BERITA UTAMANASIONAL

Forum Komunikasi Mitigasi Risiko Krisis 2023, Lemhannas Temukan Aksi Kekerasan di Papua Meningkat di Era Jokowi

cropped 895e2990 d422 4061 9705 e533253f1607.jpg
4
×

Forum Komunikasi Mitigasi Risiko Krisis 2023, Lemhannas Temukan Aksi Kekerasan di Papua Meningkat di Era Jokowi

Share this article
bec20f72 91ee 42ba b817 27db9e196946
Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) Andi Widjajanto

Jakarta, fajarpapua.com– Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) Andi Widjajanto mengatakan aksi kekerasan di Papua cenderung meningkat di masa kepemimpinan Presiden Joko Widodo.

Andi menyebut temuan itu didapatkan dari satu putaran kajian yang dilakukan Lemhannas. Pada tahun ini, Lemhannas berencana melakukan tujuh putaran kajian tentang Papua.

Ads

“Temuannya memang menunjukkan kalau dari sisi data kuantitatif, aksi kekerasan Papua itu masih cenderung meningkat, di masa Pak Jokowi malah cenderung meningkat, itu temuan pertama,” kata Andi dalam Forum Komunikasi bertema Mitigasi Risiko Krisis 2023 di Kantor Lemhannas, Rabu (22/2).

Temuan kedua, Andi menjelaskan bahwa aksi kekerasan di Papua cenderung tidak berpola, kecuali terkait lokasi. Ia menyebut kekerasan yang tidak berpola itu mengkhawatirkan.

“Kalau lokasi kita bisa tahu, modusnya, terbanyaknya ada di mana, di kabupaten mana, wilayah mana, ada polanya, tapi selain lokasi tidak ada polanya,” kata Andi

“Dilakukan bulan apa, dilakukan dengan sebab apa, oleh kelompok apa, menyerang apa, tidak ada polanya, dan itu mengkhawatirkan karena tidak ada polanya,” imbuh dia.

Temuan lainnya, tidak ada korelasi antara indikator ekonomi, indikator sosial dengan aksi kekerasan di Papua.

“Misalnya naik turunnya gini ratio dengan aksi kekerasan, enggak ada korelasi. Dana otsus dengan aksi kekerasan, data menunjukkan tidak ada korelasi. Tingkat kemiskinan, tidak ada korelasi, pengangguran terbuka, tidak ada korelasi,” kata Andi.

Lantaran tidak berpola dan tidak ada korelasi dengan sejumlah indikator itu, Lemhannas masih mencari treatment untuk Papua.

“Temuannya tidak ada korelasi, dalam artian kita belum punya treatment tentang Papua, harus dicari treatment-nya apa untuk Papua tersebut, itu yang jadi PR Ibu Deputi untuk 6 (kajian) putaran berikutnya, bagaimana menemukan treatment untuk Papua,” kata dia.

Ia mengatakan pihaknya bakal memaparkan kajian itu dalam rapat tentang Papua di Kantor Staf Presiden.

“Hari Kamis besok akan ada rapat Papua di Bina Graha, kami diundang hadir untuk memaparkan temuan kami,” katanya. (CNN)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *