Jayapura, fajarpapua.com – Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jayapura, Lefinus Ragainaga, menyatakan kabut asap yang menyelimuti wilayah Kabupaten Jayapura sejak dua minggu terakhir bukan disebabkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), melainkan dipicu kelembapan dan suhu udara yang tinggi.
Penjelasan tersebut disampaikan Lefinus berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), menyusul dugaan masyarakat bahwa kabut asap tersebut berkaitan dengan kebakaran hutan di sejumlah wilayah Papua.
“Kabut asap ini sudah terjadi sejak dua minggu lalu. Setelah kami mendapat informasi dari BMKG, masyarakat mungkin mengira kabut ini akibat kebakaran hutan dan lahan di Manokwari, Papua Selatan, atau Boven Digoel. Namun, kabut ini disebabkan kelembapan dan suhu yang tinggi, bukan dampak karhutla,” jelas Lefinus, Senin (12/10/2026).
Terkait kejadian karhutla, Lefinus mengatakan sejumlah kebakaran di wilayah Kabupaten Jayapura telah ditangani petugas pemadam kebakaran. Salah satunya kebakaran di wilayah Depapre yang langsung ditangani agar api tidak meluas.
Meski demikian, penyebab kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Jayapura belum diketahui secara pasti, apakah akibat aktivitas manusia atau faktor alam.
Ia mengimbau masyarakat yang hendak membuka lahan perkebunan agar tidak menggunakan cara membakar. Pasalnya, kondisi hutan dan alang-alang yang mulai mengering berpotensi membuat api cepat merambat dan meluas.
“Saat ini kami sedang menyiapkan posko karhutla untuk tiga bulan ke depan sebagai langkah antisipasi. Kami juga bersiaga dan terus berkoordinasi dengan pihak internal maupun eksternal, termasuk TNI, Polri, Basarnas, dan BMKG, jika terjadi kebakaran hutan dan lahan,” ujarnya.
Lefinus menyebutkan, hingga saat ini tercatat 12 kejadian kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Jayapura. Seluruh kejadian tersebut telah ditangani dengan upaya pemadaman untuk mencegah api merambat ke wilayah lain.
Rata-rata kebakaran terjadi di kawasan pegunungan, di antaranya Gunung Bakso dan kawasan Gunung Cyclop di belakang RS Yowari, serta sejumlah lokasi lainnya.
“Kebakaran ini sudah terjadi sejak 25 Agustus 2026. Namun, titik apinya tidak terlalu besar sehingga bisa ditangani secara manual bersama masyarakat,” ungkapnya.
Ia menambahkan, kabut yang dipicu kondisi kelembapan dan suhu udara tersebut baru pertama kali terjadi di Kabupaten Jayapura. Meski demikian, masyarakat diimbau tetap tenang, tetapi waspada terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan, terutama saat kondisi vegetasi mengering.(hsb)














