Lewati ke konten utama

Sepucuk Surat Cinta dari Lampu Merah Kota Timika, Aku Selalu di Sini Tapi Sering Tak Dianggap, Kamu Menelikung Tepat di Depan Mataku

Redaksi FPPenulis
03.01 WIT1 menit baca6 dibaca
IMG 20220506 WA0067
IMG 20220506 WA0067Foto / MIMIKA
Bagikan berita ini
Aa

Timika, fajarpapua.com- Matahari mulai terbit di ufuk timur, jalanan kering setelah semalam hujan tak lagi mengguyur kota Timika.

Aku berdiri tegak di setiap perempat jalan. Hujan dan panas tidak membuat aku menyerah untuk selalu mengingatkan orang-orang bahwa aku harus diperhatikan dan perintahku dituruti.

Kadang aku merasa kehadiranku tak dianggap oleh mereka, padahal aku sangat jelas dan selalu terlihat.

Andaikan aku bisa berbicara, aku ingin mengatakan “nak, keluarga masih menunggumu di rumah, jangan berbalik arah jika ada tanda larangan di tubuhku".

Aku ada untuk mengingatkan kepada kalian terutama para pengendara bahwa banyak hati di rumah yang menanti kepulanganmu.

Tapi kadang aku tidak dipahami, mengapa?. Sudah jelas aku tak merugikanmu, memarahi apalagi memukulmu kan?

Yah, walaupun aku selalu diabaikan, aku tetap berdiri tegak di sini dan tidak lelah untuk selalu mengingatkan. Sekali lagi, jangan menelikung di depanku jika di dadaku tertera tanda larangan berbalik.

Jangan menyerobot ketika mataku memerah, jika mulai kuning berarti kalian harus waspada, barulah boleh pergi apabila sudah hijau.

Perintahku kekal, patuhlah sebelum engkau binasa karena kelalaianmu. Aku, rambu lalu lintas, akan selalu ada di sini. Berdiri mengawasimu di sudut perempatan kota ini.(Karen)

Komentar (0)

Komentar disimpan di perangkat Anda untuk pratinjau UI. Integrasi server mengikuti modul komentar yang sudah ada di admin.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.