BERITA UTAMA

Skrining Kusta Masuk CKG 2026, Mimika Jadi Salah Satu Wilayah Fokus Deteksi Dini

0
×

Skrining Kusta Masuk CKG 2026, Mimika Jadi Salah Satu Wilayah Fokus Deteksi Dini

Share this article
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin (kedua kiri) dalam konferensi pers di Jakarta,

Jakarta, fajarpapua.com – Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, mulai 2026 skrining kusta akan disertakan dalam program Cek Kesehatan Gratis (CKG) sebagai upaya pemerintah mempercepat eliminasi penyakit menular tersebut.

Kabupaten Mimika menjadi salah satu dari 4 wilayah yang mendapat perhatian dalam penguatan deteksi dini kusta, khususnya di Indonesia bagian timur.

iklan

“Kita tinggal ubah sedikit isinya, tadinya belum ada skrining lepra. Sekarang kita masukkan skrining lepra mulai tahun ini,” kata Budi di Jakarta, Kamis (15/1).

Budi menjelaskan, meskipun kusta tergolong penyakit yang sulit menular, pemerintah berkomitmen menemukan penderita sebanyak-banyaknya untuk segera diobati. Saat ini tercatat sekitar 13.000 hingga 15.000 penderita kusta di Indonesia, namun jumlah riil diperkirakan lebih tinggi karena masih banyak kasus yang belum terdeteksi.

Untuk itu, Kementerian Kesehatan mendorong skrining kusta secara masif, termasuk dengan memberikan penghargaan kepada kepala daerah dan puskesmas yang aktif menemukan kasus kusta di wilayahnya.

Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran sekaligus mempercepat penanganan di tingkat layanan kesehatan dasar.

Selain memasukkan skrining kusta dalam CKG, pemerintah juga akan melakukan pemeriksaan PCR khusus bagi penduduk di wilayah Indonesia bagian timur, termasuk Mimika, guna memperkuat cakupan deteksi dini. Pemerintah juga memastikan seluruh pasien kusta mendapatkan pengobatan hingga sembuh, baik dengan masa terapi enam bulan maupun 12 bulan sesuai kondisi medis.

“Nomor tiga, semua kontak eratnya, sekeluarga, kita kasih profilaksis,” ujar Budi.

Ia menegaskan, pemerintah menargetkan eliminasi kusta pada 2030 melalui pendekatan komprehensif yang mencakup deteksi dini, pengobatan tuntas, serta pencegahan penularan di lingkungan keluarga dan komunitas.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Eksekutif The Habibie Center Mohammad Hasan Ansori mengatakan, pihaknya berkolaborasi dengan Kementerian Kesehatan, The Nippon Foundation, dan Sasakawa Health Foundation untuk mengembangkan model intervensi berbasis bukti dalam mendukung deteksi dini kusta dan pengurangan stigma di tingkat komunitas.

“Riset yang kami lakukan dengan tim masih berjalan di empat wilayah, yaitu Probolinggo, Tojo Una-Una, Mimika, dan Lembata. Secara fakta dan data, kusta di Indonesia masih cukup tinggi karena penyakit ini memiliki dua aspek utama, yaitu aspek medis dan aspek sosial,” katanya.

Menurut Ansori, tantangan medis dan sosial tersebut tidak hanya berdampak pada kesehatan individu, tetapi juga mempengaruhi kualitas hidup serta kondisi sosial ekonomi penderita kusta dan keluarganya.
Sementara itu, Ketua Dewan Pembina The Habibie Center Ilham Akbar Habibie mengatakan, Indonesia termasuk tiga negara dengan jumlah kasus kusta tertinggi di dunia, selain India dan Brasil. Kondisi ini menuntut pendekatan yang lebih luas dan berkelanjutan.

“Untuk benar-benar bisa memberantas ini, kita perlu pendekatan yang menyeluruh. Tentu ada kebijakan medis, tapi juga harus ada pendekatan sosial, bahkan pendekatan agama,” katanya.

Dengan masuknya skrining kusta dalam CKG serta fokus pada wilayah seperti Mimika, pemerintah berharap deteksi dini semakin kuat, stigma terhadap penderita berkurang, dan target eliminasi kusta nasional dapat tercapai sesuai rencana.(ant/red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *