Timika, fajarpapua.com – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Mimika, Ester Komber, mendesak penindakan tegas terhadap kasus pembullyan fisik yang terjadi di SMP Negeri 7 Timika.
Ia menyebut kasus kekerasan tersebut sebagai bentuk kegagalan pengawasan dan pengendalian yang tidak hanya melibatkan pelaku, tetapi juga tanggung jawab pihak sekolah, khususnya kepala sekolah.
"Ini bukan hanya tentang anak yang membully, tapi juga soal lemahnya pengawasan dari sekolah. Kepala sekolah harus turut dimintai pertanggungjawaban. Bila terbukti lalai, sanksi administratif harus dijatuhkan," tegas Ester Komber dalam keterangannya, Senin (5/5).
Menurutnya, pembiaran atau keterlambatan penanganan kasus seperti ini mencerminkan buruknya manajemen pengelolaan sekolah.
Ia menilai pentingnya evaluasi terhadap peran kepala sekolah sebagai penanggung jawab tertinggi di lingkungan pendidikan.
“Kalau kejadian ini bisa terjadi dan terulang, maka patut dipertanyakan mekanisme pengawasan di sekolah tersebut. Kepala sekolah tidak bisa lepas tangan,” ujarnya.
Ester menegaskan sanksi terhadap pelaku pembullyan harus diterapkan secara tegas sesuai aturan, baik secara internal sekolah maupun melalui proses hukum jika diperlukan.
Hal ini, menurutnya, penting untuk menciptakan efek jera dan mencegah budaya kekerasan di lingkungan pendidikan.
Selain penindakan, Ester juga meminta Dinas Pendidikan Kabupaten Mimika untuk mengambil langkah preventif yang nyata, termasuk melakukan rotasi kepala sekolah jika ditemukan unsur kelalaian berulang.
“Ini momentum evaluasi. Jika kepala sekolah tidak mampu menciptakan lingkungan belajar yang aman, maka sudah saatnya dilakukan pembinaan atau penggantian,” tambahnya.
Lebih jauh, ia mendorong penerapan kurikulum anti perundungan dan pendidikan karakter sebagai solusi jangka panjang. Menurutnya, siswa tidak hanya butuh kecerdasan akademik, tetapi juga pembinaan moral dan empati sosial.
"Stop pembullyan harus dimulai dari keseriusan semua pihak, termasuk pemimpin sekolah. Kita butuh ketegasan, bukan sekadar imbauan," pungkasnya.
Kasus ini, lanjut Ester, harus menjadi peringatan keras bagi semua pihak untuk tidak menyepelekan kekerasan di sekolah, serta pentingnya kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan pemerintah dalam pengawasan perilaku siswa.(moa)








