Timika, fajarpapua.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan bahwa Kabupaten Mimika memasuki puncak periode curah hujan tertinggi pada bulan Juli ini.
Masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak yang ditimbulkan, terutama potensi banjir, genangan air, dan gangguan aktivitas harian.
Forecaster BMKG Mimika, Marsa Reza, menjelaskan berdasarkan data klimatologi selama 30 tahun terakhir, bulan Juli secara konsisten mencatat curah hujan paling tinggi dibanding bulan lainnya dalam musim hujan yang berlangsung dari Juni hingga Agustus.
“Secara klimatologis, puncak musim hujan di Timika memang terjadi pada Juli. Intensitas dan durasi hujannya meningkat drastis. Hujan bisa turun sejak dini hari, berlangsung sepanjang hari, bahkan hingga keesokan harinya,” jelas Reza.
Ia menambahkan, tingginya curah hujan disebabkan oleh peralihan monsun Timur, di mana angin dominan berasal dari arah Tenggara.
Pola angin ini memicu pembentukan awan-awan hujan dalam jumlah besar di wilayah Mimika.
“Angin dari Tenggara membawa banyak uap air, sehingga awan hujan terbentuk lebih padat dan meluas,” ujarnya.
Namun, Reza juga mengingatkan kondisi cuaca di Timika tergolong kompleks dan kerap dipengaruhi faktor lokal, sehingga perubahan cuaca bisa terjadi secara tiba-tiba dan tidak selalu sesuai prediksi.
“Kondisi geografis dan lokalitas Timika membuat prediksi kadang sulit. Oleh karena itu, kami minta warga selalu bersiap dengan payung atau jas hujan, dan lebih berhati-hati saat berkendara maupun beraktivitas di luar rumah,” tandasnya.
BMKG juga mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk mengantisipasi dampak lain seperti tanah longsor di daerah perbukitan serta gangguan infrastruktur akibat hujan deras yang berkepanjangan. (mas)