Timika, fajarpapua.com– Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 76 Mimika, Papua Tengah, mendapat dukungan fasilitas pembelajaran dari Kementerian Sosial (Kemensos) RI berupa empat unit papan tulis digital layar sentuh (interactive whiteboard) serta 70 unit laptop untuk siswa.
Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 76 Mimika, Ajeng Wulandari, mengatakan bantuan tersebut diberikan untuk menunjang proses belajar mengajar bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
“Empat papan tulis interaktif disesuaikan dengan jumlah ruang belajar yang ada. Sementara 70 unit laptop nantinya akan dibagikan kepada para siswa untuk mendukung pembelajaran. Selain itu, siswa juga mendapatkan seragam dan tas sekolah,” kata Ajeng kepada media, Kamis (22/1).
Meski telah menerima bantuan perangkat teknologi, hingga kini proses pembelajaran di Sekolah Rakyat Terintegrasi 76 Mimika belum sepenuhnya menggunakan laptop karena masih dalam tahap instalasi.
Selain itu, pihak sekolah juga masih menunggu pengiriman mobil operasional dari Jakarta yang akan digunakan untuk menunjang mobilitas siswa dan guru.
Saat ini jumlah siswa yang terdaftar di Sekolah Rakyat Terintegrasi 76 Mimika sebanyak 75 orang.
Mereka terbagi dalam empat rombongan belajar (rombel), terdiri dari dua rombel tingkat SMA dan dua rombel tingkat SMP.
Para siswa yang bersekolah di Sekolah Rakyat Mimika tidak hanya berasal dari orang asli Papua (OAP), tetapi juga dari keluarga non-Papua dengan latar belakang ekonomi kurang mampu.
Sekolah Rakyat Terintegrasi 76 Mimika mulai melaksanakan kegiatan belajar mengajar sejak 10 Oktober 2025 dan diresmikan langsung oleh Bupati Mimika, Johannes Rettob.
Ajeng menyebutkan, sejauh ini proses belajar mengajar berjalan cukup baik. Para siswa mulai menunjukkan perkembangan, terutama dalam kemampuan membaca, menulis, dan berhitung.
“Sudah terlihat ada perubahan, meskipun masih ada beberapa siswa yang membutuhkan bimbingan khusus dari para guru dan pembina,” ujarnya.
Saat ini, Sekolah Rakyat Terintegrasi 76 Mimika didukung oleh tujuh tenaga guru dan lima tenaga pengasuh asrama. Namun jumlah tersebut dinilai masih belum ideal.
“Idealnya dibutuhkan sekitar 15 tenaga guru dan pengasuh. Jumlah wali asuh di asrama juga masih kurang, karena satu wali asuh seharusnya menangani maksimal 10 anak,” jelasnya.
Untuk sementara, kegiatan belajar mengajar masih dilaksanakan dengan menumpang di bangunan Rumah Susun Wisma Atlet, kawasan kompleks olahraga eks PON XX Papua, di ruas Jalan Poros SP2, Kelurahan Timika Jaya.
Ke depan, Sekolah Rakyat Terintegrasi 76 Mimika direncanakan akan dibangun secara permanen di Distrik Iwaka, di atas lahan milik Pemerintah Kabupaten Mimika yang pada era 1990-an pernah digunakan sebagai lokasi Sekolah Berpola Asrama. (an)






