BERITA UTAMAMIMIKA

Ada Ternak Babi Warga Timika yang Dikubur Hidup-hidup, Hingga Kemarin Segini Jumlah Babi yang Mati Terserang Wabah ASF

cropped 895e2990 d422 4061 9705 e533253f1607.jpg
8810
×

Ada Ternak Babi Warga Timika yang Dikubur Hidup-hidup, Hingga Kemarin Segini Jumlah Babi yang Mati Terserang Wabah ASF

Share this article
IMG 20240222 WA0014
Banyak peternak babi yang masih bertahan ditengah wabah ASF yang kian mengganas. Forum penjualan meskipun diramaikan postingan penjual namun nampak sepi pembeli.

Timika, fajarpapua.com – Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnak Keswan) Kabupaten Mimika mencatat per-21 Februari 2024 kemarin total ternak babi milik warga Timika yang mati akibat wabah virus ASF mencapai 1.800 ekor.

Untuk mengurang resiko penularan, sudah banyak warga yang secara sukarela menguburkan ternak babi mereka yang terinfeksi ASF meskipun masih hidup.

ads

“Tidak ada pilihan lain, karena sampai sekarang belum ada obat atau vaksin yang bisa menghentikan penularan virus ini, serum konvalesen hanya membantu 30 persen, bukan menyembuhkan,” ungkap Kadis Peternakan dan Keswan, drh. Sabelina Fitriani kepada fajarpapua.com, Kamis (22/2).

Ia mengemukakan, pemberian serum untuk babi yang sudah terinfeksi pun tidak efektif jika tidak didukung protokoler yang ketat. Sebab, dari laporan warga yang sudah menyuntikan ternak babinya ada ternak yang mati.

“Kecuali kalau sudah diberikan serum lalu benar-benar menjaga kebersihan kandang, hentikan kunjungan orang luar, peternak yang mau ke kandang harus mengganti pakaian kalau memang sebelumnya sempat ke tempat lain, dan beberapa protokol himbauan yang sudah kami edarkan,” tuturnya.

Dijelaskan, membuang bangkai babi yang mati di sungai merupakan salah satu penyebab virus tersebut menular sangat cepat. Apalagi virus tidak mati dalam suhu 60 derajat, sangat tahan terhadap perubahan lingkungan, stabil pada pH 4-13, dapat bertahan hidup dalam darah (18 bulan), daging dingin (15 minggu) dan daging beku (selama beberapa tahun) serta dapat bertahan hingga 1 bulan dalam kandang babi.

Sebelumnya, drh. Sabelina melalui Kabid Kesehatan Hewan drh. Bakti Erma Surfani menyampaikan, saat ini pihaknya masih melakukan pembahasan adanya rumah potong daging babi serta para pedagang yang ada di Pasar Sentral Timika.

“Kita masih menggodok terkait penjualan daging babi, kita memang belum bisa memberikan himbauan-himbauan, karena perhari 100 ekor babi mati karena ASF,” ujarnya saat ditemui, Rabu (21/2).

Dia mengatakan Disnak masih berkoordinasi untuk pemetaan titik rawan ASF.

“Titik merah itu, kebanyakan di bagian Kota, kalau di wilayah Iwaka masih titik hijau, masih bisa dibilang aman, titik-titik ini yang mau kita petakan,” ungkapnya.

Menurut dia, penutupan penjualan babi di Pasar merupakan langkah Disnak Keswan untuk mengurangi penyebaran, sebab hanya melalui hasil uji tes lab yang dapat memastikan babi sehat untuk dijual. Sebaiknya untuk penjual daging babi saat melakukan penjualan bisa memberikan keterangan tempat ternak babi.

“Kalau bisa yang berjualan jangan hanya menuliskan daging babi sehat, namun bisa memberikan keterangan asal kandang ternak babi di mana,” jelasnya.

“Kita terus mencari solusinya, dari tahun lalu kita sudah memberikan himbau untuk larangan kepada masyarakat tidak membawa olahan daging babi dalam bentuk sosis, bakso, kerupuk kulit, dendeng dan lain-lain ke Timika. Jadi kami hanya minta masyarakat untuk bersabar, sebab apabila masyarakat masih tetap menjual, tidak ada jaminan virus tidak menyebar,” tutupnya. (ana)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *