Lewati ke konten utama

Malaria di Mimika Tembus 118 Ribu Kasus, YACP Ajak Media Ikut KAS BUNYI

Redaksi Fajar PapuaPenulis
11.44 WIT4 menit baca49 dibaca
YACP mengajak media lokal di Mimika memperkuat edukasi dan kampanye pencegahan malaria melalui Program KAS BUNYI.
YACP mengajak media lokal di Mimika memperkuat edukasi dan kampanye pencegahan malaria melalui Program KAS BUNYI.Foto / Mimika
Bagikan berita ini
Aa

Timika, fajarpapua.com – Kasus malaria di Kabupaten Mimika masih menjadi persoalan serius. Hingga 22 September 2026, tercatat 118.314 kasus positif malaria, dengan Annual Parasite Incidence (API) mencapai 556,04 per 1.000 penduduk.

Mimika juga masih berada dalam kategori endemis tinggi III pada peta endemisitas malaria 2026.

Tingginya kasus tersebut menunjukkan bahwa malaria tidak dapat hanya dipandang sebagai persoalan layanan kesehatan semata. Pengendaliannya membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk media, untuk memperkuat kesadaran masyarakat tentang pencegahan, pemeriksaan dini hingga kepatuhan menjalani pengobatan.

Kondisi inilah yang mendorong Yayasan Amungsa Cares Papua (YACP) mengajak media lokal di Mimika mengambil peran lebih besar melalui Program KAS BUNYI.

Manajer Program YACP, Febian Kakisina, mengatakan media memiliki posisi strategis karena mampu menyampaikan informasi kesehatan secara langsung kepada masyarakat, mulai dari keluarga, sekolah, komunitas hingga kampung.

“Malaria tidak cukup dilawan hanya dengan obat dan pelayanan kesehatan. Kita juga harus memastikan masyarakat menerima informasi yang benar, berulang, dan mudah dipahami. Di sinilah media memiliki peran besar. Media dapat membantu mengubah data menjadi pengetahuan, pengetahuan menjadi kesadaran, dan kesadaran menjadi tindakan,” ujar Febian dalam siaran pers YACP, Sabtu (3/10/2026).

Angka Kasus Tinggi, Tantangan Pengendalian Masih Besar

Data capaian malaria Provinsi Papua Tengah yang diperbarui hingga 22 September 2026 menunjukkan masih besarnya tantangan pengendalian malaria di Mimika.

Selain mencatat 118.314 kasus positif, data tersebut juga mencatat dari 3.537 orang yang menjalani skrining, sebanyak 2.665 tercatat dalam capaian tersebut.

Sementara itu, capaian pengobatan standar malaria berada di angka 90,27 persen, masih di bawah target program sebesar 95 persen.

Penemuan kasus juga masih lebih banyak dilakukan tenaga kesehatan dengan capaian 84,86 persen, sedangkan kontribusi kader berada di angka 15,14 persen.

Menurut YACP, angka-angka tersebut tidak boleh berhenti sebagai laporan statistik. Data harus diterjemahkan menjadi informasi sederhana dan mudah dipahami masyarakat sehingga dapat mendorong perubahan perilaku.

Masyarakat diharapkan segera memeriksakan diri ketika mengalami gejala malaria, mengonsumsi obat sesuai anjuran hingga tuntas, tidur menggunakan kelambu, melindungi kelompok rentan seperti ibu hamil dan anak-anak, serta menjaga lingkungan agar tidak menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.

KAS BUNYI Dorong Data Menjadi Aksi

Melalui Program KAS BUNYI, YACP mengusung pesan “Data Harus Menjadi Aksi” dengan semangat TOKEN: Temukan, Obati, Kendalikan.

Program tersebut diarahkan untuk memperkuat edukasi malaria di sekolah dan komunitas, kampanye publik, komunikasi melalui media massa dan platform digital, dialog, podcast hingga produksi materi dokumentasi dan sosialisasi.

YACP ingin memastikan pesan pencegahan malaria tidak hanya muncul ketika kasus meningkat, tetapi terus disampaikan secara konsisten dalam kehidupan masyarakat.

Febian mengatakan pemberitaan malaria juga tidak seharusnya hanya ramai ketika terjadi lonjakan kasus atau ketika pemerintah menggelar agenda tertentu.

Menurutnya, media dapat menjadi mitra edukasi kesehatan publik dengan menghadirkan informasi praktis dan berkelanjutan.

“Kalau pesan malaria hanya muncul sesekali, dampaknya akan terbatas. Kita membutuhkan suara yang terus berbunyi. Program KAS BUNYI ingin berjalan bersama media agar pesan pencegahan malaria hadir secara konsisten dan menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat,” katanya.

YACP Ajak Media Tidak Hanya Memberitakan Kasus

YACP mengajak media lokal di Mimika memperkuat pemberitaan malaria berbasis data sekaligus menghadirkan edukasi yang dapat langsung diterapkan masyarakat.

Media juga didorong memberikan ruang kepada tenaga kesehatan, kader, sekolah dan komunitas untuk menyampaikan pengalaman serta informasi mengenai pencegahan malaria.

Langkah tersebut dinilai penting karena upaya eliminasi malaria di Mimika masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari mobilitas penduduk yang tinggi, kondisi geografis, lingkungan yang mendukung perkembangan vektor, penguatan surveilans dan kualitas data, faktor sosial budaya hingga kebutuhan koordinasi lintas sektor.

“Kami percaya media lokal dapat menjadi salah satu kekuatan penting dalam mendorong perubahan perilaku dan mendukung penurunan kasus malaria di Mimika,” tegas Febian.

YACP berharap kolaborasi antara pemerintah daerah, Dinas Kesehatan, fasilitas pelayanan kesehatan, tenaga medis, kader, sekolah, komunitas, media dan mitra pembangunan semakin diperkuat untuk mendukung pengendalian malaria di Mimika.

Komentar (0)

Komentar disimpan di perangkat Anda untuk pratinjau UI. Integrasi server mengikuti modul komentar yang sudah ada di admin.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.