Timika, fajarpapua.com – Gereja Kristen Injili (GKI) di Tanah Papua Klasis Mimika menggelar Ibadah Kebaktian Penyegaran Iman dalam rangka menyongsong Hari Ulang Tahun (HUT) Pekabaran Injil (PI) ke-171 Tahun di Tanah Papua.
Kegiatan ini berlangsung di Gedung Eme Neme Yauware, Jalan Budi Utomo, Timika, Papua Tengah, Selasa (3/2).
Kebaktian penyegaran iman tersebut mengangkat tema “Pertobatan Mendatangkan Keselamatan” dan dipimpin oleh Pdt. Yance Numberi dengan landasan Firman Tuhan dari Kitab Yunus 3:1-10.
Kegiatan ini bertujuan untuk memperingati masuknya Injil di Tanah Papua yang telah memasuki usia 171 tahun, meningkatkan pertumbuhan iman jemaat GKI di lingkup Klasis Mimika, serta mengenang jasa para pekabar Injil yang telah meletakkan dasar iman Kristen di Tanah Papua.
Bupati Mimika Johannes Rettob dalam sambutannya yang dibacakan Sekretaris Daerah (Sekda) Mimika Abraham Kateyau menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada GKI di Tanah Papua, khususnya Klasis Mimika, beserta panitia dan seluruh jemaat yang telah menyukseskan kegiatan rohani tersebut.
“Peringatan HUT Pekabaran Injil ke-171 tahun ini mengingatkan kita akan perjalanan panjang masuknya Injil di Tanah Papua yang telah membawa terang, pengharapan, serta perubahan dalam kehidupan masyarakat Papua,” ujar Sekda Kateyau.
Ia menegaskan nilai-nilai Injil seperti kasih, keadilan, kejujuran, dan pengabdian harus terus dihidupi dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam keluarga, gereja, maupun dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.
“Kebaktian penyegaran iman ini menjadi momentum penting untuk memperbarui iman, memperkuat persekutuan, serta meneguhkan panggilan kita sebagai umat Tuhan untuk hidup dalam kasih, damai, dan persaudaraan,” katanya.
“Pemerintah Kabupaten Mimika berkomitmen untuk terus mendukung kehidupan keagamaan yang rukun dan harmonis serta menjalin sinergi dengan seluruh elemen gereja dan masyarakat demi terwujudnya Mimika yang aman, sejahtera, dan bermartabat,” lanjutnya.
Sementara itu, Ketua Klasis GKI Mimika Junus Maurits Bonsapia, S.Th, dalam sambutannya mengingatkan kembali makna sejarah kedatangan Ottow dan Geissler di Pulau Mansinam, Manokwari, pada 5 Februari 1855.
“Kedatangan Ottow dan Geissler bukan untuk membawa kekuasaan atau kepentingan pribadi, melainkan membawa kabar keselamatan, yaitu Injil Yesus Kristus bagi Tanah Papua,” ujarnya.
Menurutnya, Injil merupakan terang yang menyelamatkan orang Papua dan semua yang mendiami Tanah Papua.
Pekabaran Injil bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan bukti nyata kasih Allah yang mengubah kehidupan dari gelap menuju terang, dari keputusasaan menuju pengharapan, serta dari perpecahan menuju persaudaraan.
“Injil melalui gereja mengajarkan nilai-nilai kehidupan di semua sektor, mulai dari pendidikan, sosial, hingga hidup dalam takut akan Tuhan,” tutupnya. (mas)







