Manokwari, fajarpapua.com- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim hujan di wilayah Provinsi Papua Barat akan terjadi secara konsisten pada akhir Oktober 2026 atau dasarian ketiga.
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas III BMKG Papua Barat Sony Hartono saat ditemui di Manokwari, Rabu mengatakan, hujan dalam beberapa hari belakangan dipengaruhi kondisi atmosfer yang belum stabil.
“Musim hujan belum masuk ke wilayah Papua Barat. Kalau yang terjadi dalam beberapa hari ini dipengaruhi kondisi tertentu, sehingga cuaca menjadi labil,” ujar Sony.
Dia menyebut bahwa hujan yang konsisten berdampak signifikan terhadap pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta pengurangan kabut asap di sejumlah wilayah, termasuk Manokwari.
Kabut asap karhutla yang menyelimuti Manokwari berasal dari Fakfak dan Teluk Bintuni, serta Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan, dipengaruhi arah angin bergerak dari timur menuju barat.
“Manokwari terdampak karhutla di Fakfak dan Teluk Bintuni (Papua Barat), serta Merauke. Sekarang arah angin berbelok ke arah Timika, Papua Tengah dan Sorong, Papua Barat Daya, hingga ke Maluku,” ujarnya.
Berdasarkan prakiraan, kata dia, potensi hujan sedang hingga lebat terjadi di Teluk Bintuni dan Teluk Wondama pada 15-16 Oktober 2026, sedangkan pada 17 Oktober 2026 potensi hujan hanya terjadi di Teluk Bintuni.
Selain itu, tinggi gelombang diprediksi antara 1,25-2,5 meter di perairan Samudera Pasifik dan utara Manokwari yang berisiko terhadap keselamatan aktivitas pelayaran, seiring dengan kecepatan arah angin 15-16 knot.
“Secara umum, kondisi cuaca berawan dengan udara kabur akibat asap karhutla,” ujarnya.(ant)









