BERITA UTAMANASIONAL

El Nino Lemah Picu Musim Kemarau yang Lebih Kering

cropped 895e2990 d422 4061 9705 e533253f1607.jpg
3
×

El Nino Lemah Picu Musim Kemarau yang Lebih Kering

Share this article
IMG 20221015 WA0014 copy 1280x832
Anggota Manggala Agni Pondok Kerja Sepaku memadamkan karhutla di Penajam, Kaltim, Jumat (14/10) setelah mendapat informasi dari BMKG adanya titik panas di kawasan itu.

Jakarta, fajarpapua.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau tahun ini lebih kering jika dibandingkan dengan periode tiga tahun terakhir yang terhitung sejak 2020, 2021, dan 2022.


“Kalau tiga tahun terakhir saat musim kemarau masih sering terjadi hujan, maka tahun ini intensitas hujan akan jauh menurun,” kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat. 

Ads

Dwikorita menuturkan kondisi kemarau yang lebih kering dibandingkan tiga tahun terakhir mengakibatkan potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan, sehingga pencegahan harus dilakukan sejak dini sebagai bentuk antisipasi. 

Menurut dia daerah yang perlu meningkatkan kewaspadaan adalah Sumatera dan Kalimantan.

 Berdasarkan hasil pemantauan BMKG, suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur saat ini menunjukkan intensitas La Nina yang terus melemah dengan indeks per Januari 2023 dasarian pertama sebesar -0,80 dan pada dasarian kedua adalah sebesar -0,65. 

Kondisi La Nina itu diprediksi terus melemah dan beralih menuju kondisi El Nino – Southern Oscillation (ENSO) pada Februari-Maret 2023. Kondisi ENSO Netral diprediksi terus bertahan hingga pertengahan tahun ini. Sedangkan untuk semester kedua tahun 2023 yang akan datang, lanjut Dwikorita, terdapat peluang sekitar 40 sampai 50 persen kondisi ENSO Netral akan bertahan hingga akhir tahun. 

Di sisi lain, ada pula peluang yang relatif sama bahwa kondisi ENSO Netral akan berkembang menjadi El Nino lemah terutama setelah periode Juni hingga Agustus 2023. 

“Berdasarkan catatan sejarah masa lalu, El Nino kategori lemah yang terjadi setelah pertengahan tahun umumnya berlangsung dengan durasi yang pendek,” jelas Dwikorita. 

Pada Oktober 2022 lalu, BMKG merilis informasi tentang fenomena iklim Triple Dip La Nina, yaitu kejadian La Nina yang berlangsung secara berurutan selama tiga tahun. Kondisi tersebut umumnya memberikan dampak terhadap relatif tingginya curah hujan pada tiga tahun terakhir. 

BMKG memprediksi sampai enam bulan ke depan hujan bulanan akan didominasi oleh kategori normal. Meskipun, secara volume curah hujan bulanan tahun ini relatif menurun dibandingkan curah hujan bulanan selama tiga tahun terakhir.

Adapun curah hujan bulanan kategori di atas normal berpeluang terjadi di Sumatra bagian utara, Kalimantan bagian timur dan utara pada Februari dan Maret 2023. Kemudian Bali, NTB, NTT, Sulawesi Utara, Maluku dan Maluku Utara pada Februari 2023 dan Papua bagian tengah dan selatan pada Juni 2023. 

Sedangkan, curah hujan kategori bawah normal berpeluang terjadi di sebagian Sumatra bagian tengah, sebagian Kalimantan bagian tengah, sebagian Sulawesi bagian tengah dan sebagian kecil Papua pada Februari-Maret 2023 dan sebagian besar Sumatera dan Jawa pada Mei dan Juni 2023. 

Pelaksana Tugas Deputi Bidang Klimatologi BMKG Dodo Gunawan mengatakan beberapa wilayah di pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara akan mengalami periode transisi atau peralihan musim dari musim hujan ke musim kemarau pada Maret sampai Mei 2023. 

Ketika periode peralihan musim tersebut, maka pemerintah daerah dan masyarakat perlu mewaspadai kemunculan fenomena cuaca ekstrem berupa hujan lebat, angin puting beliung, petir, dan angin kencang. 

Menurut dia, meskipun periodenya singkat namun tidak jarang memicu terjadinya bencana hidrometeorologi.(ant)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *