BERITA UTAMAMIMIKA

Bintangor Antara Reklamasi, Program Bio Diesel dan Komitmen Freeport Turunkan Emisi Karbon Hingga 30 Persen di Tahun 2030

cropped 895e2990 d422 4061 9705 e533253f1607.jpg
12
×

Bintangor Antara Reklamasi, Program Bio Diesel dan Komitmen Freeport Turunkan Emisi Karbon Hingga 30 Persen di Tahun 2030

Share this article
a2282fc1 181e 4f14 9666 38ec2bd995c3
General Superintendent Reclamation and Biodiversity Environmental PTFI, Robert Sarwom saat mendampingi Manager Waanal Brother FC menanam pohon Bintangor di area Mile 21, pekan kemarin. Foto: Isa

Penulis : Mustofa
(Redaktur fajarpapua.com)

BINTANGOR atau Bintangur yang dalam bahasa latin disebut Calophyllum merupakan salahsatu tumbuhan endemik yang banyak tumbuh di hutan Papua.

Klik Gambar Untuk Informasi Selanjutnya
Klik Gambar Untuk Informasi Selanjutnya

Selain di Papua, Bintangor yang dibeberapa daerah disebut dengan nama mentangor, aci serta betur juga banyak tumbuh di wilayah Kalimantan, Batam dan Bangka Belitung.

Selama ini Bintangor banyak digunakan masyarakat sebagai obat tradisional, bahkan masyarakat Papua memakai sebagai obat HIV, kanker dan berkhasiat menyembuhkan warga yang terkena serangan nyamuk malaria.

Sebagai tanaman yang memiliki usia panjang dan juga menjadi salahsatu pohon endemik serta memiliki fungsi yang komplet, tak ayal saat ini Bintangor menjadi primadona dalam program reklamasi di area tambang tentunya termasuk di kawasan Reclamation and Biodiversity Environmental PT Freeport Indonesia yang terletak di Mile 21.

“Di kalangan pertambangan, Bintangor ini sangat terkenal sebagai salahsatu tumbuhan yang digunakan dalam reklamasi,” ujar General Superintendent Reclamation and Biodiversity Environmental, Robert Sarwom kepada fajarpapua.com, pekan lalu.

Menariknya, Bintangor yang secara tradisional dikenal sebagai tanaman obat oleh masyarakat ternyata juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku produksi bio diesel.

Berdasar manfaat itulah, kedepannya PT Freeport Indonesia berencana menjadikan buah dari tanaman Bintangor sebagai bahan bio diesel kendaraan.

“Apalagi usia produksi Bintangor juga cukup cepat, pada usia 5 tahun sudah berbuah dan siap digunakan sebagai bahan baku bio diesel,” jelas Sarwom.

“Fungsinya juga hampir sama dengan pohon jarak yang lebih populer sebagai bahan baku bio diesel dan juga Bintangor juga cocok ditanam di area Sirsat yang beriklim hujan tropis,” tambahnya.

Meski tergolong baru sebagai salahsatu jenis baru yang ditanam di area reklamasi, Bintangor saat ini telah ditanam dilahan kurang lebih seluas 10 hektar. 

“Untuk Bintangor sudah ditanam di dua area, yaitu di area reklamasi Mile 21 Mimika dan disepanjang muara area dampak pertambangan,” jelasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *