Boven Digoel, fajarpapua.com – Pasca insiden penembakan pesawat perintis Cessna Grand Caravan PK-SNR milik PT Smart Cakrawala Aviation di Bandara Koroway Batu, Distrik Yaniruma, Kabupaten Boven Digoel, Rabu (11/2), sejumlah guru dan tenaga kesehatan yang bertugas di Distrik Koroway dilaporkan mengungsi ke Tanah Merah.
Keputusan mengungsi diambil menyusul meningkatnya rasa takut dan kekhawatiran atas situasi keamanan di wilayah tersebut, terutama setelah insiden penembakan yang menewaskan dua pilot pesawat tersebut.
Berdasarkan laporan Kementerian Perhubungan yang dirilis sejumlah media nasional, pesawat PK-SNR ditembak sesaat setelah mendarat di Bandara Koroway Batu.
Dalam peristiwa itu, pilot Capt. Egon Erwan dan kopilot Capt. Baskoro meninggal dunia akibat luka tembak.
Sementara itu, 13 penumpang yang terdiri dari 12 orang dewasa dan satu bayi dilaporkan selamat.
Insiden tersebut berdampak langsung terhadap kondisi psikologis warga sipil yang bertugas di wilayah pedalaman, termasuk tenaga pendidik dan petugas kesehatan yang selama ini mengabdi di Distrik Koroway.
Demi keselamatan, para guru dan tenaga kesehatan memutuskan meninggalkan wilayah tersebut dan mengungsi ke Tanah Merah.
Proses pengungsian dilakukan melalui jalur sungai menggunakan perahu longboat.
Untuk menjamin keamanan selama proses keberangkatan, warga Koroway beramai-ramai mengantar para guru dan tenaga kesehatan hingga ke lokasi perahu berlabuh.
Suasana haru mengiringi kepergian para tenaga pelayanan publik tersebut.
Salah satu guru, Emilia Latumahina, melalui unggahan di media sosial Facebook mengungkapkan kesedihannya saat harus meninggalkan tempat tugas.
Ia menyebut keputusan tersebut bukan hal mudah, mengingat kedekatan mereka dengan masyarakat setempat.
“Sedih sekali kalau lihat masyarakat yang baik-baik ini antar sampai pelabuhan. Kami sayang kalian juga, tapi kami juga butuh keamanan. Tuhan Yesus jaga dan lindungi, tiba dengan selamat di Tanah Merah. Tuhan Yesus memberkati perjalanan dan melindungi selalu ya teman-temanku. #RipCaptEgo #RipCapBaskoro,” tulisnya.
Unggahan tersebut menggambarkan kuatnya ikatan antara tenaga guru, tenaga kesehatan dan masyarakat Koroway.
Namun situasi keamanan yang belum kondusif memaksa mereka untuk sementara waktu meninggalkan tugas pelayanan.
Hingga berita ini diturunkan, aparat keamanan dilaporkan telah meningkatkan pengamanan di wilayah tersebut.
Pemerintah pusat melalui Kementerian Perhubungan bersama aparat TNI-Polri terus melakukan koordinasi untuk penanganan lebih lanjut pasca penembakan pesawat perintis tersebut.
Peristiwa ini kembali menyoroti pentingnya jaminan keamanan bagi penerbangan perintis serta keselamatan tenaga sipil yang bertugas di wilayah pedalaman Papua.
Sementara itu, dengan peristiwa ini aktivitas pelayanan pendidikan dan kesehatan di Distrik Koroway untuk sementara terancam terganggu akibat pengungsian tenaga pengajar dan medis. (mas)








Komentar (0)