Lewati ke konten utama

Kasus Malaria Masih Tinggi di Mimika, Pemuda Muslim Dorong Pelajar Jadi Agen Pencegahan

Redaksi Fajar PapuaPenulis
22.02 WIT4 menit baca70 dibaca
Rahadian
RahadianFoto / Mimika
Bagikan berita ini
Aa

Timika, fajarpapua.com – Kabupaten Mimika masih menghadapi persoalan serius dalam pengendalian malaria. Meski jumlah kasus positif malaria pada 2026 mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya, Mimika masih menjadi daerah dengan kasus malaria tertinggi di Provinsi Papua Tengah.

Berdasarkan pembaruan data hingga 22 September 2026, tercatat sebanyak 117.910 kasus positif malaria di Kabupaten Mimika. Jumlah tersebut menurun dibandingkan 2025 yang mencapai 190.568 kasus positif. Namun, tingginya angka kasus menunjukkan malaria masih menjadi persoalan kesehatan yang membutuhkan perhatian bersama.

Ketua Pimpinan Wilayah Pemuda Muslimin Indonesia (PMI) Papua Tengah, Rahadian, menilai upaya pengendalian malaria tidak boleh hanya berfokus pada pengobatan warga yang telah terinfeksi.

Menurutnya, langkah pencegahan perlu diperkuat dengan melibatkan seluruh lapisan masyarakat, termasuk pelajar, mahasiswa, organisasi kepemudaan hingga pengelola rumah kos.

“Penanganan malaria jangan hanya terfokus pada orang yang sudah mengalami gejala atau sudah positif, langkah pencegahan juga harus dimaksimalkan,” kata Rahadian, Sabtu (3/10/2026).

Ia mendorong pelajar menjadi salah satu sasaran utama edukasi malaria. Menurutnya, pelajar memiliki posisi strategis karena pengetahuan yang diperoleh di sekolah dapat diterapkan dan disampaikan kembali kepada keluarga maupun lingkungan tempat tinggal.

“Kaum pelajar juga harus jadi target edukasi, karena mereka ini bisa jadi agen di rumah dan lingkungannya untuk mengajak keluarga dan tetangga menciptakan lingkungan rumah yang sehat,” ujarnya.

Rahadian menegaskan, pengendalian malaria tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah maupun tenaga kesehatan. Tingginya kasus di Mimika membutuhkan gerakan bersama dengan melibatkan seluruh unsur masyarakat.

Ia meminta Dinas Kesehatan menggandeng sekolah, perguruan tinggi, mahasiswa dan organisasi kepemudaan untuk memperluas kampanye pencegahan malaria hingga ke lingkungan masyarakat.

“Dinas kesehatan harus libatkan setiap elemen untuk sama-sama tuntaskan kasus malaria di Mimika. Ajak anak sekolah, mahasiswa atau organisasi kepemudaan yang ada di Timika. Karena kasus malaria ini juga jadi tanggung jawab bersama,” katanya.

Warga Pendatang dan Penghuni Kos Perlu Dilibatkan

Rahadian juga menyoroti tingginya mobilitas penduduk di Mimika. Banyak warga datang ke Timika untuk bekerja dan sebagian tinggal di rumah kos. Kondisi tersebut, menurutnya, perlu menjadi perhatian dalam strategi pencegahan malaria.

Ia mendorong pemilik rumah kos ikut berperan memberikan edukasi kepada penghuni mengenai kebersihan lingkungan dan langkah-langkah pencegahan malaria.

“Di Timika kan banyak orang yang datang fokusnya cari uang, banyak yang ngekos. Mereka ini juga harus diajak untuk sama-sama jaga lingkungan. Setiap pemilik kos juga harus diajak untuk edukasi penyewa kosnya,” ujarnya.

Selain menjaga kebersihan lingkungan, masyarakat juga dinilai perlu memahami perilaku nyamuk agar langkah pencegahan dapat dilakukan secara lebih tepat.

Rahadian mengingatkan bahwa masyarakat Mimika hidup di wilayah yang menjadi habitat nyamuk, sehingga menjaga lingkungan menjadi salah satu bagian penting dalam mengurangi risiko penularan malaria.

“Kita ini tinggal di wilayah yang jadi habitatnya nyamuk, jadi kita yang harus pintar-pintar jaga lingkungan. Saya pikir masyarakat juga harus diedukasi soal perilaku nyamuk supaya masyarakat juga bisa antisipasi,” katanya.

Kepatuhan Minum Obat Jadi Perhatian

Di sisi lain, Rahadian mengingatkan warga yang telah dinyatakan positif malaria agar mematuhi petunjuk tenaga kesehatan dan menyelesaikan pengobatan sesuai ketentuan.

Menurutnya, kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan menjadi bagian penting dalam pengendalian malaria, terlebih Mimika memiliki mobilitas penduduk yang cukup tinggi.

“Mobilitas masyarakat di Timika bisa dibilang cukup padat, khususnya di tengah kota. Makanya kepatuhan minum obat itu jadi salah satu kunci utama yang harus tertanam dalam mindset masyarakat itu sendiri,” ujarnya.

Rahadian pun mengajak masyarakat, terutama pelajar dan generasi muda, tidak menjadi penonton dalam persoalan malaria. Pemuda, kata dia, dapat mengambil peran mulai dari lingkungan terkecil, yakni rumah dan tempat tinggal masing-masing.

Ia menegaskan, menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat bukan hanya untuk mencegah malaria, tetapi juga mendukung produktivitas generasi muda Mimika.

“Kami selaku organisasi kepemudaan mengajak seluruh masyarakat, khususnya anak-anak muda dan pelajar yang ada di Mimika, untuk mari kita sama-sama jaga lingkungan dan rumah yang bersih. Karena kalau kita sehat, kita juga akan jadi lebih produktif,” pungkasnya.