Lewati ke konten utama

Delapan Warga Diamankan Usai Bentrokan Fanamo-Omawita, Sita Busur dan Tombak

Redaksi Fajar PapuaPenulis
18.59 WIT2 menit baca264 dibaca
Kedelapan warga yang diamankan polisi usai bentrokan Fanamo-Omawita.
Kedelapan warga yang diamankan polisi usai bentrokan Fanamo-Omawita.Foto / Mimika
Bagikan berita ini
Aa

Timika, fajarpapua.com – Polisi mengamankan delapan warga setelah terjadi bentrokan antara warga Kampung Fanamo dan Kampung Omawita, Distrik Mimika Timur Jauh, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, Minggu (4/10/2026).

Kapolsek Mimika Timur Iptu Alex Soumilena mengatakan, kedelapan warga tersebut saat ini masih menjalani pemeriksaan di Polsek Mimika Timur.

“Kedelapan orang tersebut sudah kami amankan di Polsek Mimika Timur dan sedang dalam pemeriksaan,” kata Alex saat dikonfirmasi, Selasa (6/10/2026).

Selain mengamankan warga, polisi telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan mengamankan sejumlah barang bukti yang diduga digunakan dalam bentrokan, diantaranya busur panah, tombak dan pecahan kaca.

Polisi juga menemukan pagar SMP Negeri Omauga dalam kondisi rusak. Pagar tersebut tidak dibawa karena ukurannya cukup berat, namun telah didokumentasikan sebagai bagian dari penanganan perkara.

Alex menjelaskan, persoalan bermula dari keberadaan SMP Negeri Omauga yang secara geografis berada di wilayah Kampung Omawita. Kondisi itu kemudian memunculkan anggapan sebagian warga bahwa sekolah tersebut merupakan bagian dari kampung mereka.

Padahal, sekolah tersebut digunakan bersama oleh anak-anak dari Kampung Omawita dan Kampung Fanamo.

“Sekolah itu berdirinya di Kampung Omawita jadi masyarakat sekitar menganggap sekolah itu milik mereka. Padahal anak-anak dari kedua kampung sekolah di situ,” ujarnya.

Persoalan kemudian berkembang menjadi saling ejek hingga memicu ketegangan. Perselisihan yang awalnya terjadi antarkelompok orang tua itu kemudian melebar dan melibatkan warga dari kedua kampung.

“Jadi awalnya itu ribut antar orang tua sampai kemudian melibatkan warga kampung setempat, baik dari Omawita maupun Fanamo,” terangnya.

Pasca-bentrokan, situasi tersebut turut berdampak terhadap pelayanan pendidikan dan kesehatan di wilayah tersebut. Untuk sementara, guru dan tenaga kesehatan yang bertugas memilih kembali ke Timika.

“Untuk sekarang tidak ada guru dan tenaga kesehatan di kampung. Mereka semua sudah kembali ke Timika,” kata Alex.

Polisi saat ini mengedepankan pendekatan persuasif untuk mencegah konflik kembali meluas. Kepala kampung dari kedua pihak juga telah dilibatkan dalam upaya mencari penyelesaian.

“Kami membawa kedua kepala kampung ke sini agar bersama-sama sepakat, apakah diselesaikan secara kekeluargaan atau restorative justice (RJ) atau dilanjutkan proses hukum. Namun kalau memang ada jalan keluar dari kepala sekolah, maka kami kerjakan,” katanya.

Meski polisi masih membuka ruang penyelesaian secara kekeluargaan maupun melalui mekanisme restorative justice, laporan polisi terkait kejadian tersebut telah dibuat dan proses penanganan perkara tetap berjalan.

(ron)