Lewati ke konten utama

Lemasa Nilai Tewasnya Dua Pendaki Gunung Cartensz Akibat PT Tropik Abaikan Masyarakat Adat

Redaksi FPPenulis
05.27 WIT3 menit baca60 dibaca
IMG 20250302 WA0081
IMG 20250302 WA0081Foto / MIMIKA
Bagikan berita ini
Aa

Timika, fajarpapua.com – Direktur Eksekutif Lembaga Musyawarah Adat Suku Amungme (Lemasa), Stingal Jhonny Beanal menegaskan larangan aktivitas pendakian Gunung Cartenz oleh PT Tropik tanpa koordinasi dan negosiasi dengan masyarakat adat setempat.

Pernyataan ini disampaikan menyusul insiden tewasnya dua wisatawan dalam pendakian baru-baru ini, yang menurut Beanal, sebenarnya dapat diantisipasi jika perusahaan tersebut mau mendengarkan peringatan dari lembaga adat.

Beanal menjelaskan Lemasa telah berulang kali mengirim surat kepada PT Tropik dan maskapai penerbangan terkait untuk menghentikan aktivitas pendakian di Gunung Cartenz tanpa persetujuan masyarakat adat. Gunung tersebut merupakan wilayah sakral bagi masyarakat adat Suku Amungme, khususnya empat marga yang mendiami di bawah kaki Gunung Cartenz di Lembah Tsinga dan memiliki hak adat atas wilayah tersebut.

“Kami sudah feeling buruk bahwa sesuatu yang tidak diinginkan akan terjadi. Kami sudah wanti-wanti, tapi PT Tropik tetap nekat membawa wisatawan asing dan karyawannya untuk mendaki,” ujar Beanal.

Ia menegaskan kekuatan alam di Gunung Cartenz jauh lebih dahsyat daripada kemampuan manusia. “Ini bukan tentang sakit atau kecelakaan biasa, tetapi tentang kekuatan alam yang tidak bisa diremehkan. Nyawa manusia bisa terancam jika kita tidak menghormati alam dan adat,” tegasnya.

Beanal menyerukan agar PT Tropik segera duduk bersama dengan lembaga adat, tokoh-tokoh masyarakat, dan para tetua adat untuk melakukan negosiasi dan ritual adat sebelum melanjutkan aktivitas pendakian. “Kami ingin keamanan, kenyamanan, dan keselamatan semua pihak. Kami tidak ingin ada korban jiwa lagi ke depan,” katanya.

Pimpinan Lemasa itu juga menyampaikan larangan terhadap PT Tropik untuk tidak lagi membawa wisatawan asing atau melakukan pendakian di Gunung Cartenz, karena Lemasa melihat adanya pelanggaran hingga memakan korban jiwa dari PT Tropik. Larangan ini akan tetap berlaku hingga ada penyelesaian dan kesepakatan antara perusahaan dan masyarakat adat.

“Selama belum ada negosiasi dan ritual adat, PT Tropik tidak boleh lagi membawa wisatawan atau melakukan pendakian di wilayah kami,” tegas Beanal.

Ia menambahkan wilayah adat Amungme termasuk Lembah Tsinga, adalah daerah yang sangat sakral dan memiliki nilai spiritual tinggi bagi masyarakat setempat. Oleh karena itu, setiap aktivitas di wilayah tersebut harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian dan penghormatan terhadap adat istiadat setempat.

“Kami meminta semua pihak, termasuk instansi terkait, tokoh masyarakat, dan perusahaan, untuk bekerja sama dengan kami. Mari kita duduk bersama, lakukan hal-hal yang baik, dan utamakan keselamatan. Kami tidak ingin ada korban jiwa lagi ke depan,” pungkas Beanal.

Dengan sikap tegas ini, Lemasa berharap PT Tropik dan perusahaan lain dapat lebih menghormati hak-hak adat masyarakat Amungme serta mengutamakan keselamatan dan keamanan dalam setiap aktivitas yang dilakukan di wilayah adat mereka. (moa)

Komentar (0)

Komentar disimpan di perangkat Anda untuk pratinjau UI. Integrasi server mengikuti modul komentar yang sudah ada di admin.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.