Jayapura, fajarpapua.com- Satuan Tugas Operasi Damai Cartenz (ODC) 2026 punya misi khusus yang berfokus pada penegakan hukum terhadap Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di 10 kabupaten di Tanah Papua. Tugas itu mereka laksanakan dengan melaksanakan patroli humanis.
Patroli humanis itu dilakukan untuk lebih mendekatkan personel ODC kepada masyarakat di Papua yang wilayahnya masih sering diganggu oleh KKB. Pendekatan humanis itu dimaksudkan agar personel ODC cepat akrab dengan masyarakat setempat. Pendekatan humanis mereka diharapkan membuat masyarakat di sana merasa aman dengan keberadaan aparat.
Satgas ODC mulai beroperasi pada tahun 2022 menggantikan Satgas Newangkawi. Satgas ODC-2026 yang beranggotakan personel Polri itu saat berpatroli lebih banyak dengan berjalan kaki menyusuri wilayah tugasnya, termasuk di Distrik Sinak, Kabupaten Puncak, Provinsi Papua Tengah.
Distrik Sinak memang termasuk dalam kategori distrik yang rawan gangguan KKB, merupakan satu dari 25 distrik yang ada di Kabupaten Puncak. Sinak berpenduduk sebanyak 5.207 jiwa. Daerah itu hanya dapat dijangkau dengan berjalan kaki dari kampung ke kampung, atau naik sepeda motor serta pesawat berbadan kecil, sejenis Cessna atau PAC.
Selama tahun 2025, di Distrik Sinak terjadi berbagai kasus kontak senjata antara TNI-Polri dan KKB. Tidak jarang pula terjadi penyerangan dan penembakan yang dilakukan KKB ke warga.
Kekompok Kriminal Bersenjata pimpinan Kalenak Murib dan Tenius Kulua, pada 3 Februari 2025, membakar kantor kampung dan bangunan SD Negeri di Kampung Kelemame dan Kampung Pasir Putih. Pada 2 Mei 2025 terjadi kontak tembak antara aparat keamanan dan KKB pimpinan Kelagak Telenggen. Hal itu terjadi di Kampung Tagalame, Distrik Sinak Barat, hingga menyebabkan seorang anggota aparat terluka.
Kejadian lainnya yakni kontak tembak tanggal 25 Juni 2025 antara TNI dan KKB hingga mengakibatkan seorang anggota KKB, Wendanus Murib, tewas.
Karena berada di daerah rawan gangguan KKB seperti itu, maka personel Satgas Operasi Damai Cartenz tetap membawa senjata api lengkap saat berpatroli. Itu merupakan langkah penuh kewaspadaan agar tetap bisa bereaksi dengan tepat ketika terjadi gangguan atau serangan bersenjata.
Maka, ketika mereka menyapa warga yang ditemui di sepanjang rute patroli, anggota ODC dalam keadaan bersenjata.
Menurut Kaops Damai Cartenz-2026 Brigjen Pol Faizal Rahmadani, saat bertemu warga, personel ODC tidak sungkan-sungkan menyapa dan berjabat tangan ala masyarakat pegunungan, yakni dengan saling mengaitkan jari dan secara bersama-sama menariknya sehingga berbunyi dan saling menyapa “wa …wa..waaa”. Tapi itu semua tentu saja dilakukan dengan tidak menurunkan tingkat kewaspadaan.
Pola patroli humanis memang diterapkan dengan intensif agar masyarakat tidak merasa takut saat bertemu dengan personel ODC yang ketika berpatroli selalu dalam keadaan bersenjata lengkap. Mereka selalu berupaya agar masyarakat percaya bahwa keberadaan patroli itu untuk mengamankan wilayah dari gangguan KKB.
Tentu saja anggota yang berpatroli itu bukan sekadar menyapa dan berbicara dengan warga desa yang mereka temui. Mereka juga dibekali dengan obat-obatan ringan yang bisa diberikan kepada warga yang membutuhkan. Mereka secara khusus juga mampir ke rumah warga yang sakit. Jika ada luka kecil atau sekadar batuk pilek yang dialami warga, anggota patroli segera menanganinya.
Saat berada di tengah masyarakat, anggota juga menggunakan kesempatan untuk memberikan imbauan tentang menjaga kesehatan dan keamanan di sekitar tempat tinggalnya.
Sedangkan bila ada warga yang sakitnya agak berat, misalnya sudah beberapa hari badannya panas, anggota patrol akan menyarankan dan meminta bantuan anggota polsek dan tokoh masyarakat serta keluarga untuk membawanya ke puskesmas.
Orang yang sakit di daerah itu sangat membutuhkan bantuan untuk ke puskesmas yang jaraknya jauh. Biasanya pasien dibawa dengan tandu karena tidak ada kendaraan di sana.





Komentar (0)