Jayapura, Fajarpapua.com- Tanah Papua bukan sekadar wilayah geografis di timur Indonesia, melainkan hamparan megah yang menyimpan ribuan jejak peradaban dari ratusan suku bangsa yang masing-masing mengaitkan kehidupan mereka pada bahasa, seni, dan ritual tersendiri.
Ada sekitar 250 suku yang tersebar di enam provinsi di Papua dengan keanekaragaman budaya, baik itu dalam bentuk tarian, musik, maupun kerajinan tangan.
Di tengah derasnya arus modernisasi dan digitalisasi yang mengikis identitas lokal, tantangan untuk merawat warisan nenek moyang di tanah Papua itu kian nyata.
Perawatan warisan itu, antara lain, dilakukan melalui festival budaya. Kegiatan yang menjadi agenda pariwisata tahunan itu diharapkan menjadi ruang hidup, arena edukasi, sekaligus panggung penegasan identitas masyarakat adat Papua.
Dari berbagai festival budaya yang pernah dilaksanakan, ada empat festival yang saat ini secara rutin masih dilaksanakan yakni, Festival Budaya Lembah Baliem di Jayawijaya, Festival Asmat Pokman di Asmat, dan Festival Danau Sentani di Kabupaten Jayapura, serta Festival Budaya Biak Munara Wampasi di Kabupaten Biak Numfor.
Setiap acara itu punya karakter yang berbeda karena tumbuh dari lingkungan sosial dan kebudayaan masyarakat setempat.
Festival Budaya Lembah Baliem yang dilaksanakan di Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan, merupakan kegiatan yang paling lama dan dikenal luas dari Tanah Papua. Kegiatan itu diselenggarakan pertama kali tahun 1989 dan kemudian berkembang menjadi agenda tahunan yang menampilkan kekayaan budaya masyarakat di Lembah Baliem.
Berbagai atraksi ditampilkan dalam Festival Lembah Baliem, seperti tarian tradisional, permainan tradisional, karapan babi, hingga bakar batu.
Penyelenggaraan yang rutin dilaksanakan setiap bulan Agustus itu digelar oleh Pemda Jayawijaya melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata yang menggandeng masyarakat, tokoh adat, pelaku seni, UMKM dan berbagai pihak lainnya.
Pada pelaksanaannya awal Agustus 2026 tercatat ada 270 wisatawan mancanegara datang untuk menyaksikan festival itu.
Festival Asmat Pokman, yang digelar setiap Oktober, memiliki karakter yang khas karena dilaksanakan melalui kerja sama Keuskupan Agats dan Pemerintah Kabupaten Asmat.
Kerja sama tersebut menunjukkan bahwa festival berkembang dari hubungan panjang antara komunitas lokal, lembaga keagamaan, dan pemerintah dalam menjaga serta mempromosikan kebudayaan Asmat.
Selama festival, pengunjung dapat menyaksikan proses mengukir, melihat karya seni, menikmati kuliner lokal dan menyaksikan parade perahu.
Perubahan nama menjadi Festival Asmat Pokman yang terjadi pada 2019 itu memiliki makna yang berkaitan dengan karya tangan, karena festival tersebut menjadi ruang bagi masyarakat Asmat untuk mengekspresikan karya, budaya dan identitas mereka.
Seni ukir menjadi salah satu daya tarik utama, tetapi kegiatan festival lainnya juga dilakukan seperti anyaman, tari, lagu, ritual, kuliner lokal, pangkur sagu, hingga parade perahu.
Kegiatan budaya lainnya ialah Festival Danau Sentani, yang mengambil nama dari tempat acara itu berlangsung. Festival itu menjadikan Danau Sentani dan kebudayaan masyarakat di sekitarnya sebagai panggung utama.
Festival yang telah berlangsung sejak awal 2000-an itu menjadi program Pemerintah Kabupaten Jayapura.
Pemerintah Kabupaten Jayapura menyebut tujuan Festival Danau Sentani antara lain mempromosikan pariwisata, keindahan alam dan keragaman budaya sekaligus melestarikan kearifan lokal yang dalam penyelenggaraannya melibatkan seluruh komponen masyarakat.
Sedangkan Festival Budaya Biak Munara Wampasi yang dilaksanakan setiap Oktober sejak tahun 2012 memiliki atraksi budaya andalan Snap Mor dan Apen Beyeren yang merupakan dua tradisi adat sakral dari Suku Biak.
Snap Mor merupakan tradisi menangkap ikan secara bersama-sama di perairan dangkal atau karang saat air laut surut, yang disebut musim meti.
Pada acara itu, masyarakat turun ke laut membawa jaring, tombak, atau alat penusuk ikan tradisional khas Biak yang disebut kalawai untuk menangkap ikan di area tumpukan batu karang (mor).
Atraksi lainnya, Apen Beyeren atau tradisi menginjak batu panas merupakan ritual sakral berupa atraksi berjalan tanpa alas kaki di tumpukan batu yang dibakar hingga membara dengan suhu mencapai sekitar 360 derajat celsius.
Atraksi itu hanya dapat dilakukan oleh pria pilihan yang berhati bersih dan telah menjalani ritual puasa serta dikuatkan doa-doa oleh tetua adat yang dapat melakukannya.
Ajang pelestarian
Menurut Guru Besar Bidang Ilmu Antropologi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Cenderawasih Profesor Dr Fredrik Sokoy, kegiatan budaya rutin yang digelar sejumlah daerah itu di Papua itu, selain memperkenalkan budaya khas mereka kepada dunia, juga menjadi ajang untuk melestarikannya.
Sebagai contoh Festival Danau Sentani yang membawa ritme perayaan yang bersumber dari kehidupan pesisir dan air dengan diiringi tarian Isosolo, tarian di perahu yang dilakukan ratusan penari dari berbagai suku di sekitar Danau Sentani.
Festival itu, kata Fredrik Sokoy, merayakan keharmonisan manusia dengan alam perairan, dan juga menampilkan lukisan kulit kayu khas Asei, ukiran kayu Sentani, dan alunan alat musik tifa yang membuktikan tingginya nilai kebudayaan suku-suku pesisir Papua.
Menurut dia, pelaksanaan festival budaya yang juga mengikutsertakan anak-anak muda dapat menjadi sarana generasi mempelajari kembali bahasa daerah, tata cara menari, hingga makna simbolis dari busana serta perlengkapan adat milik suku mereka sendiri.
Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa, saat membukan Festival Lembah Baliem, awal Agustus, menegaskan pentingnya menempatkan masyarakat adat sebagai subjek utama dalam pengembangan pariwisata berbasis kebudayaan karena festival budaya seperti Festival Lembah Baliem dan Danau Sentani bukan sekadar agenda promosi pariwisata tahunan, melainkan instrumen investasi kebudayaan yang sekaligus melestarikannya.
Menurut dia, pariwisata berkelanjutan di Tanah Papua harus bertumpu pada pelestarian adat dan lingkungan.
Tingginya konsistensi masyarakat Papua dalam merawat warisan budayanya melalui ajang festival perlu diapresiasi, kata Ni Luh Puspa, apalagi menempatkan kebudayaan lokal sebagai subjek utama, bukan sekadar komoditas hiburan.
Kementerian Pariwisata berkomitmen untuk terus mendukung promosi, pembinaan, serta pengembangan festival-festival di Papua agar dapat diselenggarakan dengan standar internasional tanpa mengorbankan kesakralan dan keaslian nilai-nilai adatnya.
Gubernur Papua Mathius Fakhiri menegaskan, festival kebudayaan merupakan instrumen strategis dalam menjaga stabilitas sosial sekaligus membangun jati diri Papua yang kokoh.
Pembangunan infrastruktur dan ekonomi fisik harus berjalan seiring dengan penguatan karakter berbasis nilai-nilai lokal, karena itu festival budaya menjadi cermin kebanggaan masyarakat Papua.
Di sinilah generasi muda belajar bahwa adat dan tradisi bukanlah masa lalu yang tertinggal, melainkan fondasi utama untuk melangkah ke masa depan.














