah diterima oleh para pendahulu dan menjadi tanggung jawab generasi penerus untuk melanjutkan pekabaran Injil, khususnya di wilayah Papua Tengah.
Sementara itu, Pendeta Marthen Mauri yang juga Sekretaris Klasis menyampaikan Pekabaran Injil adalah peringatan akan Injil sebagai kabar baik bagi semua orang.

“Injil adalah kabar baik, dan kabar baik itu harus diwujudkan melalui perdamaian. Jangan ada lagi pertikaian dan pertumpahan darah. Ini pesan Ketua Sinode yang harus dipegang teguh oleh seluruh gereja KINGMI di Tanah Papua,” kata Marthen.

Menurutnya, inti Injil adalah Yesus Kristus sebagai juru selamat dan pendamai, sehingga setiap umat dipanggil untuk meninggalkan kekerasan dan hidup dalam damai.

“Yang harus diberitakan adalah damai. Panah, busur, dan segala bentuk kekerasan harus ditinggalkan. Roh Tuhan yang ada pada kita tidak pernah berkompromi dengan kejahatan,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan hidup manusia hanya sementara, namun segala sesuatu yang dilakukan untuk Tuhan akan kekal.

Pada kesempatan yang sama, Tokoh Masyarakat Lemasa Pendeta Mesakh Bukaleng memberikan pesan khusus kepada para pendeta agar menjaga wibawa dalam pelayanan, termasuk dalam cara berpakaian.

“Kalau berkebun boleh berpakaian biasa, tetapi saat melayani Tuhan, pendeta harus mengenakan pakaian yang pantas dan lengkap,” pesannya.
Mesakh juga mengingatkan masyarakat agar tidak menjual tanah, karena tanah merupakan simbol kehidupan dan masa depan generasi Papua.

“Tanah ini adalah mama. Kita harus menjaga dan memeliharanya agar anak cucu kita kelak masih bisa menikmatinya,” pungkasnya. (moa)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *