BERITA UTAMAMIMIKA

Biaya Transportasi ke Satu Wilayah di Mimika Ini Seharga 1 Unit Mobil, Harga Tiket ke Amerika Masih Lebih Murah

cropped cnthijau.png
36
×

Biaya Transportasi ke Satu Wilayah di Mimika Ini Seharga 1 Unit Mobil, Harga Tiket ke Amerika Masih Lebih Murah

Share this article
Freeport membangun 2 jembatan di Hoeya
Freeport membangun 2 jembatan di Hoeya

Timika, fajarpapua.com – Selama ini dunia luar mengenal Mimika hanya karena tambang emas dan tembaganya yang menempati urutan ketiga dunia. Padahal Mimika menyimpan banyak cerita yang bisa membuat siapa saja geleng kepala.

Seperti halnya biaya transportasi ke salah satu distrik yakni Distrik Hoeya. Ternyata, untuk bisa pergi pulang ke tempat tersebut dari kota Timika, warga harus merogoh kocek seharga satu unit mobil. Artinya harga perjalanan ke Amerika masih lebih murah. Kok bisa?

ads

Terletak di sebelah timur Kabupaten Mimika, distrik Hoeya mencakup wilayah seluas 563,78 kilometer persegi. Terdapat 1.361 jiwa yang menempati distrik tersebut.

Terdapat 6 kampung di distrik Hoeya yakni kampung Hoeya, Jawa, Jinonin, Kulama Ogom, Mamontoga dan Puti.

Secara geografis, distrik Hoeya berada di dataran tinggi Kabupaten Mimika. Sehingga untuk mencapai daerah tersebut, warga harus menggunakan moda transportasi udara. Sedangkan jalan darat tidak mungkin, sebab topografi daerah tersebut diliputi jurang-jurang terjal.

Mantan Kadistrik Hoeya, Karel Kuum mengaku kewalahan jika harus bepergian ke Kota Timika.

”Selama ini kalau mau naik kami kumpul dana baru sewa helikopter. Kalau ada warga yang sakit dan harus dirawat di Timika kami juga patungan kumpul uang baru sewa helikopter yang nilainya ratusan juta,” kata Karel Kuum kepada wartawan di depan kantor Lemasa, beberapa waktu lalu.

Biaya sewa helikopter sangat mahal. Dari Kota Timika ke Hoeya sekali terbang Rp 60 juta. Sehingga total biaya pulang pergi Rp 120 juta. Nilai sebesar itu bisa membeli satu unit mobil kan? Artinya ke Hoeya masih lebih murah dibanding pulang pergi ke Amerika yang harga tiketnya sekitar Rp 50 an juta.

Karel mengaku dalam forum OPD kali lalu Distrik Hoeya hanya usulkan pembangunan Lapangan Terbang (Lapter). Dengan adanya Lapter berarti pesawat kecil sudah bisa melayani masyarakat wilayah itu.

Mujurnya, jika Pemkab membangun Lapter di Hoeya, sudah bisa melayani semua warga 6 kampung Distrik Hoeya yang berjumlah 1000 lebih KK itu.

“Selama ini masyarakat tidak bisa kemana- mana karena tidak ada transportasi. Transportasi satu- satunya adalah helikopter. Memang lahan untuk Lapter sudah warga buka yang panjangnya hampir 700 meter. Tinggal Pemkab bantu buat rata landasan pacu supaya pesawat bisa mendarat,” harapnya.(ana)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *