Lewati ke konten utama

UPBU Timika Minta Penumpang Pahami Penundaan Penerbangan Akibat Asap Demi Keselamatan

Redaksi Fajar PapuaPenulis
09.45 WIT3 menit baca104 dibaca
Kepala UPBU Mozes Kilangin Timika, Muchammad Nafiek.
Kepala UPBU Mozes Kilangin Timika, Muchammad Nafiek.Foto / Mimika
Bagikan berita ini
Aa

Timika, fajarpapua.com – Kepala Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Mozes Kilangin Timika, Muchammad Nafiek, meminta masyarakat memahami penundaan hingga perubahan jadwal penerbangan akibat kabut asap yang mengganggu jarak pandang di wilayah Mimika, Papua Tengah.

Nafiek menegaskan, keputusan menunda atau mengalihkan penerbangan merupakan langkah untuk menjaga keselamatan penumpang dan seluruh awak pesawat, terutama ketika jarak pandang tidak memenuhi standar operasional penerbangan.

“Kami harapkan kondisi ini dapat dipahami oleh masyarakat yang tidak jadi terbang ataupun tertunda, karena ini semata-mata untuk menghindari hal-hal yang justru bisa membahayakan,” kata Nafiek, Selasa (13/10).

Ia menjelaskan, standar dan prosedur keselamatan penerbangan tidak boleh dilanggar hanya demi mempertahankan jadwal keberangkatan. Memaksakan penerbangan ketika kondisi tidak memenuhi persyaratan dapat menimbulkan risiko keselamatan.

“Bahaya ketika standar, prosedur, serta batasan-batasan itu dilampaui. Ini yang tidak ingin kami alami. Jadi, mohon pengertian masyarakat ketika keberangkatannya tertunda atau tidak jadi, karena semata-mata untuk menjaga keselamatan,” ujarnya.

Di tengah kondisi tersebut, UPBU Mozes Kilangin berupaya mengoptimalkan seluruh kemampuan yang dimiliki untuk mengurangi dampak kabut asap terhadap operasional penerbangan.

Nafiek mengungkapkan, jam operasional normal Bandara Mozes Kilangin Timika berlangsung mulai pukul 05.30 hingga 16.00 WIT. Namun, dalam kondisi tertentu, pihak bandara berupaya memperpanjang waktu operasional guna mengakomodasi kebutuhan penerbangan.

Bahkan, pada Senin malam (12/10), jam operasional bandara diperpanjang hingga pukul 23.00 WIT dengan mengerahkan seluruh kemampuan yang tersedia.

“Kami dari bandara berusaha mengoptimalkan seluruh kemampuan kami, karena kondisi ini pasti berdampak terhadap operasional penerbangan,” katanya.

Meski demikian, Nafiek memperkirakan gangguan penerbangan akibat asap berpotensi berlangsung cukup lama. Prediksi tersebut mengacu pada informasi dan pemantauan kondisi atmosfer dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Karena itu, pihaknya akan terus memaksimalkan pelayanan bandara untuk mengantisipasi perubahan jadwal, penundaan, maupun dampak operasional lainnya selama kondisi asap belum membaik.

“Kami akan berusaha mendukung dengan mengoptimalkan kemampuan bandara untuk mengurangi dampak asap terhadap jadwal penerbangan yang berubah atau tertunda. Sebab, efeknya ini tidak hanya terjadi satu atau dua hari,” jelasnya.

Lebih lanjut, Nafiek mengatakan pihaknya telah melaporkan kondisi tersebut kepada pimpinan untuk mendorong penanganan yang lebih luas, mengingat sumber asap diduga berasal dari luar wilayah Mimika.

Berdasarkan pemantauan yang disampaikannya, jumlah titik api di sekitar Mimika dan wilayah Papua Tengah tidak terlalu banyak. Namun, asap yang berdampak terhadap penerbangan diduga merupakan kiriman dari wilayah lain.

“Kami sudah melaporkan kepada pimpinan agar ada penanganan yang sifatnya lebih luas. Kalau dilihat di wilayah sekitar Mimika maupun Papua Tengah, titik-titik apinya tidak banyak, tetapi asap ini merupakan kiriman dari tempat lain,” ungkapnya.

UPBU Mozes Kilangin berharap kondisi segera membaik sehingga operasional penerbangan dapat kembali berjalan normal. Sementara itu, masyarakat yang hendak bepergian melalui Bandara Mozes Kilangin diimbau terus memantau informasi terbaru dari maskapai terkait jadwal keberangkatan masing-masing.(ron)