Timika, fajarpapua.com – Jauh di pedalaman Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah, berdiri Kampung Doliningogin di lembah Tsinga.
Dikelilingi pegunungan terjal dan jalur setapak yang menantang, kampung ini menyimpan satu kebutuhan mendasar yang hingga kini belum terjawab sepenuhnya, yakni akses layanan kesehatan yang layak.
Keterbatasan layanan medis menjadi persoalan sehari- hari bagi masyarakat Doliningogin. Jarak yang jauh
dari fasilitas kesehatan, ditambah medan berat yang harus dilalui, membuat warga kerap berada dalam situasi sulit, terutama saat menghadapi kondisi darurat.
Dari kampung mereka, perjalanan menuju fasilitas kesehatan terdekat di Kampung Beanegogom bukan perkara mudah. Situasi inilah yang mendorong masyarakat Doliningogin menyuarakan permintaan agar Program Kampung Sehat Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK), pengelola dana kemitraan PT Freeport Indonesia, dapat hadir dan menjangkau wilayah mereka.
Aspirasi tersebut disampaikan langsung kepada tim monitoring dan evaluasi (monev) YPMAK saat melakukan kunjungan monev Program Kampung Sehat di wilayah Beanegogom–Tsinga, Kamis (20/11).
Permintaan penempatan petugas Kampung Sehat bukan tanpa dasar. Untuk memperoleh layanan kesehatan, masyarakat harus berjalan kaki menuju Kampung Beanegogom.
Perjalanan itu menuntut fisik dan mental, melewati tanjakan dan turunan pegunungan, serta menghadapi potensi longsor dan bebatuan besar yang sewaktu-waktu jatuh dari lereng bukit.
Jarak antara Kampung Beanegogom dan Doliningogin bukan sekadar hitungan kilometer. Jarak tersebut mencerminkan keterpisahan masyarakat dari akses pelayanan kesehatan yang memadai, sekaligus menggambarkan risiko yang harus mereka hadapi setiap kali membutuhkan pertolongan medis.
Staf Divisi Monev Kesehatan YPMAK, Frans Korinus Wabiser menuturkan pengalaman selama kunjungan tersebut membuka gambaran nyata kondisi pelayanan kesehatan di Kampung Doliningogin.
“Jaraknya cukup jauh, sehingga pelayanan kesehatan yang didapat warga sangat kurang,” ujarnya.
Di tengah keterbatasan itu, harapan besar disampaikan oleh aparat kampung dan masyarakat setempat.
Mereka meminta Program Kampung Sehat YPMAK dapat menyisir wilayah Doliningogin dan menempatkan tim kesehatan di kampung mereka, agar layanan kesehatan dasar dapat dijangkau dengan
lebih mudah.
Fasilitas penunjang sebenarnya telah tersedia. Sebuah Puskesmas Pembantu (Pustu) berdiri di Kampung Doliningogin, namun hingga kini belum ada petugas kesehatan yang bertugas secara tetap.
Kondisi ini membuat bangunan tersebut belum berfungsi optimal bagi masyarakat. Dalam situasi darurat, keluarga kerap dihadapkan pada pilihan sulit. Mereka harus mempertimbangkan membawa pasien ke Kampung Beanegogom sebagai pusat layanan di lembah Tsinga atau langsung merujuk ke kota.
“Dengan kondisi medan dan jarak yang tidak mudah, keputusan itu kerap menjadi pertaruhan,” tutur Frans.
Soal keamanan yang sering menjadi pertimbangan dalam penempatan tenaga kesehatan juga dijawab langsung oleh masyarakat Doliningogin. Mereka memberikan jaminan penuh terhadap keselamatan petugas yang bertugas di kampung tersebut.
“Masyarakat sangat melindungi keamanan petugas kesehatan,” kata Frans.
Menindaklanjuti aspirasi tersebut, YPMAK berencana menyampaikan laporan dan hasil monev kepada pimpinan serta mitra pelaksana program. Jika mendapat persetujuan, penempatan tim Kampung Sehat di
Kampung Doliningogin berpeluang direalisasikan pada tahun mendatang.
“Dalam pertemuan-pertemuan berikutnya, permintaan ini akan saya usulkan agar petugas Kampung Sehat bisa ditempatkan di Kampung Doli,” tutup Frans. (ots-1)

