BERITA UTAMAPAPUA

Sandera Pilot Susi Air Tindakan Sia-sia, Begini Bunyi Surat Terbuka Dosen Universitas Cenderawasih untuk Egianus Kogoya….

cropped 895e2990 d422 4061 9705 e533253f1607.jpg
11
×

Sandera Pilot Susi Air Tindakan Sia-sia, Begini Bunyi Surat Terbuka Dosen Universitas Cenderawasih untuk Egianus Kogoya….

Share this article
c2e6abfc b423 4bca 918d 37556ee2c507
Pilot Susi Air berkewarganegaraan Selandia Baru Philips Marthenz terlihat berada diantara kelompok KKB Papua pimpinan Egianus Kogoya yang menyanderanya.Foto: Istimewa

Timika, fajarpapua.com– Aksi koboi KKB Papua Wilayah Ndugama dibawah pimpinan Egianus Kogoya mendapat perhatian berbagai pihak termasuk dari akademisi Universitas Cenderawasih.

Dalam pandangan Marinus Mesak Yaung yang juga Pengamat Politik dan Sosial ini menilai tindakan itu sia-sia dan tidak memiliki pengaruh terhadap perjuangan kelompok yang Pro Kemerdekaan Papua.

Ads

Penilaian itu disampaikan oleh Marinus Yaung dalam surat terbuka yang diunggah di akun Facebook @Marinus Yaung yang diperoleh fajarpapua.com pada Rabu (15/2).

Dibawah ini isi lengkap surat terbuka tersebut:

Surat terbuka saya kepada saudara Egianus Kogoya dan kelompok sipil bersenjatanya di tanah Ndugama, Papua Pegunungan.

Aksi Propaganda kelompok KKB yang kamu pimpin sangat keliru dengan menyandera seorang Warga Negara Selandia Baru.

Tindakan KKB Egianus Kogoya dengan melakukan penyanderaan terhadap Pilot Philips Marthenz dari Selandia Baru, untuk dijadikan instrumen propaganda dan diplomasi agenda Papua Merdeka, tidak akan efektif dan bahkan memperburuk citra KKB Egianus Kogoya di mata komunitas internasional.

Menjadikan warga Selandia Baru sebagai alat diplomasi Papua Merdeka, menurut hemat saya tidak membantu sama sekali mewujudkan agenda Papua Merdeka yang diusung KKB Egianus Kogoya.

Ada beberapa alasan yang bisa saya kemukan.

Pertama, Selandia Baru tidak punya kepentingan di Papua. Memang ada beberapa anggota Parlemen mendukung Papua Merdeka. Namun itu bukan mewakili pandangan dan sikap negara dan pemerintah Selandia Baru terhadap masalah Papua. Tidak ada untungan bagi kepentingan nasional Selandia Baru terlibat dalam masalah Papua.

Kedua, kepentingan negara diatas kepentingan individu atau warga negara. Negara Selandia Baru tidak akan merusak hubungan diplomatiknya dengan Indonesia hanya karena satu warganya disandera KKB di Nduga, Papua. Tidak mungkin Selandia Baru bisa memenuhi tuntutan KKB Egianus Kogoya untuk menekan Indonesia mengakui kemerdekaan Papua. Negara Selandia Baru akan membiarkan Pilot Susi Air tersebut mati dari pada harus menekan Indonesia soal Papua.

Ketiga, menyerang, mengganggu dan merusak penerbangan sipil adalah salah satu pelanggaran serius terhadap hukum perang atau hukum humaniter Internasional. Kelompok KKB Egianus Kogoya sudah berkali – kali melakukan kekerasan yang bertentangan dengan hukum humaniter internasional dan prinsip – prinsip piagam PBB.

Keempat, melakukan tindakan penyanderaan warga negara asing itu, seperti kita menginjak – nginjak harga diri dan martabat suatu bangsa dan negara. Kelompok KKB Egianus Kogoya mereka membutuhkan Selandia Baru untuk mendukung agenda politik Papua merdekanya. Namun dengan menyandera Pilot Philips Marthenz, itu seperti KKB Egianus Kogoya sedang melempar kotoran tai ke muka pemimpin dan elit politik Selandia Baru. Sedang menghina dan merendahkan harkat dan martabat negara Selandia Baru.

Kelima, kalau pilot Philips Marthenz ini salah satu simbol politik di negara Selandia Baru, barulah bisa efektif dan kuat pengaruhnya terhadap kepentingan agenda Papua Merdeka yang diusung KKB Egianus Kogoya. Karena pilot Philips ini bukan salah satu simbol politik Selandia Baru, jadi penyanderaan ini upaya menjaring angin yang sia – sia dari KKB Egianus Kogoya.

Keenam, senjata mesin yang ada ditangan kalian KKB Egianus Kogoya, sebentar lagi akan menjadi barang rongsokan atau bestu ( besi tua) karena saya dapat informasi dari anak buahmu sendiri bahwa peluru kalian sudah sedikit. Sehingga Egianus perintahkan untuk kembali gunakan senjata tradisional sambil menunggu pembelian peluru – peluru baru. Saran saya, sebelum kalian diserbuh dengan kekuatan penuh pasukan keamanan Indonesia, dan terjadi pembantaian, alangkah bijaksana dan untuk keselamatan kalian, segera bebaskan pilot Philips Marthez.

Demikian surat terbuka ini, saya sampaikan kepada komandan KKB Egianus Kogoya di hutan belantara tanah Ndugama. Tuhan Yesus berkati.

Mari kita hidup berdamai dengan Tuhan dan berdamai dengan sesama anak bangsa di atas tanah Papua.

Marinus Mesak Yaung
Dosen Universitas Cenderawasih

Hingga berita ini dimuat, surat terbuka tersebut telah dibaca para pengikut akun Facebook @ Marinus Yaung yang mencapai 14 ribu orang serta dibagikan kesejumlah platform media sosial lainnya. (mas)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *