Jayapura, fajarpapua.com– Guru SD Kehiran I Sentani Rio Buine menyatakan, minat siswa di sekolah tersebut untuk mengonsumsi program Makanan Bergizi Gratis (MBG) mengalami penurunan.
Ia mengatakan, jumlah siswa SD Kehiran I Sentani sebanyak 400 orang yang seluruhnya merupakan Orang Asli Papua (OAP).
“Minat anak-anak SD Kehiran I untuk makan MBG sempat menurun, salah satunya akibat perbedaan menu makanan dengan kebiasaan lokal masyarakat Papua, serta adanya informasi negatif yang beredar terkait program makanan bergizi,” ujar Rio Buine, Kamis (22/1/2026).
Menurutnya, ketidakpercayaan masyarakat berdampak pada kekhawatiran orang tua hingga melarang anak-anak mengonsumsi makanan tersebut.
“Karena itu kami kolaborasikan kegiatan ini dengan permainan edukatif agar anak-anak lebih tertarik dan tidak takut. Prinsipnya sederhana, sebelum belajar anak-anak harus makan dengan gizi yang baik,” katanya.
Rio mengaku, pelaksanaan program makanan bergizi di Kabupaten Jayapura belum berjalan optimal. Hingga kini, masih belum jelas instansi pelaksana program tersebut, termasuk pengelolaan dapur yang dinilai sering berpindah-pindah.
“Di sekolah kami, program makanan bergizi bahkan terhenti sejak November lalu. Kami belum mengetahui kendalanya apa, sehingga kegiatan ini menjadi pegangan bagi kami dan anak-anak ketika program tersebut kembali berjalan,” ungkapnya.
Sebagai sekolah dengan 100 persen peserta didik OAP, Rio berharap program makanan bergizi ke depan dapat berjalan lebih konsisten dan dikembangkan melalui kegiatan-kegiatan positif di lingkungan sekolah.
“Kami ingin ketika program ini berjalan kembali, anak-anak dan guru sudah siap, dan manfaatnya benar-benar dirasakan,” katanya.
Ia menambahkan, peran siswa sangat penting sebagai agen edukasi dalam penerapan program makanan bergizi di sekolah, tidak hanya sebagai penerima manfaat, tetapi juga sebagai pengarah dan teladan bagi teman-temannya.
Untuk itu, pihak sekolah melibatkan siswa dan guru dalam kegiatan edukasi makanan bergizi di Kabupaten Jayapura.
Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman siswa dan orang tua tentang pentingnya asupan gizi seimbang bagi tumbuh kembang anak.
“Melalui kegiatan ini, kami sebagai guru dan panitia ingin membentuk anak-anak bukan hanya sebagai murid, tetapi juga sebagai pengarah atau ‘kapten’ di sekolah, khususnya dalam hal makanan bergizi,” ujar Rio.
Ia menjelaskan, masih banyak pemahaman keliru dari orang tua maupun siswa terkait makanan bergizi.
Oleh karena itu, guru dilibatkan sebagai fasilitator untuk memberikan edukasi yang tepat mengenai asupan makanan sehat, seperti konsumsi buah-buahan dan makanan bergizi sehari-hari.
“Kami berharap anak-anak bisa menjadi contoh bagi teman-temannya, bahkan di rumah, tentang pentingnya gizi yang baik. Dengan tubuh yang sehat, mereka akan lebih giat belajar,” tuturnya. (hsb)






