BERITA UTAMAFeatured

Yang Unik di Jalan Bougenville Timika, Antara Kuningnya Emas dan ‘Kuningnya’ Nasi Kuning

pngtree vector tick icon png image 1025736
60
×

Yang Unik di Jalan Bougenville Timika, Antara Kuningnya Emas dan ‘Kuningnya’ Nasi Kuning

Share this article
Jalan
Jalan Bougenville Timika pada malam hari.

Timika, fajarpapua.com – Jalan Bougenville, pasti sebagian besar warga Kota Timika begitu mendengar nama jalan itu khayalannya melayang ke perhiasan emas.

Klik Gambar Untuk Informasi Selanjutnya
Klik Gambar Untuk Informasi Selanjutnya

Yup, tidak salah. Hal ini karena sejak puluhan tahun lalu, jalan yang memiliki panjang kurang dari setengah kilometer itu memang dikenal sebagai pusat toko penjualan emas di Kota Timika pada siang hari.

Tapi kondisi itu akan berubah 360 derajat jika memasuki malam hari.

Ya… Jalan Bougenville yang biasanya dipenuhi dengan lalu lalang orang yang bertransaksi emas, begitu malam orang lalu lalang mencari kuliner kesukaannya yang memang banyak dijual di tempat itu.

Wartawan fajarpapua.com yang menyusuri jalan itu pada Selasa malam setidaknya mencatat ada sekitar 25 penjual kuliner yang beroperasi dari pagi hingga malam hari.

Dan dari jumlah tersebut, penjual kuliner nasi kuning paling mendominasi. Ada 16 hingga 18 penjual diketahui menjajakan makanan khas Indonesia Timur tersebut.

Artinya, jika dikalkulasi setiap 20 meter disepanjang jalan itu terdapat satu penjual nasi kuning, sehingga tidak salah jika ruas jalan Bougenville disebut sentra nasi kuning Timika.

Luar biasanya lagi, meski menu atau lauk serta garnis yang dijual pun hampir seragam yaitu ayam, ikan, kering tempe, mi goreng dan sambal tapi tidak terlihat persaingan diantara para penjual.

“Rejeki sudah ada yang atur mas. Jadi biar banyak penjual, setiap harinya dagangan saya habis,” ujar Pak De, salah satu penjual yang berjualan pertama kali di ruas jalan tersebut.

Warga Banyuwangi ini mengaku, ia menggelar dagangannya pada sore hari hingga dini hari.

“Jika ramai jam 12 malam sudah habis. Tetapi terkadang ya sampai pagi,” ujarnya.

Diakuinya, pada awal-awal berjualan hanya sedikit pedagang nasi kuning. “Sekarang, hampir tiap emperan toko ada orang jualan. Tapi, pembeli masih stabil, apalagi harga jual juga murah disini,” tuturnya. (mas)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *