BERITA UTAMAEDITORIALPAPUA

Setelah Pensiun, Yulius Uwe Merasa Dibuang, Tapi Freeport “Memungut” Kembali Mutiara Hitam Itu Untuk Tetap Bersinar

cropped 895e2990 d422 4061 9705 e533253f1607.jpg
11
×

Setelah Pensiun, Yulius Uwe Merasa Dibuang, Tapi Freeport “Memungut” Kembali Mutiara Hitam Itu Untuk Tetap Bersinar

Share this article
Yulius Uwe yang kini fokus melatih atlit-atlit Papua bidang atletik.
Yulius Uwe yang kini fokus melatih atlit-atlit Papua bidang atletik.

SEJAK pensiun tahun 1995, Yulius merasa kehilangan segalanya. Ia sampai lupa bahwa dirinya pernah mencatatkan sejarah dalam dunia olahraga Indonesia. Meskipun hidupnya untuk olahraga, namun demi sesuap nasi dan harapan masa depan yang lebih baik, Yulius bergabung dengan Partai Demokrat.

Ads

Barulah pada tahun 2016, PT Freeport Indonesia, perusahaan tambang emas dan tembaga di Mimika Papua “memungut” kembali mutiara hitam yang lama terendam di lumpur itu.

“Dengan kehadiran stadion atlit khusus atletik ini sebagai motivasi bagaimana bisa memberikan yang terbaik, kedepan muncul atlit-atlit legenda baru dari Papua untuk bisa tampil di pentas dunia,” ungkap Yulius Uwe.

Ia membandingkan fasilitas MSC yang sangat lengkap dan mewah.

“Di masa saya fasilitas kurang baik, sangat terganggu dalam berlatih, semuanya belum ada, bertahap dari tingkat daerah nasional kemudian internasional. Tapi di Papua baru tahun 2016 ini kita bisa lihat fasilitas luar biasa,” ujarnya.

Dibawa perhatian Freeport, Yulius merasa terpanggil untuk membina generasi Papua agar menekuni dunia atletik.

“Apalagi saya orang Papua pertama yang bakar obor, itu yang membebani pikiran saya. Obor melambangkan terang bagi orang lain. Sehingga dengan kepercayaan dari Freeport ini menjadi beban tersendiri bagi saya untuk menciptakan prestasi bagi generasi Papua,” ungkapnya.

Yulius hadir untuk mengasah kemampuan taring anak-anak Papua yang dinilainya saat ini masih minim prestasi.

“Ada keinginan saya anak-anak Papua berhasil. Di sini saya kembali mengasah kemampuan saya dulu, bukan hanya di satu bidang tapi 10 bidang lomba atletik. Saya mengambil keputusan untuk memberikan semua yang saya dapat dulu kepada para pelatih sekarang supaya mereka sukses. Contohnya sebelumnya saya kesini tahun 2016 di stadion Bandung saya tangani atlet lempar lembing karena mereka latihan 4 tahun lebih cuma bisa 30 meter saya sampaikan ke pelatih akhirnya saya tangani baru naik 43 meter, pada 2017 berangkat ke Jayapura juara dia,” kisahnya.

Yulius mengakui sebagai penanggung jawab prestasi ada dua system yang ia terapkan yakni pembinaan dasar kejuaraan menuju prestasi dengan penanggungjawab prestasi. Karena itu dalam menghadapi even, dua system itu harus dimatangkan.

Menghadapi PON diakuinya cukup berat sebab tidak ada jaminan dari awal persiapan termasuk masalah transportasi. Pemerintah belum mempunyai system dalam mempersiapkan atlet untuk bisa prestasi kedepan.

“Untuk PON saya hanya bisa pastikan kita unggul lempar lembing putra,” tukasnya.

Disisi lain mental latihan anak zaman sekarang berbeda dengan zaman dulu. Saat ini anak mau latihan jika ada fasilitas dan dana.
Meskipun dari sisi faktor pendukung, generasi Papua sangat potensial.

Alam Papua Sudah Membentuk Karakter Manusia yang Kuat

Alam Papua yang terdiri dari bentangan gunung yang terjal, sungai, lumpur dan pantai yang luas membentuk karakter manusia yang kuat.

“Karena di Papua bisa menjaring atlit sesuai karakteristik daerah. Kalau dari pulau, orang pulau kan kuat, kalau pesisir pantai main di pasir ataupun lumpur, jadi kaki kuat bisa lompat tinggi. Kalau di gunung kuatnya di tubuh bagian atas seperti pegang tombak. Memang atlit ini berhadapan dengan peralatan harus disesuaikan dengan karakter juga. Ada 4 karakter itu saya sudah proyeksikan semua, lewat sungai, pohon, itu secara alami ototnya terbentuk tinggal kita arahkan saja,” ujarnya.

Ia mencontohkan, orang Kamoro punya potensi tapi kesulitan aspek pendukung.

“Sekarang kalau mau jadi atlit harus ada uang baru bisa latihan, sampai anak-anak punya sepatu harus beli, kalau proses atlit kita ambil dari kampung-kampung mereka yang punya bakat kita harus kasih makan dan lain-lain,” paparnya.

Ingin Mengembalikan Kejayaan Atlit Papua

Setelah dipercayakan Freeport menjadi pembina prestasi di MSC, Yulius mengaku akan berjuang mengembalikan atlit Papua yang dulu jaya dan sukses bahkan sampai ke dunia internasional.

“Lewat MSC ini saya ingin mengangkat lagi mereka dengan berbagai pengalaman dan prestasi yang saya dapat. Karena memang kalau pelatih lain mereka merubahnya lambat kalau ditangan saya pasti cepat berubah,” ungkap Yulius yakin.

Dia juga berharap kedepan para pelatih bisa membuka diri agar bisa saling mengisi “Sekarang saya lagi focus supaya bisa menebus tempat ini, karena kita tidak bisa menyampaikan ucapan terimakasih ke Freeport, itu hanya bisa lewat prestasi bukan hanya kata-kata,” pungkasnya.

Empat hal yang ia tekankan untuk para atlit yaitu kerja keras, disiplin, dedikasi dan pengorbanan.

“Supaya bisa prestasi para atlit harus miliki empat hal ini. Kendala kita sekarang ada di atlit sendiri, karena tidak ada kerja keras, pengaruh teman, cuma pikiran uang saja, suka begadang, itu sulit. Tapi kalau memang punya rasa percaya diri sebagai seorang atlit, 4 moto ini diterapkan, otomatis bisa sukses,” bebernya.(stefanus ambing)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *