Timika, fajarpapua.com – Karantina Papua Tengah terus meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi masuknya Hama Penyakit Hewan Karantina (HPHK), termasuk Avian Influenza (AI) dan Newcastle Disease (ND), melalui pengawasan ketat lalu lintas media pembawa asal hewan di wilayah Papua Tengah.
Salah satu langkah konkret dilakukan melalui Pos Pelayanan (Pospel) Karantina Pelabuhan Amamapare, dengan melaksanakan pemeriksaan terhadap daging sapi beku sebanyak 26 ton asal Surabaya yang diangkut menggunakan KM Meratus Waingapu.
Pemeriksaan ini merupakan upaya pencegahan masuknya penyakit hewan berbahaya melalui distribusi antarwilayah.
Petugas karantina melakukan pemeriksaan menyeluruh, meliputi kelengkapan dan keabsahan dokumen karantina, kesesuaian jenis dan jumlah media pembawa, kondisi fisik serta kemasan daging sapi beku.
Selain itu, suhu penyimpanan selama pengangkutan dan asal daerah pengiriman juga diperiksa guna memastikan daging berasal dari wilayah yang aman sesuai ketentuan perkarantinaan.
Kepala Karantina Papua Tengah, Anton Panji Mahendra SPi, MP dalam rilisnya, Jumat (30/1) menegaskan, pengawasan lalu lintas media pembawa merupakan bagian dari komitmen karantina dalam menjaga kesehatan hewan, keamanan pangan, serta melindungi wilayah Papua Tengah dari ancaman penyakit hewan menular strategis.
“Setiap media pembawa yang dilalulintaskan wajib dilaporkan dan diperiksa. Hal ini penting untuk memastikan media pembawa aman, sehat, dan tidak membawa HPHK,” ujarnya.
Selain pengawasan di pelabuhan, Karantina Papua Tengah juga melakukan upaya pencegahan penyakit Avian Influenza dan Newcastle Disease melalui kegiatan monitoring akreditasi laboratorium.
Kegiatan tersebut dilakukan dengan pengambilan sampel darah ayam di peternakan ayam petelur milik Santu Sudi yang berlokasi di SP1, Kabupaten Mimika.
Sebanyak 10 sampel darah ayam diambil oleh petugas karantina hewan dan selanjutnya diuji di Laboratorium Karantina Papua Tengah.
Pengujian dilakukan dengan target penyakit Avian Influenza menggunakan metode HA/HI serta penyakit Newcastle Disease.
Monitoring ini bertujuan memastikan seluruh proses pengambilan, penanganan, dan pengujian sampel dilakukan sesuai standar mutu dan prosedur akreditasi laboratorium.
Dengan laboratorium yang terakreditasi dan berfungsi optimal, potensi penyebaran penyakit hewan menular dapat dideteksi secara dini.
Karantina Papua Tengah berharap upaya ini dapat memberikan perlindungan maksimal bagi peternak, konsumen, serta mendukung keamanan pangan dan keberlanjutan usaha peternakan di Papua Tengah.
Masyarakat dan pelaku usaha juga diimbau untuk selalu mematuhi aturan perkarantinaan dengan melaporkan setiap lalu lintas media pembawa. (mas)
