Teh Produksi Timika ini Banyak Dicari Para Perokok Aktif, Apa Sih Kegunaan Daun Mangrove Acanthus?

by -
Daun Mangrove
Daun Mangrove

Timika,fajarpapua.com – Daun Acanthus Ilicifolius atau biasa dikenal dengan julukan Dajuru (Melayu) dan Jeruju (Jawa) atau warga di Kabupaten Mimika menyebutnya Daun Mangi-mangi ternyata bisa diolah menjadi barang yang memiliki nilai ekonomis.

Ya… saat ini jenis tanaman Mangrove ini menjadi pilihan Masayarakat Indonesia khususnya bagi para pecinta minuman teh.

banner 300250

Hal ini karena manfaatnya yang tidak bisa diabaikan khususnya bagi para perokok atau mantan perokok aktif yang ingin menghilangkan toxic atau racun dalam tubuhnya.

Tanaman yang bagi sebagian orang dianggap semak ini mengandung antioksidan atau panangkal radikal bebas dalam tubuh manusia.

Salahsatu kelompok tani di Kabupaten Mimika, Papua, Pigapi Aimapuramo saat ini telah memproduksi teh jenis Acanthus ini.

Kelompok yang didominasi oleh mama-mama Papua asli Suku Kamoro ini, sudah memproduksi teh inj sejak Tahun 2018 lalu.

Teh “Daun Mangi-mangi” ini dikemas secara modern serta dipasarkan melalui beberapa cara seperti pameran maupun pemasaran offline.

Teh ini juga mampu menjadi daya tarik para pengunjung lebih khusus dalam festival budaya dan bahkan di pameran ajang PON XX Papua klaster Mimika.

Petani teh asal Pigapu, Berlinda Mawane Makapokal saat ditemui fajarpapua.com mengatakan, teh ini dikenal luas akan dampak kesehatannya, dengan memproduksi teh ini Berlinda juga dapat menikmati dampak ekonominya.

“Mama punya kaki luka ini, dulu tidak sembuh-sembuh sampai pi bertahun-tahun. Tapi waktu mama minum ini (Teh Acanthus), sudah dua tahun ini, mama punya kaki ini sembuh, bersih. Hasilnya, mama juga pakai untuk beli adik punya baju seragam sama bayar kebutuhan adik sekolah di Jakarta,” kata Berlinda di Tenda Penjualan, GSG Emeneme Yauware, Timika, Selasa (12/10) lalu.

Selain menjadi teh, daun dajuru ini juga bisa menjadi pengganti tembakau untuk dijadikan rokok. Dengan mengandalkan keharumannya, para leluhur pendahulu kita sangat sering menjadikannya sebagai rokok.

“Dulu biasa bikin rokok dari daun ini, prosesnya sama, kita linting baru jadikan rokok,” bebernya.

Dikatakan Mama Berlinda, meski belum terbukti secara ilmiah, tembakau dari acanthus tidak menyebabkan sesak dada.

“Tapi sekarang kita jadikan ini teh. Kita minum tidak pakai gula. Orang di kampung jadi kuat kerja juga,” ujar Berlinda.

Pengelolaan daun ini tidak terlepas dari pendampingan oleh Dinas Kehutanan dan Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Papua, selain itu juga didampingi langsung oleh Yayasan Ekologi Sahul Lestari.

Pendamping Lapangan Yayasan Ekologi Sahul Lestari, Dr Dendy Sofyandy memberikan penjelasan, pihaknya melakukan pendampingan untuk mengkamoanyekan produk hutan bakau non kayu.

Diakui juga, teh mangrove jenis Acanthus ini menjadi pilihan karena memiliki manfaat bagi kesehatan dan diyakini bernilai secara ekonomis.

Dijelaskan, pendampingan hingga produksi pemasaran melalui pendanaan yang didukung oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), bahkan saat ini melalui Progman Desa Berinovasi mendapatkan dukungan dana dari Bank Papua untuk permodalan.

“Yang membedakan mangrove kita dengan yang lainnya (di Indonesia), itu mangrove kita ini masih alami. Dan mama ini melakukan pemetikan itu tidak jauh dari rumahnya. Yang paling penting, teh ini mengandung antioksidan bagi tubuh kita,” jelas Dendy.

Menurutnya, proses produksinya tidaklah mudah, Kelompok tani Pigapu membagi tugas perkelompok, mulai dari pemetikan, pencacahan, penjemuran hingga pengemasan. Tentunya membutuhkan waktu yang cukup lama.

“Semua itu dilakukan kira-kira dua mingguan,” ucap Dendy.

Sebelumnya, Dinas Kehutanan dan Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Papua Cabang Mimika juga telah melakukan pendampingan yang sama dimulai sejak tahun 2018.

Kepala Cabang Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Mimika, Maryana J E. Hamadi mengatakan, hingga saat ini melalui dana APBD Provinsi Papua pihaknya masih berupaya mendanai pendampingan serta pelatihan terhadap Kelompok Tani Hutan Pigapu.

Kendati demikian, dengan keterbatasan pendanaan dari Pemerintah, pihaknya juga membuka peluang bagi pendonor di tingkat Lembaga Swadaya Masyarakat dan BUMN.

Saat ini, pihaknya memfokuskan bagaimana sekiranya para petani ini memiliki ijin edar produk olahan mereka walaupun saat ini para petani telah mengantongi ijij edar Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) yang dikeluarkan langsung oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika.

“Tapi kami saat ini masih berusaha terus agar produk ini memiliki ijin edar dari BPOM,” pungkas Maryana. (rul)

INFO IKLAN 0812-3406-8145 A valid URL was not provided.