BERITA UTAMAEDITORIALMIMIKA

Freeport Mengingatkan yang Lupa – Yulius Uwe, Legenda Atlit Dasa Lomba asal Papua, “Superman dari Belukar” yang Kini Kembali Asah Taring

cropped cnthijau.png
18
×

Freeport Mengingatkan yang Lupa – Yulius Uwe, Legenda Atlit Dasa Lomba asal Papua, “Superman dari Belukar” yang Kini Kembali Asah Taring

Share this article
Yulius Uwe yang kini diberdayakan PT Freeport Indonesia untuk mengasah kemampuan atletik anak-anak Papua.
Yulius Uwe yang kini diberdayakan PT Freeport Indonesia untuk mengasah kemampuan atletik anak-anak Papua.

Majalah Tempo Edisi 26 September 1987 menulis ” “SUPERMAN Indonesia!. Superman Indonesia!” Kata-kata itu ramai diteriakkan penonton Stadion Madya, Senayan, Sabtu lalu. Di pinggir track tartan arena atletik itu, Julius Uwe – sang superman – sedang dikerumuni puluhan wartawan berbagai negara. Manusia super bertelanjang dada, tubuh hitam legam seberat 85 kg dan tinggi 178 cm ini segera melakukan berbagai pose seperti atlet binaraga, memamerkan ototnya. Sore itu, ia merenggut emas,”.

Begitulah Yulius mencatatkan prestasi dalam sejarah olahraga bangsa Indonesia. Puncaknya, dia dipercayakan membawa obor pada pembukaan Sea Games XIV di Senayan, Jakarta, 1987.

Ads

Meskipun sudah mengharumkan nama Indonesia dimata dunia, namun sejak pensiun tahun 1993 Yulius dilupakan. “Atlit itu dipuja selama masih berjaya tapi akan diupakan setelah masa kejayaannya berakhir” begitulah Yulius mengungkapkan pengalaman hidupnya kepada fajarpapua.com di
Mimika Sport Center, awal pekan ini.

Lahir di Kokonao Mimika tanggal 28 Januari 1965, Yulius kecil sudah merasakan kekuatan ‘super’ tumbuh dalam dirinya.

“Sebenarnya saya tidak menyangka menjadi seorang atlit, tidak ada niat kesitu tapi dengan sendirinya, mungkin karena kebiasaan setiap hari bermain di pasir di lumpur akhirnya dengan seendirinya menguatkan otot saya,” ujarnya.

Pertamakali Yulius melihat mantan atlit yang muncul pada saat SD SMP SGO bagian Olahraga di Jayapura. “Saya melihat senior-senior berlatih saya ingin sekali jadi seorang atlit, disitulah saya mulai coba lempar lembing dan lompat jauh,” katanya.

Bakat Yulius semakin nampak saat kelas I SGO Jayapura, ia ikut bermain voli dan sepak bola. “Mungkin dari pelatih melihat saya punya kekuatan potensi atlit akhirnya ketika kelas dua saya mulai focus dan akhirnya saya sempat mengikuti tes lompat jangkit berangkat ke Solo tahun 1983 saat peresmian stadion Sriwidari,” tukasnya.

Kembali dari Solo, Yulius mulai focus berlatih dasa lomba. Meskipun pada perlombaan lompat jangkit di Solo ia meraih juara 4 namun tidak masuk dasa lomba, karena dasa lomba hanya lompat jauh.

Tahun 1984, Yulius benar-benar fokus latihan dasa lomba. Pada tahun yang sama ia mengikuti kejuaraan junior atlit rekor dasa lomba di Jakarta pada moment kejurnas junior.

“Waktu itu rekor pecah, saya kembali terus ditarik masuk ke pelatnas saat sudah duduk di kelas 3 SGO. Selesai ebtanas, saya berangkat ke Amerika. Di sana latihan persiapan untuk sea game tahun 1985 di Bangkok Thailand. Disitulah rekor sea games pecah saya juara raih medali emas,” kisahnya.

Kembali dari Thailand, Yulius diberangkatkan ke Asian Game Korea Selatan. Moment itu ia ditunjuk sebagai pembawa bendera kontigen. “Saya juara empat, karena saat mau lompat tinggi, fisik belum siap,” katanya.

Yulius mengikuti dasa lomba, dari 10 nomor yang dipertandingkan dia mampu unggul 6 nomor yakni lari 100 meter, tolak peluru, lempar cakram, lempar lembing, untuk 4 nomor lainnya diraih dua negara Thailand dan Malaysia.

Setelah Korea Selatan, Yulius kembali persiapan ke Jakarta menghadapi Sea Games tahun 1987. Ia ditunjuk sebagai penyulut obor game. Rekor dasa lomba kembali terukir, kali ini dia sendiri yang dominan. “Saya mendapatkan total 3 medali emas. Terakhir saya sempat ikut sepak bola. Duakali di sea games 1989. Duakali Sea Games di Filipina saya tidak ikut, barulah tahun 1993 saya ikut di Singapura. Itu rekor terakhir yang saya pecahkan. Pernah juga tahun 1995, sampai sekarang saya pensiun,” katanya.

Disiplin Jadi Kunci Sukses

Yulius mengatakan, dalam proses latihan seorang atlit harus bisa kerja keras, disiplin, berani berkorban untuk menghadapi lawan yang prestasinya lebih tinggi. Jika tidak berkorban, harapan meraih juara sia-sia.

Dia mengaku, olahraga individu seperti dasa lomba sangat membutuhkan ketahanan fisik.

Namun cahaya gemilang seorang atlit akan redup dengan sendirinya setelah kekuatannya mulai luruh.

“Memang nasib kita para mantan atlit pada saat aktif bisa menikmati hidup dengan baik, setelah pensiun bingung, bisa jadi pengemis, bingung arah hidup kedepan bagaimana,” ungkapnya.

Sejak pensiun tahun 1995, Yulius merasa kehilangan segalanya. Ia sampai lupa bahwa dirinya pernah mencatatkan sejarah dalam dunia olahraga Indonesia. Meskipun hidupnya untuk olahraga, namun demi sesuap nasi dan harapan masa depan yang lebih baik, Yulius bergabung dengan Partai Demokrat.

Barulah pada tahun 2016, PT Freeport Indonesia, perusahaan tambang emas dan tembaga di Mimika Papua “memungut” kembali mutiara hitam yang lama terendam di lumpur itu.

“Dengan kehadiran stadion atlit khusus atletik ini sebagai motivasi bagaimana bisa memberikan yang terbaik, kedepan muncul atlit-atlit legenda baru dari Papua untuk bisa tampil di pentas dunia,” ungkapnya.

Ia membandingkan fasilitas MSC yang sangat lengkap dan mewah.

“Di masa saya fasilitas kurang baik, sangat terganggu dalam berlatih, semuanya belum ada, bertahap dari tingkat daerah nasional kemudian internasional. Tapi di Papua baru tahun 2016 ini kita bisa lihat fasilitas luar biasa,” ujarnya.

Dibawa perhatian Freeport, Yulius merasa terpanggil untuk membina generasi Papua agar menekuni dunia atletik.

“Apalagi saya orang Papua pertama yang bakar obor, itu yang membebani pikiran saya. Obor melambangkan terang bagi orang lain. Sehingga dengan kepercayaan dari Freeport ini menjadi beban tersendiri bagi saya untuk menciptakan prestasi bagi generasi Papua,” ungkapnya.(bersambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *