Lewati ke konten utama

Konser Kerukunan Gaungkan Pesan Damai, FKUB Ajak Warga Mimika Rawat Keberagaman

Redaksi Fajar PapuaPenulis
22.29 WIT5 menit baca174 dibaca
Suasana Simfoni Kita Konser Kerukunan yang digelar Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Mimika di Gedung Tongkonan, Timika, Jumat (16/10/2026). Kegiatan ini menjadi ajang mempererat persaudaraan dan menggaungkan pesan perdamaian dalam keberagaman masyarakat Mimika.
Suasana Simfoni Kita Konser Kerukunan yang digelar Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Mimika di Gedung Tongkonan, Timika, Jumat (16/10/2026). Kegiatan ini menjadi ajang mempererat persaudaraan dan menggaungkan pesan perdamaian dalam keberagaman masyarakat Mimika.Foto / Mimika
Bagikan berita ini
Aa

Timika, fajarpapua.com – Pesan persatuan dan perdamaian menggema melalui panggung seni dalam kegiatan Simfoni Konser Kerukunan yang digelar Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Mimika di Gedung Tongkonan, Timika, Jumat (16/10/2026).

Mengusung tema “Harmoni Mimika Simfoni Kita, Merayakan Karya”, kegiatan ini menjadi ajakan bagi masyarakat untuk menjadikan perbedaan sebagai kekuatan dalam membangun kehidupan yang aman, damai, dan harmonis. Konser tersebut juga menjadi bagian dari persiapan menyambut Konferensi Nasional Kota Toleran II Tahun 2026 di Kabupaten Mimika, Papua Tengah.

Kegiatan yang dirangkaikan dengan penutupan Minisoccer Kerukunan FKUB Cup 2026 ini mempertemukan unsur pemerintah daerah, kepolisian, tokoh agama, tokoh masyarakat, pemuda, serta kelompok seni dalam suasana kebersamaan.

Ketua FKUB Mimika, Dr. Jeffrey C. Hutagalung menyatakan, kerukunan bukan sekadar wacana atau kegiatan seremonial, melainkan nilai yang harus diwujudkan melalui sikap saling menghormati dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, keberagaman agama, suku, budaya, dan latar belakang sosial yang dimiliki masyarakat Mimika merupakan kekuatan yang harus dirawat bersama.

“FKUB tidak sedang menjual toleransi, karena nilai toleransi tidak dapat dihitung dengan angka. Nilai-nilai persaudaraan dan kerukunan telah hidup di tanah ini sejak dahulu. Karena itu, menjadi tanggung jawab kita bersama untuk menjaga, merawat, dan memupuk persaudaraan melalui karya nyata dan semangat kebersamaan,” ujarnya.

Jeffrey menjelaskan, kegiatan olahraga dan seni menjadi sarana mempertemukan masyarakat tanpa dibatasi perbedaan latar belakang. Melalui interaksi tersebut, komunikasi dapat terjalin lebih baik dan rasa saling percaya semakin kuat.

Ia berharap semangat kerukunan tidak hanya terlihat saat turnamen atau konser berlangsung, tetapi juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk ketika menghadapi perbedaan pendapat dan persoalan sosial.

Menjelang Konferensi Nasional Kota Toleran II Tahun 2026, Jeffrey mengajak seluruh masyarakat memperkuat komitmen untuk menjaga Mimika sebagai rumah bersama bagi semua warga.

#Keamanan dan Peran Masyarakat

Dari sisi keamanan, Wakapolres Mimika, Kompol Jaihot Limbong, mengingatkan bahwa situasi yang aman dan kondusif membutuhkan keterlibatan seluruh lapisan masyarakat, bukan hanya aparat kepolisian.

Ia menilai tokoh agama, tokoh adat, tokoh pemuda, pihak sekolah, dan orang tua memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang aman, terutama bagi anak-anak dan remaja.

“Keamanan tidak bisa sepenuhnya dijaga oleh kepolisian saja. Kami membutuhkan dukungan masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, dan seluruh elemen masyarakat,” katanya.

Menurut Jaihot, kegiatan olahraga dan seni patut didukung karena dapat menjadi sarana membangun persahabatan sekaligus mengarahkan generasi muda pada aktivitas yang positif.

Ia juga menyoroti sejumlah persoalan sosial yang membutuhkan perhatian bersama, mulai dari penyalahgunaan lem aibon hingga tawuran antarpelajar. Pembinaan sejak dini dan pengawasan keluarga dinilai penting untuk mencegah anak-anak terjerumus dalam perilaku yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Selain itu, Jaihot mengingatkan masyarakat agar lebih bijak menggunakan media sosial. Unggahan atau komentar bernada provokasi berpotensi memperkeruh keadaan dan memicu perselisihan apabila tidak disikapi dengan baik.

“Sekarang, untuk memprovokasi suatu kelompok atau wilayah, seseorang tidak perlu melakukan banyak hal. Cukup dengan satu kalimat atau status di media sosial, persoalan bisa berkembang menjadi konflik,” jelasnya.

Karena itu, ia mengajak masyarakat tidak mudah terpancing informasi yang berpotensi memecah belah persaudaraan.

Jaihot juga mendorong orang tua memberikan pendampingan kepada anak-anak, termasuk dalam aktivitas sehari-hari dan lingkungan pergaulan. Kegiatan olahraga, seni, dan kreativitas diharapkan semakin diperbanyak sebagai ruang bagi generasi muda untuk mengembangkan bakat sekaligus membangun hubungan yang positif.

#Pemkab Mimika: Perbedaan Harus Menjadi Kekuatan

Komitmen menjaga kerukunan turut disampaikan Bupati Mimika, Johannes Rettob, melalui sambutan yang dibacakan Staf Ahli Bupati Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia, Fransiskus Bokeyau.

Dalam sambutannya, Bupati menegaskan bahwa keberagaman yang dimiliki Mimika harus menjadi modal untuk mempererat persaudaraan. Toleransi tidak cukup diwujudkan melalui slogan, tetapi harus tercermin dalam perilaku masyarakat sehari-hari.

“Mimika merupakan rumah bersama yang harus kita jaga agar tetap aman, damai, dan harmonis. Kerukunan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah ataupun FKUB, tetapi merupakan tanggung jawab kita semua,” demikian pesan Bupati.

Ia mengajak masyarakat menghormati kebebasan setiap warga dalam menjalankan ibadah serta memberikan ruang bagi setiap kelompok untuk mempertahankan dan mengembangkan tradisi budayanya.

Generasi muda juga dinilai memiliki peran penting dalam menjaga masa depan kerukunan di Mimika. Anak-anak muda diharapkan menjadi pelopor perdamaian melalui kegiatan positif di bidang olahraga, seni, budaya, dan karya kreatif.

Menurut Bupati, seni dan musik dapat menyampaikan pesan persatuan dengan cara yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Melalui kegiatan bersama, keberagaman dapat dirayakan tanpa harus menghilangkan identitas masing-masing.

Terkait pelaksanaan Minisoccer Kerukunan FKUB Cup 2026, pemerintah daerah menyampaikan apresiasi kepada para peserta, pelatih, panitia, dan seluruh pihak yang telah mendukung turnamen tersebut.

Bupati mengingatkan bahwa keberhasilan kompetisi tidak semata-mata ditentukan oleh hasil akhir pertandingan. Sportivitas, persahabatan, dan komunikasi yang terbangun di antara peserta juga merupakan bagian penting dari tujuan kegiatan.

Ia berharap FKUB terus memperkuat perannya sebagai mitra pemerintah daerah dalam membangun dialog lintas agama, mempererat hubungan antarkelompok masyarakat, serta mencegah potensi konflik sosial.

“Pembangunan tidak hanya diukur dari kemajuan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari kuatnya persaudaraan masyarakat, tingginya toleransi, dan besarnya kepedulian terhadap sesama,” ujarnya.

Pemerintah Kabupaten Mimika, lanjutnya, berkomitmen mendukung penguatan persatuan, pengembangan potensi generasi muda, serta pembangunan daerah yang berlandaskan kebersamaan dan gotong royong.

#Panggung Seni Rayakan Keberagaman

Pesan kerukunan dalam kegiatan tersebut disampaikan melalui beragam ekspresi seni. Sejumlah kelompok musik, yakni Pengamen Elite, Qwertys, Papua Tone, dan Fomika Band, tampil memeriahkan konser. Acara juga dimeriahkan pertunjukan Tari Cyclop yang menambah warna dalam perayaan keberagaman tersebut.

Panggung konser menjadi ruang bagi para pelaku seni untuk menyampaikan pesan bahwa perbedaan latar belakang bukan penghalang bagi masyarakat untuk berkarya dan membangun hubungan yang harmonis.

Pada kesempatan yang sama, panitia menyerahkan hadiah kepada para pemenang Minisoccer Kerukunan FKUB Cup 2026 sebagai bentuk penghargaan atas partisipasi dan sportivitas selama turnamen berlangsung.

Rangkaian kegiatan ini menegaskan bahwa upaya merawat toleransi dapat dilakukan melalui berbagai cara, mulai dari dialog antarumat beragama, aktivitas olahraga, pertunjukan seni, hingga keterlibatan generasi muda dalam kegiatan kemasyarakatan.

Menyongsong Konferensi Nasional Kota Toleran II Tahun 2026, FKUB Mimika berharap semangat “Simfoni Kita” tidak berhenti setelah panggung ditutup. Semangat tersebut diharapkan tumbuh menjadi komitmen bersama untuk menghormati perbedaan, memperkuat persaudaraan, dan menjaga kedamaian di Kabupaten Mimika. (ron)