DITENGAH keterbatasan dan tantangan yang besar, nama Wike Afrilia Pasang menjadi simbol harapan bagi banyak warga di pedalaman Papua.
Di negeri yang luas dan kaya akan budaya seperti Indonesia, masih ada banyak sudut terpencil yang sepi dari sorotan.
Tempat-tempat di mana akses kesehatan menjadi kemewahan, dan keberadaan seorang tenaga medis adalah sebuah berkah.
Di salah satu sudut itu, berdirilah sosok sederhana bernama Wike Afrilia Pasang—seorang bidan honorer di Papua Selatan.
Wike bukan siapa-siapa dalam struktur birokrasi. Ia tidak memiliki jabatan, kekuasaan, atau fasilitas mewah.
Tapi ia memiliki hati, dan itulah yang membawanya menyusuri jalan-jalan terjal, menjangkau kampung-kampung terpencil, dan mendekap hangat hati-hati yang nyaris terlupakan.
Ia datang bukan hanya membawa kotak obat dan stetoskop. Ia datang membawa rasa hormat. Membawa senyum. Membawa harapan.
Tak hanya mengobati luka fisik, Wike juga menyembuhkan luka sosial. Ia mengangkat kisah masyarakat lewat media sosial—bukan untuk mencari popularitas, tapi untuk menunjukkan bahwa mereka ada, bahwa mereka layak untuk dilihat, didengar, dan diperjuangkan.
Namun ironi muncul. Di tengah dedikasi yang tanpa pamrih, Wike justru mendapat tudingan kejam: mengeksploitasi Orang Asli Papua demi konten.
Tuduhan yang datang dari oknum ASN—orang yang seharusnya memahami arti pengabdian.
Padahal…
Tak satu pun warga merasa dirugikan.
Tak ada yang melarangnya memotret atau bercerita.
Justru mereka bersyukur karena akhirnya ada yang bersuara untuk mereka.
Tuduhan yang tak berdasar, mengingat warga yang dibantu Wike tak pernah merasa dirugikan—justru merasa didengar, dihargai, dan diperhatikan.
"Kami senang ada orang seperti Ibu Wike. Dia datang bukan hanya obati kami, tapi juga buat kami merasa dihargai sebagai manusia," ungkap seorang warga yang pernah dibantu
Maka kita bertanya: Apakah menyuarakan realita kini dianggap salah?
Apakah memperlihatkan kebaikan dianggap pamer?
Apakah seorang honorer tak boleh bersuara hanya karena statusnya?
Hari ini, suara kebaikan dari Papua sedang diuji. Dan hari ini juga, kita memilih untuk tidak diam.
Kita berdiri bersama Wike. Bersama kemanusiaan. Bersama suara-suara kecil yang lama dipinggirkan.
Wike adalah sosok yang bekerja dalam diam, tanpa sorotan, tanpa gaji besar, namun membawa dampak luar biasa. Ia adalah contoh nyata bahwa kemanusiaan tak butuh jabatan tinggi—cukup hati yang tulus dan aksi nyata.
Hari ini, suara masyarakat Papua dan seluruh pendukung kebaikan bersatu: #SaveBidanWike. Karena Papua tak butuh lebih banyak kritik yang menjatuhkan—Papua butuh lebih banyak Wike.
ASN sejati adalah mereka yang mendukung perjuangan di garis depan, bukan yang menjatuhkannya dari balik meja. (Mustofa, Redaktur fajarpapua.com)








