BERITA UTAMAPAPUA

Tahun 2024 Smelter Senilai Rp 22,3 Triliun Mulai Produksi, 50 Ton Emas Freeport Dibeli PT Antam

cropped 895e2990 d422 4061 9705 e533253f1607.jpg
15
×

Tahun 2024 Smelter Senilai Rp 22,3 Triliun Mulai Produksi, 50 Ton Emas Freeport Dibeli PT Antam

Share this article
IMG 20220913 WA0003
Foto: Dok. Presiden RI, Joko Widodo saat meresmikan pembangunan smelter PT Freeport Indonesia di Gresik Tahun 2021 lalu.

Jakarta, fajarpapua.com – PT Freeport Indonesia menyebut bahwa PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) akan membeli 30-50 ton emas yang diproduksi dari fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) tembaga baru Freeport di Gresik, Jawa Timur.

Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Tony Wenas mengatakan hal tersebut saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR RI, Senin (12/9) kemarin.

Ads

Tony mengatakan, progres pembangunan smelter di Gresik pada 2022 ini ditargetkan mencapai 50 persen atau dengan biaya yang akan dikeluarkan US$ 1,5 miliar atau sekitar Rp 22,3 triliun (asumsi kurs Rp 14.900).

Proyek smelter yang mengolah 1,7 juta ton konsentrat tembaga ini ditargetkan tuntas di Desember 2023, lalu dilanjutkan dengan uji coba atau commissioning, sehingga ditargetkan bisa mulai memproduksi emas pada Mei 2024.

“Kalau untuk produknya, offtaker (pembeli) untuk emas direncanakan Antam yang akan beli. Jadi, emas kita yang akan diproduksikan 30-50 ton per tahun akan di-offtake oleh Antam dan asam sulfat akan di-offtake oleh Petrokimia Gresik dan Pupuk Indonesia. Sementara untuk slag tembaga akan diambil oleh Semen Gresik dan Semen Indonesia,” paparnya.

Tony menjelaskan, bila smelter baru ini beroperasi, maka artinya Indonesia akan memiliki tambahan produksi katoda tembaga menjadi 500-600 ribu ton per tahun dari saat ini 300 ribu ton katoda tembaga per tahun.

Namun demikian, dari produksi katoda tembaga yang ada saat ini saja, sekitar 50 persen atau sekitar 150 ribu ton masih diekspor karena tidak diserap oleh industri di dalam negeri.

Oleh karena itu, pihaknya meminta agar industri penyerap katoda tembaga di Tanah Air juga dibangun dan dikembangkan, sehingga produksi katoda tembaga dari smelter mereka bisa ikut terserap oleh industri domestik.

“Kalau industri hilirnya gak tumbuh, ini 100 persen akan diekspor juga. Jadi, ini peluang yang sayang sekali bahwa ini harusnya kemudian menarik investor yang lebih hilir lagi, contoh pabrik kabel mobil listrik dan renewable energy,” tuturnya.

Tony mengatakan, hingga akhir Juli 2022 pembangunan fisik smelter Gresik ini telah mencapai 36,2 persen dan telah menyerap US$ 1,2 miliar dari total investasi hingga akhir sebesar US$ 3 miliar atau sekitar Rp 45 triliun.

Pada tahun ini jumlah pekerja konstruksi telah mencapai 5.000 orang dan pada 2023 diperkirakan bertambah lagi menjadi 10 ribu orang. Adapun saat pembangunan puncaknya diperkirakan membutuhkan hingga 15 ribu pekerja di mana hampir 100 persen merupakan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dan 50 persen di antaranya tenaga kerja lokal dari Jawa Timur.

Seperti diketahui, pada 12 Oktober 2021 Presiden Joko Widodo meresmikan proses awal pembangunan pabrik smelter (groundbreaking) baru Freeport ini di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Gresik, Jawa Timur.

Presiden pun mengungkapkan rasa bangganya. Pasalnya, bila smelter ini sudah terbangun, maka ini akan menjadi smelter single line terbesar di dunia. (cnbc)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *