Yohanes Wonaipai Nawipa, Alumni SD YPPK Kokonao Mimika Kini Jadi Legenda Pelukis Senior Meepago

by -
Yohanes Wonaipai Nawipa
Yohanes Wonaipai Nawipa dan karya lukisannya.

Timika, fajarpapua.com – Nama Yohanes Wonaipai Nawipa atau yang biasa disapa Opa John mungkin tidak banyak dikenal warga Mimika. Ternyata, pria yang kini menjadi pelukis senior Meepago itu mengenyam pendidikan di SD YPPK Kokonao, saat Mimika masih dibawah kabupaten induk Fakfak.

Ia menjadi pelukis sejak era tahun 1980-an hingga kini.

Kebanyakan, Opa John melukis di gereja. Salah satu lukisannya pada tahun 1980-an yang hingga kini masih terpampang di depan Gereja Katholik St. Elisabeth Sinak-Puncak.

Lukisannya selalu unik, dengan bahan dasar hanya cat, minyak, dan air putih ia mampu mengambarkan objek semirip mungkin.

Pria asal Kampung Kogenepa (Agapo) Distrik Ekadide Kabupaten Paniai-Papua itu merupakan anak seorang guru (Kosmas Pogii Nawipa). Opa John tamat sekolah guru Katolik di Kokonao-Fak-fak pada akhir tahun 50-an hingga awal 60-an.

Dalam keluarganya, ia sendiri yang menjadi guru SD. Dedikasinya sebagai tenaga pendidik sejak tahun 1980-an. Bahkan di usia senjanya, kini Opa John masih mengajar di salah satu SD YPPK Okeiyakagouto Distrik Wegebino, Kabupaten Paniai.

“Saya mengenalnya sebagai pelukis unik, yaitu sejak awan tahun 90-an di Sinak Puncak. Dia pernah melukis Adam dan Hawa sambil memetik buah larangan Allah dan gambar Tuhan Yesus,” ungkap Petrus Tuuwiyai Nawipa, keluarga Opa John kepada fajarpapua.com, Jumat (16/4).

Dikatakan, melukis merupakan bagian dari seni kehidupan Opa John. Seni mengimplementasikan salah satu aspek (psikomotorik) dari tiga aspek pendidikan (kognitif, afektif dan psikomotorik).

“Saya melihat beliau punya keistimewaan luar biasa. Menjadi pelukis dengan menggunakan alat dan bahan manual tapi nilai seni sangat luar biasa, padahal sekarang era elektronik,” pungkasnya.

Petrus menandaskan, sosok Opa John bisa jadi legenda seni Meepago. Apalagi jarang generasi Papua menggemari keahlian melukis.

“Kepemilikan potensi diri, tentu beda/unik. Keunikannya itu bergantung bagaimana dia mengembangkannya. Setiap orang memiliki potensi yang berbeda, perbedaannya mencerminkan kita sebagai citra Allah (imago Dei) yang unik di jagad raya ini. Karena dahulu kala Allah sudah melukis/mendesain kita sedemikian rupa, hingga memberi kita nafas untuk hidup adalah merupakan citra/ciptaan-Nya,” paparnya.