BERITA UTAMAMIMIKA

Sejak Sore Turun Hujan, Perayaan Pergantian Tahun di Timika “Bubrah”, Ini Penjelasan Ilmiahnya…

cropped 895e2990 d422 4061 9705 e533253f1607.jpg
4
×

Sejak Sore Turun Hujan, Perayaan Pergantian Tahun di Timika “Bubrah”, Ini Penjelasan Ilmiahnya…

Share this article
IMG 20221231 WA0160
Hujan di Timika

Timika, fajarpapua.com- Sejak Sabtu (31/12) pukul 17.00 WIT, hujan turun dihampir seluruh wilayah Kota Timika dengan intensitas ringan hingga sedang.

Akibatnya, suasana pergantian tahun yang sebelumnya diprediksi meriah dan ramai nyaris ‘bubrah” karena tidak semarak, meski sesekali masih terdengar bunyi petasan.

Ads

Meski tidak bisa turun ke jalanan, namun warga yang memang sejak sehari sebelumnya sudah mempersiapkan berbagai kegiatan menyambut tahun baru 2023 tetap menggelar acara meski terbatas di lingkungan masing-masing.

Selain itu, panggung hiburan yang diadakan oleh Pemda Kabupaten Mimika di Area Luar Graha Eme Neme Yauware juga terlihat ‘tidak semarak” bahkan nyaris sepi penonton.

Sebelumnya, Kapolres Mimika AKBP I Gede Putra mengimbau masyarakat tidak merayakan malam pergantian tahun dengan berlebihan.

Tahun Baru Selalu Hujan? Ini Penjelasannya

 Momen Tahun Baru selalu identik dengan turunnya hujan dan hal serupa terjadi pada perayaan pergantian tahun baru 2023 ini.

Kenapa Tahun Baru selalu diwarnai hujan? Indonesia merupakan negara yang beriklim tropis, lebih tepatnya tropis basah atau hangat lembab. Penyebab negara kita memiliki iklim tropis ialah faktor geografis yang terletak di garis khatulistiwa.

Indonesia sendiri diapit oleh dua benua, yakni Asia dan Australia. Kedudukan ini menyebabkan negara kita memiliki pola arah angin muson yang selalu berganti tiap enam bulan sekali.

Selain letak geografis, iklim juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, ekosistem, hingga rotasi dan revolusi Bumi.

Beberapa penyebab Indonesia masuk kategori iklim tropis di antaranya kelembaban udara dan curah hujan, serta suhu tahunan yang bisa mencapai angka relatif tinggi.

Wilayah yang beriklim tropis memiliki dua musim, yakni musim hujan dan musim kemarau. Musim hujan berlangsung dari Oktober hingga Maret.

Kemudian, musim kemarau terjadi dari April hingga September. Pergantian musim kemarau dan musim hujan berlangsung secara rutin dalam satu tahun.

Namun, karena pengaruh waktu dan pemanasan global, musim bisa bergilir menyesuaikan kondisi.

Kenapa Tahun Baru Selalu Hujan? Seperti telah disinggung sebelumnya, di bulan Desember hingga Januari, Indonesia mengalami musim penghujan.

Mengutip laman resmi BMKG, Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menyampaikan perkiraan terkait beberapa wilayah Indonesia akan diguyur hujan dengan intensitas bervariasi, mulai dari hujan ringan hingga lebat di momen Tahun Baru.

“Berdasarkan model cuaca numerik BMKG, sebagian wilayah Indonesia beberapa hari ke depan berpotensi mengalami cuaca ekstrem dengan peningkatan curah hujan lebat hingga sangat lebat. Untuk wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali hingga Nusa Tenggara, potensi hujan intensitas lebat hingga sangat lebat bisa mulai dari 30 Desember 2022, di mana potensi tersebut berlanjut hingga 1 Januari 2023 dini hari,” ujar Dwikorita.

BMKG menyebutkan ada beberapa alasan yang menyebabkan terjadinya hujan di Tahun Baru, di antaranya:

  1. Teridentifikasi aktifnya fenomena dinamika atmosfer pemicu meningkatnya curah hujan.
  2. Aktifnya Monsun Asia di belahan bumi utara yang berkontribusi terhadap peningkatan asupan massa udara basah ke wilayah ekuatorial, terutama di sekitar Indonesia bagian barat.
  3. Teridentifikasi MJO (Madden Jullian Oscillation) yang masih cukup aktif di sekitar wilayah Indonesia bagian selatan ekuator.
  4. Aktifnya fenomena gelombang atmosfer Kelvin Wave dan Rossby Equatorial yang berkontribusi signifikan meningkatkan pertumbuhan awan hujan.

Oleh karena itu, masyarakat diimbau agar senantiasa berhati-hati. Terlebih lagi, sebagian besar wilayah Indonesia sedang menuju puncak musim hujan yang diprediksi akan berlangsung hingga Februari mendatang. Dalam kemungkinan terburuknya, cuaca ekstrem ini berpotensi menimbulkan bencana mulai dari banjir, genangan, banjir bandang, tanah longsor, hingga gelombang tinggi. (mas/tem)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *