BERITA UTAMAPAPUA

Prajurit TNI AU Tewas Dikeroyok 4 Rekannya di Makoopsud III Biak, Peti Jenazah Dikunci

cropped 895e2990 d422 4061 9705 e533253f1607.jpg
12
×

Prajurit TNI AU Tewas Dikeroyok 4 Rekannya di Makoopsud III Biak, Peti Jenazah Dikunci

Share this article
8148b0e1 ab6f 4334 a80d 1044443f41b7
Foto Prada Muhammad Indra Jaya semasa hidup. Foto: Dok.Keluarga

Biak, fajarpapua.com – Seorang prajurit TNI Angkatan Udara yang bertugas di Markas Komando Operasi Udara III (Makoopsud III) Biak, Papua, Prajurit Dua (Prada) Muhammad Indra Wijaya meninggal dunia diduga dianiaya oleh sesama prajurit, Sabtu (19/11).

Kepala Dinas Penerangan TNI AU (Kadispenau) Marsma Indan Gilang Buldansyah menjelaskan, Prada Indra merupakan seorang tamtama yang bertugas di Sekretariat Makoopsud III Biak, Papua.

Ads

Prada Indra meninggal dunia diduga karena mendapat kekerasan dari empat prajurit lainnya yang kini telah ditahan.

“Terhadap kejadian tersebut, TNI AU telah menahan 4 prajurit, yang diduga terlibat dalam aksi kekerasan, untuk dimintai keterangan dan penyidikan lebih lanjut,” kata Indan dalam keterangan tertulis, Rabu (23/11).

Indan menjelaskan, Prada Indra sebelumnya ditemukan dalam kondisi pingsan di Mess Tamtama Tiger Makoopsud III Biak.

Selanjutnya, Prada Indra dibawa menuju Rumah Sakit Lanud Manuhua, Biak, untuk mendapatkan perawatan.

Akan tetapi, nyawanya tidak tertolong dan meninggal pada Sabtu 19 November.

Indan mengatakan, TNI Angkatan Udara melalui Satuan Polisi Militer (Satpom) Koopsud III Biak masih terus melakukan penyidikan dan pendalaman terhadap dugaan kekerasan yang mengakibatkan meninggalnya Prada Indra.

“Bila terbukti ditemukan ada tindak pidana penganiayaan, TNI AU akan memberikan sanksi hukum tegas, sesuai aturan yang berlaku,” imbuh dia.

Jenazah Penuh Lebam

Salah satu keluarga korban menuturkan, pihaknya mendapat kabar Prada Indra meninggal dunia pada Sabtu (19/11) sekitar pukul 02.25 WIB dini hari.

Kabar tersebut disampaikan lewat pesan WhatsApp atau WA atas nama Kolonel Adm Veradiyanto.

“Jadi WhatsApp itu hanya dikasih tau meninggal, tidak dikasih tahu sebabnya,” tutur keluarga korban.

Selanjutnya, pihak keluarga melakukan panggilan video untuk mengetahui kondisi pasti Prada Indra.

Dalam panggilan video tersebut, pihak keluarga diperlihatkan kondisi jenazah Prada Indra yang sudah dalam posisi mata, hidung, dan mulut ditutup kapas.

“Pihak keluarga juga bilang, ‘coba pak dibuka’ dari sana itu terus ngasih argumen ‘maaf ibu ini sudah di dalam pemeriksaan, sudah tidak bisa, ini udah dimandikan’. Tapi yang janggalnya itu mas proses pemandiannya pun kita tidak diberi tahu,” katanya. 

Menurut penuturan atasannya kepada pihak keluarga, Prada Indra ditemukan dalam kondisi pucat dan kaku di kamar mess pada Sabtu (19/11) sekitar pukul 01.00 WIT dini hari. Sebelum itu Prada Indra disebut bermain futsal sejak pukul 20.00 hingga 23.00 WIT.

“Dari sana itu memberikan info berita kematian almarhum didiagnosa utama sudden cardiac arreis. Jadi bahasanya itu kayak serangan jantung dadakan dan tidak adanya ion mineral dalam tubuh,” jelasnya.

Peti Jenazah Digembok

Pada Sabtu (19/1) sekitar pukul 19.00 WIB jenazah Prada Indra tiba di rumah duka di Karawaci, Tangerang Kota, Banten.

Jenazah diantar oleh Mayor Adm Triyanto selaku perwakilan yang menyerahkan jenazah Prada Indra ke pihak keluarga. 

Kepada pihak keluarga, Mayor Adm Triyanto menjelaskan seperti keterangan sebelumnya bahwa Prada Indra meninggal karena kelelahan dan dehidrasi.

Ketika itu, Mayor Adm Triyanto juga menyarankan pihak keluarga untuk segera menguburkan jenazah di hari itu juga dengan alasan agar bisa dilakukan secara upacara kedinasan.

“Terus pihak keluarga meminta izin untuk dibukakan peti. Nah pihak sana (Mayor Adm Triyanto) tidak menolak sih, boleh. Tapi yang janggalnya, itu peti kan digembok, nah gemboknya itu tidak diberikan kuncinya kepada kami. Alasannya, dia tidak diberikan kuncinya oleh atasannya. Itu kejanggalan pertama,” bebernya.

Lantaran semakin curiga, pihak keluarga akhirnya membuka paksa peti jenazah yang tergembok tersebut. Mereka pun kaget ketika melihat kondisi jenzah Prada Indra penuh darah di bagian wajah dan lebam di beberapa bagian tubuhnya.

“Kita bertanya-tanya, ini kenapa? Beliau (Mayor Adm Triyanto) dengan satu kata bilang ‘maaf ibu bapak saya tidak mengetahui jelas kronologisnya saya hanya disuruh atasan saya mendampingi korban untuk keberangkatan ke sini’ jadi dia hanya itu,” jelasnya.

“Posisinya itu kapasnya banyak di bagian muka. Kondisinya itu (kapas) udah merah darah, dan kayaknya udah merembes ke kapasnya ya jadi kena kafan juga. Kami nanya, apa ini benar-benar sakit? Tapi kan posisinya itu ya badannya itu lebam, bagian dada lebam, terus bagian bawah dada itu kayak ada goresan tapi saya nggak tahu ya goresannya ini apa masih diteliti,” tutupnya. (red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *