Lewati ke konten utama

27 Penerbangan Terdampak Asap Karhutla, Rute Sentani-Timika dan Wamena Delay

Redaksi Fajar PapuaPenulis
16.04 WIT3 menit baca180 dibaca
Sejumlah penumpang yang menunggu di Bandara Internasional Sentani
Sejumlah penumpang yang menunggu di Bandara Internasional SentaniFoto / Mimika
Bagikan berita ini
Aa

Jayapura, fajarpapua.com – Sebanyak 27 penerbangan terdampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah, termasuk Merauke, Manokwari, Boven Digoel, dan Papua Nugini (PNG).

Gangguan operasional penerbangan akibat penurunan jarak pandang tersebut terjadi di sejumlah bandara, yakni Bandara Internasional Sentani, Bandara Timika, Bandara Wamena, Bandara Boven Digoel, dan Bandara Manokwari, sejak 10 hingga 13 Oktober 2026.

Branch Communication and CSR Department Head PT Angkasa Pura Indonesia, Syahrial Sukanta Sembiring, mengatakan sejumlah penerbangan dari Bandara Sentani maupun dari bandara lain menuju Sentani mengalami keterlambatan. Bahkan, terdapat penerbangan kargo yang dibatalkan.

“Untuk hari ini ada beberapa penerbangan yang delay dari Bandara Sentani maupun dari bandara lain ke Sentani. Termasuk pesawat kargo ada yang cancel atau batal terbang, jadi ada tujuh penerbangan yang hari ini delay tujuan Wamena dan Timika,” jelas Syahrial, Selasa (13/10/2026).

Ia mengatakan, gangguan kabut asap tersebut berdampak pada penurunan jarak pandang sehingga berpengaruh terhadap keselamatan operasional penerbangan. Karena itu, pihak bandara terus berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk memantau kondisi cuaca serta jarak pandang di bandara tujuan.

“Selama kami melakukan koordinasi dengan BMKG, kejadian ini mulai berlangsung pada 10 Oktober 2026 sampai sekarang. Kita juga terus berkoordinasi untuk memantau perkembangan kondisi cuaca di Bandara Sentani,” ujarnya.

Syahrial menjelaskan, penerbangan kargo yang dibatalkan salah satunya merupakan rute menuju Wamena. Sementara itu, penerbangan penumpang juga berpotensi mengalami keterlambatan sesuai kondisi cuaca dan jarak pandang di bandara tujuan. Bahkan, sejumlah penerbangan mengalami delay hingga lebih dari dua jam.

Menurutnya, penundaan penerbangan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan informasi terbaru dari BMKG. Evaluasi terus dilakukan untuk memastikan kondisi memungkinkan pesawat lepas landas maupun mendarat dengan aman.

“Kami bersama petugas lainnya melakukan pemantauan secara bertahap. Jika kondisi cuaca sudah memungkinkan, penerbangan dapat dilanjutkan. Namun, jika jarak pandang belum memenuhi persyaratan keselamatan, penerbangan akan ditunda sampai dinyatakan pesawat bisa terbang,” katanya.

Ia mengungkapkan, penerbangan dengan tujuan Wamena dan Timika menjadi rute yang paling sering mengalami keterlambatan selama gangguan kabut asap berlangsung.

Syahrial menegaskan, penundaan penerbangan merupakan langkah untuk mengutamakan keselamatan penumpang dan keamanan operasional. Penerbangan tidak akan dipaksakan apabila jarak pandang dinilai belum memenuhi persyaratan keselamatan.

Sebagai pengelola bandara, PT Angkasa Pura Indonesia juga berupaya menjaga kualitas pelayanan dengan menyampaikan informasi perkembangan penerbangan secara jelas kepada penumpang guna menghindari kesalahpahaman.

Ia menambahkan, gangguan penerbangan lebih banyak terjadi pada rute-rute di wilayah Papua yang terdampak kabut asap. Sementara itu, penerbangan dari Jakarta dan wilayah Indonesia bagian barat menuju Jayapura sejauh ini belum mengalami gangguan serupa.

“Kami terus memantau perkembangan kondisi cuaca bersama BMKG,” tutupnya. (hsb)