Lewati ke konten utama

Festival Seni Budaya 2026 Mimika Angkat Warisan Amungme-Kamoro

Redaksi Fajar PapuaPenulis
14.53 WIT3 menit baca116 dibaca
Elisabeth Cenawatin
Elisabeth CenawatinFoto / Mimika
Bagikan berita ini
Aa

Timika, fajarpapua.com – Pemerintah Kabupaten Mimika melalui Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menggelar Festival Seni Budaya 2026 untuk memperkenalkan sekaligus melestarikan warisan budaya masyarakat Amungme dan Kamoro kepada generasi muda.

Festival yang mengusung tema “Merawat Cerita, Menghidupkan Musik, Melestarikan Budaya di Tanah Amungsa Bumi Kamoro” tersebut berlangsung di halaman Pasar Lama, Jalan Yos Sudarso, Timika, 5-8 Oktober 2026.

Kegiatan ini melibatkan 29 sekolah tingkat SMP, SMA dan SMK serta sekitar 30 peserta dari sanggar seni dan pelaku ekonomi kreatif.

Beragam kekayaan budaya ditampilkan dalam festival tersebut, mulai dari cerita rakyat, musik tradisional, tarian, pakaian adat, kerajinan tangan hingga kuliner khas daerah.

Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mimika, Elisabeth Cenawatin, mengatakan pemerintah memiliki tanggung jawab untuk memastikan kebudayaan daerah tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Yang paling utama, pemerintah mempunyai kewajiban untuk melindungi, menjaga, mempromosikan dan melestarikan adat dan budaya. Ini khususnya budaya dua suku, Amungme dan Kamoro,” kata Elisabeth usai pembukaan festival, Senin (5/10/2026).

Menurutnya, pelestarian budaya tidak cukup dilakukan melalui kegiatan seremonial. Karena itu, keterlibatan generasi muda menjadi salah satu fokus utama festival.

“Kami ingin anak-anak muda tidak lupa akan adat dan budaya mereka. Kami ingin ini menjadi program tahunan,” ujarnya.

Pelibatan pelajar dalam festival tersebut juga telah dipersiapkan sejak sekitar tiga bulan sebelumnya melalui pelatihan musik tradisional.

Pemerintah bahkan menghadirkan pelatih dari Jayapura untuk membimbing para siswa mengenal dan memainkan berbagai alat musik tradisional.

“Sekolah-sekolah sudah kami ikutkan sekitar tiga bulan lalu. Saat festival ini mereka tampil dan kami lombakan dari tingkat SMP, SMA dan SMK,” jelas Elisabeth.

Selain musik tradisional, pemerintah juga mulai melakukan pendokumentasian cerita rakyat masyarakat Amungme dan Kamoro.

Proses dokumentasi melibatkan tim ahli dari Kementerian Kebudayaan, tim ahli cagar budaya Papua Tengah, kepala suku, tokoh adat, pemuda hingga masyarakat.

Langkah tersebut dilakukan agar cerita dan pengetahuan tradisional yang selama ini diwariskan secara lisan memiliki dokumentasi yang dapat dipelajari generasi mendatang.

Budaya Jadi Kekuatan Ekonomi

Ketua Panitia Festival Seni Budaya 2026, Daniel Orun, mengatakan kekayaan budaya Mimika memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi kreatif.

Menurutnya, budaya Amungme dan Kamoro tidak hanya berupa tarian atau musik, tetapi juga mencakup cerita rakyat, kerajinan, kuliner serta berbagai kearifan lokal.

Sekitar 30 peserta dari sanggar dan pelaku ekonomi kreatif turut ambil bagian dalam pameran dengan menampilkan produk berupa ukiran, anyaman, kuliner dan karya berbasis budaya lokal.

“Festival budaya, pameran kerajinan dan kuliner ini dirancang sebagai wujud komitmen dalam melestarikan kekayaan budaya lokal sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi kerakyatan,” kata Daniel.

Sementara itu, Staf Ahli Bupati Mimika Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia, Fransiskus Bokeyau, mengajak generasi muda menjadikan festival tersebut sebagai momentum untuk menumbuhkan kembali kecintaan terhadap budaya daerah.

Menurutnya, Mimika tidak hanya kaya akan sumber daya alam, tetapi juga memiliki kekayaan cerita dan tradisi yang menjadi identitas masyarakat.

“Setiap lembah, setiap sungai, setiap gunung menyimpan cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi,” katanya.

Pemerintah Kabupaten Mimika berharap Festival Seni Budaya 2026 dapat berkembang menjadi agenda tahunan dengan keterlibatan yang semakin luas, mulai dari sekolah, sanggar seni, seniman, tokoh adat, pemuda hingga masyarakat.