Timika, fajarpapua.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mimika, Papua Tengah, mencatat adanya peningkatan kasus campak hingga akhir tahun 2025.
Data tersebut disampaikan Kepala Bidang Pengendalian Penyakit Menular (P2M) Dinkes Mimika, Kamaluddin, pada pekan kemarin.
Kamaluddin menjelaskan, sepanjang tahun 2025 terdapat 92 orang yang dicurigai terjangkit campak. Dari jumlah tersebut, enam orang dinyatakan positif setelah hasil pemeriksaan laboratorium keluar.
“Kasus campak di Mimika kembali meningkat pada tahun 2025, dengan 92 orang yang dicurigai. Dari sejumlah sampel yang dikirimkan ke Surabaya, enam di antaranya dipastikan positif campak,” ujar Kamaluddin.
Ia menyebutkan, jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, kasus campak sempat mengalami penurunan.
Pada tahun 2023, terdapat 356 kasus suspek campak, kemudian menurun pada tahun 2024, namun kembali menunjukkan tren peningkatan di tahun 2025.
Menurut Kamaluddin, sebagian besar penderita campak merupakan bayi dan balita. Hal ini disebabkan karena kelompok usia tersebut masih rentan dan belum mendapatkan imunisasi dasar lengkap.
“Rata-rata penderita adalah bayi dan balita karena masih rentan serta belum imunisasi lengkap dasar sesuai anjuran kesehatan,” jelasnya.
Meski campak umumnya tidak berakibat fatal, Dinkes Mimika menginstruksikan seluruh jajaran layanan kesehatan untuk mempercepat pelaksanaan serta memperluas cakupan imunisasi.
Masyarakat juga diimbau untuk melengkapi imunisasi dasar, seperti BCG untuk mencegah tuberkulosis (TBC) serta DPT guna mencegah difteri, pertusis, dan tetanus. (red)




