Timika, fajarpapua.com – Kabut pagi yang perlahan turun dari punggung bukit Beanegogom– Tsinga selalu menjadi penanda awal aktivitas. Di tanah tinggi yang dinginnya menembus tulang, langkah-langkah kecil tiga tenaga kesehatan dari Yayasan Ekologi Papua (YEP) dimulai dengan kesabaran dan ketekunan.
Setiap hari, mereka hadir bukan sekadar membawa perlengkapan medis, tetapi juga niat untuk membangun harapan akan hidup yang lebih sehat. YEP merupakan mitra dari Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK) dalam pelaksanaan Program Kampung Sehat.
Kehadiran tiga petugas kampung sehat di Beanegogom–Tsinga telah dimulai sejak 5 September 2025. Sejak itu mereka menjadi bagian dari denyut kehidupan masyarakat setempat. Bagi para petugas, memasuki kampung bukan berarti langsung menjalankan agenda kesehatan.
Kepercayaan menjadi fondasi utama yang harus dibangun terlebih dahulu. Hubungan sosial, adat, dan kebiasaan masyarakat menjadi ruang awal yang mereka pahami dengan saksama.
“Kami tidak langsung membuat kegiatan. Kami mulai dengan pertemuan lintas sektor, bertemu tokoh-tokoh kampung untuk sosialisasi,” ujar Koordinator Kampung Sehat Beanegogom, Bernadus Sombuk.
Sosialisasi tersebut memantik beragam respons. Sebagian masyarakat menyambut dengan antusias, sementara sebagian lainnya masih menyimpan keraguan. Situasi ini tidak menyurutkan langkah para petugas. Dengan kesabaran, mereka terus menjelaskan tujuan dan manfaat program, menyadari bahwa penerimaan terhadap pelayanan kesehatan tidak selalu hadir dalam sekali pertemuan.
Di tengah proses membangun kepercayaan itu, tantangan lain muncul. Selama kurang lebih satu bulan, Puskesmas Tsinga tidak memiliki petugas yang aktif bertugas. Kondisi ini membuat pelayanan kesehatan praktis beralih ke posko Kampung Sehat Beanegogom.
Perlahan, aliran warga mulai berdatangan.Tidak hanya dari Kampung Beanegogom, tetapi juga dari Jongko, Minni, Doliningogin, Bebelawak, hingga Akuarama.
Posko Kampung Sehat menjadi ruang harapan baru bagi masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan dasar. “Pelayanan kami lebih ke pengobatan dasar. Banyak warga datang dengan keluhan yang berbeda-beda, dan kami layani seoptimal mungkin,” ungkap Bernadus.
Namun, pelayanan yang diberikan tidak berhenti pada pemberian obat. Para petugas juga menaruh perhatian besar pada kondisi gizi anak-anak, khususnya balita yang mengalami penurunan berat badan.
Program perbaikan gizi dijalankan melalui pemberian makanan tambahan (PMT) secara rutin. Sebanyak lima anak mendapatkan pemantauan khusus dengan pemberi-an makanan tambahan setiap pagi dan sore.
Perlahan, hasil mulai terlihat dan menjadi penyemangat tersendiri bagi para petugas. “Ada perubahan signifikan. Beberapa anak naik berat badannya. Itu membuat kami semakin semangat,” ujarnya.
Selain itu, penguatan kader posyandu menjadi bagian penting dari upaya keberlanjutan program. Pelatihan dilakukan secara fleksibel, menyesuaikan waktu para ibu kader yang sebagian besar harus berkebun setiap hari. Materi pelatihan meliputi pengenalan alat kesehatan seperti timbangan, alat ukur tinggi badan, hingga mekanisme pencatatan.
Hingga kini, pelatihan telah dilakukan sebanyak lima kali. Para kader posyandu mulai menunjukkan kesiapan untuk mengambil peran pelayanan, dengan pendampingan yang terus dilakukan oleh petugas Kampung Sehat.
Meski bekerja di wilayah dengan medan yang tidak mudah, koordinasi tetap dijaga. Para petugas Kampung Sehat terus berhubungan dengan petugas Puskesmas Tsinga, terutama jika terdapat pasien dengan kondisi darurat. Setiap situasi genting segera dilaporkan kepada pimpinan untuk mendapatkan penanganan lanjutan.
Di balik semua proses tersebut, tersimpan kisah tentang kehadiran yang tenang namun bermakna. Kehadiran yang tidak hanya berfokus pada pelaksanaan program, tetapi juga pada mendengarkan, mendampingi, dan menumbuhkan kembali rasa percaya masyarakat terhadap pelayanan kesehatan.
“Pelayanan kesehatan tidak hanya terfokus pada masyarakat di Beane. Tapi dari beberapa kampung juga datang ke posko, seperti dari Kampung Jongko, Minni, Doliningogin, Bebelawak, dan Akuarama. Semua pelayanan kami lakukan dengan senang hati, karena itulah tujuan kami ke sini,” ungkapnya.
Melalui kerja sunyi para petugas Kampung Sehat, perubahan kesehatan di tanah tinggi Tsinga tumbuh perlahan. Seperti kabut yang turun lembut di pegunungan Papua Tengah, harapan akan hidup yang lebih sehat kini mulai menyelimuti kampung-kampung di sekitarnya. (ots-1)

