Selama lima pekan pertempuran antara Amerika Serikat dan Iran sejak akhir Februari, klaim keberhasilan Washington dalam menekan Iran melalui serangan militer terus dikedepankan. Pentagon menyatakan telah menyerang lebih dari 11.000 target di Iran, namun kenyataannya menunjukkan tantangan besar dalam menakar efektivitas strategi tersebut.
Meski AS dan sekutunya mengklaim serangan besar-besaran telah melemahkan kemampuan rudal Iran, laporan intelijen terbaru mengungkap bahwa Iran tetap mampu mempertahankan arsenal rudalnya. Iran diketahui masih menyembunyikan sejumlah besar peluncur di bunker dan gua bawah tanah yang mampu diaktifkan kembali dalam waktu singkat, meskipun telah diserang habis-habisan.
Perpecahan internal di tubuh militer Iran dan penggunaan taktik umpan (decoy) turut memperumit penilaian kemampuan nyata Iran. Beberapa pejabat intelijen menyebut bahwa kemampuan Iran untuk meluncurkan serangan masif masih tetap ada, meskipun jumlah serangan rudal dan drone menurun drastis, sekitar 90 persen, dari awal konflik.
Sejumlah pejabat Amerika menilai bahwa keberhasilan dalam mengukur kekuatan Iran menjadi semakin sulit karena strategi Iran yang cerdik, termasuk penggunaan umpan dan perlindungan bunker yang sulit dijangkau. Hal ini menyebabkan Washington dan sekutu sulit memastikan kapan dan sejauh mana Iran mampu mengulangi serangan besar, sehingga klaim keberhasilan AS perlu dipertanyakan secara kritis.














Komentar (0)