BERITA UTAMAMIMIKA

Baru Dua SMP di Timika yang Terapkan Kurikulum Merdeka Belajar, Kabid SMP: Harus Ada Guru Penggerak

cropped cnthijau.png
13
×

Baru Dua SMP di Timika yang Terapkan Kurikulum Merdeka Belajar, Kabid SMP: Harus Ada Guru Penggerak

Share this article
Foto: Febri Nampak gedung SMP Negeri 2 Timika yang telah menerapkan kurikulum merdeka dalam kegiatan belajar mengajar.
Foto: Febri Nampak gedung SMP Negeri 2 Timika yang telah menerapkan kurikulum merdeka dalam kegiatan belajar mengajar.

Timika, fajarpapua.com – Sejak dimulainya tahun ajaran 2022-2023, Kurikulum Merdeka Belajar (KMB) sudah diperbolehkan untuk diterapkan setiap sekolah di seluruh Indonesia.

Namun, hingga kini baru dua SMP yang ada di Kabupaten Mimika yang menerapkan kurikulum tersebut, yakni SMP Sentra Pendidikan dan SMP Negeri 2 Mimika.

ads

Kepala Bidang SMP, Dinas Pendidikan Kabupaten Mimika, Manto Ginting kepada fajarpapua.com, Jumat (30/9) mengatakan hingga saat ini baru dua sekolah tersebut diatas yang menerapkan kurikulum merdeka.

Manto menyebutkan pihaknya sebenarnya sudah menyebarkan pemberitahuan informasi terkait penerapan kurikulum merdeka sejak tahun lalu.

Namun, kata dia, masih terdapat sejumlah kendala yang dimiliki beberapa sekolah sehingga belum dapat menerapkan kurikulum merdeka.

“Sekolah yang mendaftar harus dapat memenuhi persyaratan yang ada, salah satunya memiliki guru penggerak,” ujarnya kepada fajarpapua.com, Jumat (30/9).

Terkait minimnya sekolah yang menerapkan kurikulum merdeka, Saat ini pihaknya tengah mengejar untuk pempersiapkan guru penggerak.

“Persiapan guru penggerak itu telah dilakukan sejak tahun lalu, namun dengan adanya pandemi sehingga pelaksanaannya masih terbatas,” urainya.

Manto menyebutkan, selain guru penggerak, ada juga beberapa sekolah yang merasa belum urgent untuk menerapkan kurikulum merdeka di sekolahnya.

Hal itu dirasa wajar karena kurikulum merdeka sesungguhnya tidak jauh berbeda dengan Kurikulum Tahun 2013 atau K13.

“Itu kan hanya penyempurnaan dari K13, tidak ada masalah. Karena model pembelajarannya saja yang sudah diberikan keleluasan kepada guru-guru,” katanya.

“Kalau dulu KTSP dan K13 itu kan guru yang menjadi sumber pembelajaran. Sekarang guru harus berubah mindsetnya sehingga memberikan kepada siswa seluas-luasnya untuk mengembangkan dirinya sesuai dengan kompetensinya,” lanjutnya.

Dengan demikian pihaknya berharap sekolah tidak terburu-buru mendafta untuk penerapan kurikulum merdeka sehingga sekolah memiliki banyak waktu untuk mempersiapkan diri untuk lebih memahami kurikulum merdeka.

“Kepala sekolahnya lihat apa yang menjadi kekuatan mereka di sana dan kalau sudah siap ya dia ambil. Namun jika belum, tunggu dulu. Jangan memaksakan, ini kan bukan asal daftar saja. Dan alangkah baiknya persiapkan diri dulu, sama dengan kami yang sedang mempersiapkan diri sekarang ini lewat MoU bersama UNY dan Unas,” paparnya.

Manto menargetkan bahwa tahun depan jumlah sekolah yang mendaftar untuk menerapkan kurikulum tersebut akan bertambah dari jumlah yang ada saat ini.

“Tahun depan harus sudah berani untuk mengambil, entah itu Kurikulum Merdeka Mandiri atau Berubah. Kalau berubah ini kolaborasi, masih ada intervensi atau pendampingan dari pihak lain sehingga mereka mampu mengembangkan sesuai kurikulum itu sendiri, namun, jika mandiri mereka harus benar-benar sudah punya kompetensi yang memadai tanpa campur tangan orang lain lagi,” jelasnya.

Seperti diketahui kurikulum Mmerdeka Belajar sendiri adalah Kurikulum dengan pembelajaran intrakurikuler yang beragam.

Pembelajaran akan lebih maksimal agar peserta didik memiliki cukup waktu untuk mendalami konsep dan memperkuat kompetensinya.

Melalui kurikulum ini, guru dapat memilih perangkat ajar untuk menyesuaikan kebutuhan belajar dan minat masing-masing peserta didik.

Kurikulum merdeka nantinya akan digunakan untuk seluruh satuan pendidikan mulai dari PAUD, SD, SMP, SMA/SMK, Pendidikan Khusus dan Kesetaraan. Namun ada perbedaan dari Kurikulum Merdeka Belajar dengan kurikulum sebelumnya. (feb)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *