BERITA UTAMAPAPUA

Terpilih Sebagai Ketua OKP Pemuda Katolik Mimika, Begini Sosok Leonard Tumuka, Doktor Pertama dari Suku Mimika Wee

cropped 895e2990 d422 4061 9705 e533253f1607.jpg
4
×

Terpilih Sebagai Ketua OKP Pemuda Katolik Mimika, Begini Sosok Leonard Tumuka, Doktor Pertama dari Suku Mimika Wee

Share this article
IMG 20220523 WA0055
Dr. Leonardus Tumuka

Timika, fajarpapua.com – Ketua terpilih OKP Pemuda Katolik Komcab Timika, Dr. Leonardus Tumuka saat menerima atribut panji kebesaran Pemuda Katolik menyampaikan terima kasih kepada Panitia dan juga seluruh Pemuda Katolik Kabupaten Mimika.

“Atas nama Pemuda Katolik, saya menerima Panji ini untuk bersama – sama dengan seluruh OKP di Kabupaten Mimika membangun daerah ini,” beber Leonardus Tumuka di Grand Tembaga, Minggu malam.

ads

Ia mengatakan, tugas yang diembankan kepadanya merupakan amanah yang harus dilaksanakan. Sehingga Leo Tumuka akan membenahi internal organisasi dan selanjutnya menyusun program yang bersentuhan dengan visi misi organisasi.

“Saya berharap dukungan dari semua OKP yang ada di Mimika supaya kita sama-sama memajukan daerah ini,” paparnya.

Dr Leonardus Tumuka, doktor pertama dari Mimika Wee yang menyelesaikan studi strata tiga (S3) pada pada University of the Philipines Los Banos, Filipina, tahun 2015.

Pencapaian prestasi putra suku Mimika Wee itu, menjadi salah satu peserta penerima beasiswa dari Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah Umum Kemendikbud pada 2002 hingga 2005.

Leo, demikian sapaan akrabnya saat berbincang bersama wartawan menceritakan pada 2002 setelah menamatkan pendidikan di bangku SMP YPPK Santo Bernadus Timika, ia terpilih bersama 71 putra-putri Papua lainnya untuk dikirim ke berbagai SMA di Pulau Jawa, Ia bersama empat rekannya memilih melanjutkan pendidikan ke SMA Negeri 2 Madiun, Jawa Timur.

Rekan-rekan yang lain tersebar di berbagai kota, ada yang di Jombang, Gresik, Sidoarjo, Solo, Ambarawa, bahkan Jakarta.

“Saya bersyukur ikut dalam program afirmasi itu dan kami 72 orang ditempatkan di sekolah-sekolah unggulan di Pulau Jawa yang rata-rata siswanya cerdas semua. Masuk ke sekolah unggulan di Pulau Jawa tentu menjadi tantangan berat bagi kami dari Papua,” kata pria kelahiran Kampung Koperapoka, Mimika, 20 Juli 1984 itu.

Usai tamat dari SMA Negeri 2 Madiun, Leo melanjutkan studi strata satu (S1) ke Jurusan Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Pasundan, Bandung, hingga lulus pada 2009.

Lebih lanjut leo mengisahkan sambil kuliah itu, ia menyambi bekerja sebagai salesman atau tenaga penjualan. Memasuki semester 5, Leo mendapatkan bantuan beasiswa BBM dari Pemerintah Kabupaten Bandung lantaran tergolong mahasiswa dari keluarga kurang mampu dimana orang tuanya berprofesi hanya sebagai petani serabutan.

Selanjutnya, ia mendapatkan bantuan beasiswa dari Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK) yang kini berubah nama menjadi YPMAK hingga jenjang strata dua (S2) pada Universitas Katolik Soegiyapranoto, Semarang hingga lulus pada 2011, dilanjutkan Strata 3 (S-3) di Filipina.

Leo menghimbau dengan banyaknya tawaran beasiswa yang disediakan oleh pemerintah saat ini kepada anak-anak asli Papua, terutama melalui program afirmasi dari sumber dana Otonomi Khusus (Otsus) Papua, maka sudah seharusnya hal itu memotivasi generasi muda Papua untuk bisa meraih prestasi akademik yang membanggakan.

Hanya saja dalam praktiknya, kata Leo, program afirmasi pendidikan melalui dana Otsus Papua itu belum menjangkau seluruh generasi muda asli Papua di berbagai kabupaten/kota.

“Saya belum pernah mendengar ada pengumuman resmi dari pemerintah daerah yang membuka peluang dan kesempatan bagi anak-anak 
asli Papua untuk bisa melanjutkan pendidikan melalui program afirmasi yang didanai dari sumber dana Otsus Papua itu” ujarnya.

Sehubungan dengan itu, Leo berharap Pemprov Papua maupun Pemkab/Pemkot di daerah masing-masing membuka secara terang-benderang ruang informasi perekrutan calon mahasiswa penerima bantuan beasiswa program afirmasi dari sumber dana Otsus.

Kini sehari-hari Leo bekerja pada Departemen Community Affairs PT Freeport Indonesia di Kuala Kencana dengan jabatan sebagai Senior Liaison Officer.

Saat ini, katanya, jabatan-jabatan penting dan strategis di lingkup manajemen PT Freeport Indonesia diisi oleh putra-putri asli Papua karena mereka memiliki kapasitas kemampuan yang memadai untuk bisa bersaing dengan orang lain. Ia berpesan yang paling penting itu membangun karakter diri yang baik.

“Jangan mentang – mentang anak asli, lalu belajar santai-santai dan kemudian pulang menuntut mau dapat jabatan, bekerja di dunia industri butuh orang-orang profesional kalau kita memiliki keunggulan, melamar kerja di mana pun pasti akan diterima,” ujarnya saat mengakhiri pembicaraan.(red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *