BERITA UTAMAPAPUA

Hadapi Tantangan Berat, BAKTI Tak Gentar Bangun BTS 4G di Pegunungan Bintang Papua

cropped 895e2990 d422 4061 9705 e533253f1607.jpg
4
×

Hadapi Tantangan Berat, BAKTI Tak Gentar Bangun BTS 4G di Pegunungan Bintang Papua

Share this article
IMG 20220523 WA0028
Pekerja mengangkat material ke area pembangunan menara BTS 4G di Distrik Batani, Pegunungan Bintang, Papua, Jumat (22/4/2022)

Jakarta, fajarpapua.com – Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) terus membangun menara Base Tranceiver Station (BTS) 4G di wilayah Pegunungan Bintang meski medan yang dihadapi sulit.

Direktur Utama BAKTI Kominfo Anang Latif mengatakan pembangunan menara BTS 4G di Pegunungan Bintang yang masuk dalam wilayah terluar, tertinggal, dan terdepan (3T) penting untuk diselesaikan agar masyarakat di sana bisa menikmati akses telekomunikasi yang memadai.

ads

“Saudara-saudara kita yang ada di Papua, di Pegunungan Bintang juga perlu mendapatkan sinyal seperti kita yang sudah lebih dulu mendapatkannya di pulau Jawa,” ujar Anang kepada wartawan, beberapa waktu lalu.

Anang menjelaskan bahwa pembangunan menara BTS 4G di Pegunungan Bintang tidaklah mudah. Kabupaten dengan ibu kota Oksibil itu memiliki kondisi geografis yang khas di mana sebagian besar wilayahnya berupa pegunungan.

Penduduknya bermukim di distrik-distrik yang terletak di lereng gunung terjal dan lembah-lembah kecil, terpencar dan terisolir. Untuk menjangkaunya, hanya bisa menggunakan transportasi udara.

Anang mengatakan, dengan kondisi geografis tersebut, pengiriman material ke lokasi pembangunan menara BTS 4G di Pegunungan Bintang menjadi tantangan berat tersendiri yang harus dihadapi.

“Kondisi geografis masih menjadi tantangan. Beberapa lokasi harus memakai helikopter. Biayanya cukup mahal ketika logistik ini dikirimkan,” ujar Anang.

ANTARA berkesempatan meninjau langsung proses pendistribusian material pembangunan menara BTS 4G di sejumlah distrik di Pegunungan Bintang yang dilakukan BAKTI Kominfo melalui PT Infrastruktur Bisnis Sejahtera (IBS).

PT IBS bersama ZTE adalah pemenang tender pekerjaan Paket 4 dan Paket 5 pengadaan menara BTS 4G di wikayah 3T, di mana Pegunungan Bintang masuk dalam paket tersebut.

Untuk membangun satu site menara BTS 4G, PT IBS harus memboyong sekitar 90 jenis komponen, terbagi untuk tower, power, VSAT, dan BTS. Material tersebut dimuat dari gudang mereka yang berada di Jayapura, Papua.

Dari Jayapura, material dengan bobot total mencapai 10 ton itu dibawa menuju Senggeh, Kabupaten Keerom menggunakan jalur darat selama sekitar enam jam. Dari Senggeh, material tersebut lalu diangkut melalui jalur udara menuju lokasi pembangunan di Pegunungan Bintang.

Material dengan dimensi panjang maksimal 3,5 meter diangkut menggunakan pesawat jenis caravan. Sementara material dengan dimensi yang lebih pendek, dapat dimuat menggunakan pesawat jenis pilatus.

Adapun material dengan dimensi yang lebar seperti pagar atau antena, harus dibawa menggunakan helikopter secara eksternal memakai sling.

Proses pengiriman material via jalur udara sangat bergantung pada kondisi cuaca. Apabila cuaca buruk, maka proses pengiriman harus ditunda untuk sementara waktu.

“Kendalanya di cuaca. Kalau cuaca buruk, pengiriman tidak bisa dilakukan,” kata Head of Supply Chain Management IBS Meita Dwivernia.

Pengiriman material dari Senggeh ke Pegunungan Bintang memakan waktu sekitar 20-45 menit tergantung jarak lokasi yang dituju.

Pilot pesawat atau helikopter dituntut untuk fokus dan berhati-hati lantaran medan yang dilalui berada di antara bukit dan tebing pegunungan.

Setibanya di lokasi, material tersebut langsung ditempatkan di sekitar area pembangunan. Di sana, telah terdapat pekerja yang menunggu. Beberapa pekerja diberdayakan dari masyarakat setempat.

Hal tersebut dilakukan agar timbul rasa memiliki terhadap bangunan itu, sehingga masyarakat bisa menjaga bangunan agar bisa digunakan dalam waktu lama.

Menara BTS 4G dibangun di atas lahan seluas 20×20 meter. Lahan tersebut umumnya berasal dari hibah masyarakat, lalu dimanfaatkan dengan sistem pinjam pakai lahan.

Lokasi pembangunan diharuskan berada di dekat pemukiman agar pancaran sinyal telekomunikasi dapat diterima warga secara maksimal.

Meita mengatakan apabila material telah tiba di lokasi, maka pembangunan menara BTS 4G sudah semakin mudah. Proses pembangunan dari mulai mendirikan tower hingga “on” atau mengudara membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga minggu.

Meski menghadapi medan yang sulit, PT IBS berkomitmen untuk menggenjot proses pengerjaan pembangunan menara BTS 4G di Pegunungan Bintang agar target yang sudah dicanangkan bisa diselesaikan.

Sebanyak 196 menara BTS 4G direncanakan akan dibangun di Pegunungan Bintang pada 2022. Adapun total usulan pembangunan menara telekomunikasi di kabupaten tersebut sebanyak 261 titik.

Dari rencana pembangunan BTS 4G di 196 titik tersebut, 44 titik di antaranya tengah dalam pengerjaan.

Saat ini, sudah ada 10 menara BTS 4G yang mengudara di kabupaten dengan semboyan Terib Tibo Semo Nirya (Mari Bangkit Membangun Bersama) itu.

Salah satunya berada di distrik Bime. Sekretaris Distrik Bime, Nerius Wisal mengaku sangat bersyukur atas keberadaan menara BTS 4G yang telah mengudara.

Kini, masyarakat, khususnya generasi muda sudah bisa menikmati akses internet maupun akses telekomunikasi dengan lebih baik.

“Jadi sekarang anak-anak muda yang pintar-pintar itu mereka sudah bisa telepon pakai WhatsApp,” kata dia sumringah.

Namun, Nerius tidak memungkiri masih banyak warga Distrik Bime, terutama kalangan tua yang gagap teknologi.

Untuk itu, adanya edukasi secara menyeluruh terhadap masyarakat di wilayah 3T tentang pemanfaatan akses internet penting untuk dilakukan agar fasilitas menara telekomunikasi yang telah dibangun pemerintah bisa diberdaya gunakan secara maksimal oleh masyarakat.(ant)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *