Timika, fajarpapua.com – Pemerintah Kabupaten Mimika melalui Dinas Kesehatan kembali menggencarkan Program Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) Kecacingan yang akan dilaksanakan mulai 1 Februari 2026 selama satu bulan penuh.
Program ini menyasar ribuan anak usia 1 hingga 12 tahun di seluruh wilayah Mimika, yang dinilai sebagai kelompok paling rentan terhadap penyakit kecacingan.
Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan Mimika, Kamaludin, menjelaskan bahwa dalam program ini setiap anak akan mendapatkan obat cacing Albendazole dosis tunggal.
“Mulai 1 Februari nanti, selama satu bulan penuh, anak-anak usia 1 sampai 12 tahun di Mimika akan diberikan obat cacing Albendazole dosis tunggal,” kata Kamaludin saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (19/1).
Ia menyebutkan, sebelumnya POPM kecacingan dilaksanakan bersamaan dengan POPM filariasis atau penyakit kaki gajah.
Namun, seiring Kabupaten Mimika yang kini telah memasuki tahap penilaian eliminasi filariasis, maka program yang masih berjalan secara rutin adalah POPM kecacingan.
“Sekarang filariasis sudah tidak POPM lagi. Yang terus kita lakukan setiap tahun adalah POPM kecacingan,” ujarnya.
Distribusi obat cacing akan dilakukan melalui sekolah-sekolah, Posyandu, serta pelayanan kesehatan di Puskesmas.
Sementara bagi anak-anak yang belum terjangkau, petugas kesehatan akan melakukan sweeping langsung ke lingkungan masyarakat.
Kamaludin menekankan pentingnya peran orang tua dalam mendukung keberhasilan program ini, khususnya memastikan obat yang dibagikan benar-benar dikonsumsi oleh anak-anak.
“Kami sangat berharap masyarakat mau menerima dan memastikan obat cacing itu diminum. Jangan sampai sudah dibagi, tapi hanya disimpan di rumah,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa penyakit kecacingan meski jarang menimbulkan kasus ekstrem, namun memiliki dampak serius terhadap tumbuh kembang anak.
Infeksi cacing dapat menyebabkan anemia, gangguan gizi, hingga menurunkan kecerdasan dan prestasi belajar.
“Percuma asupan gizi anak bagus kalau di dalam tubuhnya masih banyak cacing. Itu pasti berpengaruh ke kesehatan dan prestasinya di sekolah,” jelas Kamaludin.
Terkait penularan kecacingan, ia menyebut faktor utama berasal dari kebersihan diri dan lingkungan.
Telur cacing banyak ditemukan di tanah dan dapat masuk ke tubuh melalui kaki yang tidak beralas atau tangan yang kotor.
“Anak-anak yang sering bermain tanah tanpa alas kaki, kuku kotor, dan tidak cuci tangan berisiko tinggi,” tambahnya.
Program POPM kecacingan merupakan program nasional yang rutin dilaksanakan dua kali dalam setahun, yakni pada Februari dan Agustus, bertepatan dengan pemberian Vitamin A.
“Kita lakukan ini setiap tahun. Tujuannya jelas, untuk menekan dan mengeradikasi kecacingan pada anak-anak,” pungkas Kamaludin. (moa)


