Timika, fajarpapua.com – Ketegangan di wilayah Kapiraya, Papua Tengah kembali memuncak setelah terjadi aksi saling serang dan pembakaran sejumlah fasilitas serta belasan unit rumah warga beberapa waktu lalu.
Akibat konflik tersebut, aparat keamanan terus disiagakan untuk mencegah terjadinya bentrokan susulan antar kelompok masyarakat di Kapiraya.
Ditengah berbagai spekulasi yang berkembang, termasuk dugaan adanya kepentingan oknum tertentu, Tokoh Masyarakat Antonius Kemong angkat bicara. Ia menyebut konflik yang terjadi murni merupakan persoalan antar masyarakat terkait tapal batas wilayah.
Menurutnya, konflik Kapiraya bukan baru pertama kali terjadi. Persoalan perbatasan antara Kabupaten Mimika dan Kabupaten Deiyai sudah berlangsung sejak lama dan kerap memicu ketegangan.
“Jadi yang Kapiraya ini dia ribut karena di situ ada emas baru ada hasil bumi yang seperti itu makanya cepat, masyarakat mulai masuk,” ujarnya, Senin (16/2).
Ia menjelaskan, potensi sumber daya alam di wilayah tersebut, diantaranya kandungan emas dan hasil bumi lainnya, turut menjadi pemicu masuknya masyarakat sehingga memperkeruh situasi.
Terkait isu yang menyebut adanya intervensi bupati dalam konflik tersebut, Antonius membantah tegas.
“Jadi kalau orang bilang ada intervensi bupati di belakang semua itu, itu tidak benar, itu konflik kan sudah lama. Sebelumnya juga sudah sering konflik,” tuturnya.
Ia meminta pihak-pihak yang menyebarkan informasi tidak benar agar menghentikan spekulasi yang dapat memperkeruh keadaan.
Selain itu, ia menyampaikan Pemerintah Provinsi Papua Tengah telah memfasilitasi kedua kabupaten untuk melaksanakan rapat secara daring sebagai upaya penyelesaian konflik tapal batas di Kapiraya.(red)








Komentar (0)