Timika, fajarpapua.com – Kasus bullying yang menimpa seorang siswa SMP Negeri 7 Timika memantik keprihatinan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Mimika, Andrian Andhika Thie.
Anggota DPRK Mimika dari PDIP ini menegaskan, kejadian ini harus menjadi alarm darurat bagi semua pihak untuk bergerak cepat.
"Ini bukan pertama kali terjadi, tapi jangan sampai dianggap biasa. Korban bisa trauma berat, sementara pelaku justru bangga. Ini bahaya bagi masa depan anak-anak kita," tegas Thie, Senin (5/5).
Adrian menekankan pentingnya kolaborasi tiga pilar: orang tua, sekolah, dan aparat hukum.
"Sekolah harus menindaklanjuti dengan tegas, orang tua pelaku dan korban perlu mediasi, sementara Dinas Perlindungan Anak wajib turun tangan. Ini bukan hanya soal hukum, tapi juga pembinaan karakter," ujarnya.
Ia menyayangkan fakta pendidikan di Mimika dinilai masih gagal membangun akhlak mulia, meski secara akademik mungkin cukup baik.
"Anak-anak (pelaku), apalagi di bawah umur, harus dididik ulang. Papua, khususnya Mimika, punya nilai adat yang menjunjung tinggi sopan santun dan kebersamaan. Jangan sampai budaya asli kita tergerus oleh perilaku individualis seperti ini,"tambahnya
Menurutnya, kasus ini membuktikan bahwa sistem pendidikan masih abai terhadap pembentukan karakter.
"Kita ingin anak-anak Papua jadi generasi yang membangun daerah, bukan merusak masa depan sesamanya. Perlu pendekatan holistik: dari rumah, sekolah, hingga lingkungan,"paparnya.
Ia mendesak sekolah-sekolah untuk memperkuat program antiperundungan dan mengintegrasikan nilai-nilai kearifan lokal dalam kurikulum.
Ia juga mengkritik anggapan bahwa Mimika "baik-baik saja" dalam hal pendidikan.
"Ini tamparan keras. Bagaimana kita bisa bicara kemajuan jika anak-anak masih saling menyakiti? Mari jadikan momentum ini untuk merevitalisasi komitmen kita terhadap perlindungan anak,"serunya.
Ia juga mengatakan Stop Bullying bisa dilaksanakan jika langkah konkret seperti pemberian sanksi tegas bagi pelaku sesuai UU Perlindungan Anak, program mediasi melibatkan psikolog untuk korban dan pelaku, pelatihan guru dalam mendeteksi dan mencegah perundungan dan kampanye masif di media sosial dan komunitas tentang dampak bullying.
"Kita tidak boleh mundur ke belakang. Mari rawat anak-anak ini agar menjadi generasi berempati, cerdas, dan beradab. Mimika dan Papua menunggu kontribusi positif mereka,"tutup Adrian penuh harap.
Dengan langkah serius ini, diharapkan Mimika tidak hanya menghentikan lingkaran perundungan, tetapi juga menjadi contoh pembangunan karakter berbasis kearifan lokal di tanah Papua. (moa)








