Timika, fajarpapua.com — Angin kencang melanda kawasan Dermaga Pelabuhan Pomako Timika, Kabupaten Mimika, Kamis (22/1) kemarin.
Akibatnya, sejumlah tiang listrik dan tiang lampu jalan patah dan roboh ke badan jalan, sehingga mengganggu aktivitas di sekitar pelabuhan.
Informasi yang diperoleh fajarpapua.com berdasar unggahan akun @hermanbaharsembayzazg menyebutkan angin bertiup sangat kuat sejak pagi hari dan terjadi secara tiba-tiba.
Beberapa warga yang berada di lokasi menyebutkan, kondisi tersebut membuat pengendara harus memperlambat laju kendaraan dan menghindari jalur yang tertutup tiang tumbang.
Peristiwa ini juga menjadi perhatian publik setelah foto kondisi Pelabuhan Pomako beredar luas dan viral di media sosial Facebook.
Warganet meminta agar pihak terkait segera melakukan penanganan guna mencegah risiko kecelakaan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan resmi terkait korban jiwa maupun luka-luka akibat kejadian tersebut.
Aparat dan instansi terkait diharapkan segera melakukan pembersihan serta pengamanan di lokasi terdampak.
Sementara itu sebelumnya Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini cuaca untuk wilayah Papua Tengah, termasuk Kabupaten Mimika, terkait potensi angin kencang yang dapat disertai hujan dan petir.
Menurut BMKG memperingatkan potensi angin kencang dan gelombang tinggi di wilayah Laut Arafura terjadi sejak Rabu, 21 Januari 2026.
Berdasarkan Prakiraan Angin Lapisan 3.000 Feet yang dirilis Kedeputian Bidang Meteorologi BMKG, terpantau adanya bibit siklon tropis di wilayah selatan Indonesia, dekat perairan Australia, yang memicu peningkatan kecepatan angin di perairan selatan Papua, termasuk Laut Arafura.
BMKG mencatat kecepatan angin di Laut Arafura diprakirakan berkisar antara 30 hingga 39 knot atau sekitar 55–72 kilometer per jam.
Kondisi ini berpotensi menimbulkan gelombang laut tinggi serta arus laut kuat yang membahayakan keselamatan pelayaran.
Selain pengaruh bibit siklon di selatan, BMKG juga menjelaskan bahwa pola angin di wilayah tersebut diperkuat oleh dinamika tekanan rendah di kawasan utara Indonesia, sehingga menyebabkan aliran angin semakin kencang melintasi wilayah perairan selatan, termasuk Laut Arafura. (mas)






